Mahasiswa UNEJ Raih Juara 1 Dalam Debat Konstitusi Mahasiswa Antar Perguruan Tinggi Se-Indonesia Tahun 2017

DSC_0990

Jember, 26 Juli 2017

Debat Konstitusi Mahasiswa Antar Perguruan Tinggi Se-Indonesia Tahun 2017 diadakan mulai tanggal 25 – 27 Juli 2017 yang pembukaannya langsung dibuka dengan Seminar Nasional yang diadakan di Pendopo PEMKAB Jember, acara yang dibuka langsung oleh dr. Hj. Faida, MMR selaku Bupati Jember ditemani oleh Sekjen Mahkamah Konstitusi telah menandatangi MOU. Acara yang dihadiri sekitar 350 orang yang terdiri dari: mahasiswa, guru pendidikan kewarganegaraan, peserta lomba debat, NGO, dan ASN daerah (25/7).

Sedangkan hari ini, acara dilanjutkan dengan debat yang diikuti sekitar 90 mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia. Acara yang dilangsungkan mulai pukul 08.00 – 20.00 WIB merupakan acara debat dalam bentuk kategori Penyisihan group  dan semi final. Sekitar 24 perguruan tinggi di Indonesia masing-masing setiap perguruan tinggi dibagi 1 tim 3 orang untuk mengikuti debat konstitusi yang itu akan menimbulkan pro dan kontra.

Menurut Moh.Nurtamini, selaku perwakilan panitia MK, menegaskan debat konstitusi melewati 3 tahapan diantaranya: tahapan eliminasi itu kami seleksi artikel ilmiah dan video simulasi debat, seleksi yang terbaik sekitar 24 dimasing-masing regional, dan tahap regional kami mempunyai 3 regional seperti regional barat dilaksanakan di Universitas Islam Riau, regional timur dilaksanakan di Universitas Jember , dan regional tengah dilaksanakan di Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Nurtamini lantas menambahkan, untuk di regional timur ini ada 24 tim terbaik yang akan bertanding di Universitas Jember.

“tujuan debat sendiri untuk mensosialisasikkan UUD terutama pasca kepada mahasiswa, yang paling penting sebenarnya yaitu memberikan media pembelajaran bagi mahasiswa dalam menyampaikan pendapat yang secara konstruktif, tidak hanya berdebat yang tidak jelas akan tetapi ada mosi yang mereka pedebatkan seperti apa,” imbuhnya.

Sekitar 13 juri yang hadir dalam acara debat hari ini dibagi menjadi 4 kelas yang masing-masing kelas diisi 1 tim 3 orang. Persiapan yang dilaksanakan tidak dikerjakan sendiri oleh mahkamah konstitusi melainkan kerjasama oleh fakultas hukum Unej. Secara teknis panitia lokal fakultas hukum sebagai penyelenggara, sedangkan mahkamah konstitusi dari pusat pendidikan pancasila dan konstitusi mensurvervisi dalam melaksanakan kegiatannya.

Selain itu, ada beberapa topik / mosi  yang diperdebatkan tentunya ruang lingkupnya tentang isu – isu ketatanegaraan dan dinamika perkembangan ketatanegaraan di Indonesia, seperti contoh topiknya: urgensi penerapan wajib militer itu menjadi pro kontra ditengah masyarakat dan kewenangan pemerintah untuk membatalkan perda.

Zainal arifin, selaku juri debat konstitusi dari UGM, memaparkan “ sistem penilaian seperti biasa yaitu: harus menampilkan gagasan bukan hanya kritik saja melainkan solusi, menampilkan kedalaman materi, dan kerjasama tim,”tuturnya.

Dia juga menambahkan “ harapannya mahasiswa wajib membaca lebih kuat dalam artian lebih memahami isi materi dan menyampaikan materinya lebih luas lagi tanpa harus melihat teks yang ada.”

Salah satu peserta debat, Moh. Hamdafiqroh, Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan “ mencari pengalaman yang baru karena debat merupakan hal baru bagi hidup saya apalagi sekarang saya lagi mengikuti debat konstitusi, harapannya saya semoga saya dan kawan-kawan bisa menang serta membawa nama baik almamater saya,” imbuhnya.

Setelah melalui proses yang panjang tim dari Fakultas Hukum Universitas Jember berhasil meraih juara 1. Tim FH Universitas Jember mampu mematahkan argumen-argumen yang disampaikan oleh tim lawan dari Universitas Khairun Ternate. Meteri yang diperdebatkan adalah seputar aturan dalam polemik PILKADA.

“Alhamdulillah kami berada pada tim Pro dalam penentuan ambang batas selisih suara dalam Pilkada. Kami bersama tim mencoba menyusun materi yang mampu mematahkan semua argumen tim lawan sebagai tim kontra,” ujar Setiawan selaku perwakilan tim FH UNEJ.

Sementara itu Rektor Universitas Jember yang turut menyaksikan babak final mangaku bangga kepada para peserta. Menurutnya ini adalah bentuk aktualisasi keilmuan yang dimiliki oleh para peserta.

“Ini adalah media pembelajaran bagi para mahasiswa, baik dari tim yang pro ataupun kontra masing-masing harus bisa meyakinkan dewanjuri bahwa posisi mereka adalah benar. Sehingga nanti ketika terjun didunia kerja tidak hanya sekedar menjadi pendukung ataupun penentang namun keduanya didasarkan juga diasarkan pada keilmuan dan pemikiran yang masuk akal,” ujar Moh. Hasan.

Dalam sesi penutupan acara Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR hadir untuk menutup acara sekaligus memberikan hadiah kepada para pemenang. Dalam penutupannya Faida berjanji akan memberikan tambahan bonus bagi tim yang tampil sebagai juara.

“Saya kagum menyaksikan para peserta dalam menyampaikan pendapatnya secara ilmiah. Saya tidak bisa mengira-ngira siapa yang akan tampil sebagai juara karena kedua tim sama-sama hebat. Nanti kepada juara saya akan memberikan tambahan bonus kepada mereka,” ujar Faida.