Mahasiswa FMIPA Universitas Jember Latih Narapidana Membatik

Jember, 6 Juni 2016.

Lima mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember berinisiatif memberikan pelatihan membatik bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II Jember. Sudah dua bulan ini, Ria Amelia Wahyu, Atiqoh Hani, Wulan Nur, Fitri Khoiriyah dan M. Sholehudin, rutin mengunjungi Lapas Jember setiap hari Sabtu, guna memberikan pelatihan membatik bagi 20 orang narapidana. “Semula kami sempat ragu apakan para warga binaan di Lapas Jember mau menerima pelatihan membatik yang kami tawarkan, apalagi ini pengalaman pertama bagi kami masuk Lapas. Alhamdulillah, ternyata mereka antusias,” kata Ria yang didaulat menjadi ketua di sela-sela memberikan pelatihan (4/6).

Awalnya, kelima mahasiswa FMIPA ini berniat mengikuti Program Kreatifvitas Mahasiswa di bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diadakan oleh Kemenristekdikti. “Kami berusaha mencari ide kreatif apa yang kira-kira memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Pilihan kami jatuh pada pelatihan bagi narapidana, karena belum banyak mahasiswa yang menjalankan pengabdian masyarakat di Lapas, khususnya di Lapas Jember. Kalaupun ada, biasanya mahasiswa dari Fakultas Hukum yang memberikan pendampingan hukum,” tutur Atiqoh yang mahasiswi di jurusan Matematika ini.

Sementara pilihan memberikan pelatihan batik didasari oleh kenyataan, tiga dari anggota kelompok ini pernah mengecap pelatihan membatik semasa duduk di bangku SMA. “Kebetulan saya, Atiqoh dan Fitri pernah mendapatkan pelatihan membatik, jadi mengerti bagaimana proses membatik itu,” ujar Wulan yang asli Mojokerto ini. Pelatihan membatik juga diharapkan menjadi bekal bagi narapidana sesuai menjalani hukuman nanti. Selain itu, pihak pemerintah daerah Kabupaten Jember juga tengah gencar mengembangkan industri kreatif, diantaranya promosi batik Jember. Dalam memberikan pelatihan membatik kepada narapidana, kelima mahasiswa kampus Tegalboto menjalin kerjasama dengan salah satu produsen batik khas Jember di daerah Sumberjambe.

Ide memberikan pelatihan membatik, ternyata disambut gembira oleh para narapidana. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Gigih. Menurutnya ternyata tidak sulit untuk membatik, hanya memang perlu ketekunan agar hasilnya bagus. “Kami senang sekali dengan adanya pelatihan seperti ini, karena dapat mengisi waktu luang kami. Saya juga berminat untuk berusaha di bidang batik karena saya dengar harga batik tulis cukup mahal,” kata Gigih. Setiap hari Sabtu pagi, Gigih dan kawan-kawan sesama narapidana yang berjumlah 20 orang, diantaranya 4 orang narapidana perempuan, mendapatkan materi bagaimana membatik. Dari menggambar pola, membatik, pewarnaan, hingga membersihkan malam pada batik.

Kepedulian mahasiswa FMIPA Universitas Jember ini mendapatkan apresiasi dari pihak Lapas Jember. Menurut Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Jember, Rudy Tri Tjahjono, dengan jumlah penghuni lapas yang berjumlah 600 orang lebih, maka tidak semua narapidana dan tahanan dapat mengikuti program-program kegiatan kerja yang sudah disiapkan pihak Lapas Jember. “Pelatihan membatik seperti yang diberikan oleh mahasiswa FMIPA Universitas Jember sangat membantu para warga binaan dalam mengisi hari-harinya di lapas. Harapannya setelah mereka bebas, sudah memiliki keterampilan,” kata Rudy.

Tidak hanya memberikan materi pelatihan bagaimana membatik, keberlanjutan program ini juga menjadi perhatian. Dalam kesempatan yang sama, pembina program yang juga dosen jurusan Matematika FMIPA Universitas Jember, Ziaul Arif, menuturkan pihaknya sudah menggandeng Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Universitas Jember agar nanti program ini terus berjalan. Bahkan para mahasiswa FMIPA yang terlibat sudah menyusun buku panduan membatik lengkap beserta buku katalog batik Jember yang berisi motif-motif batik Jember. “Kami juga sudah menghubungi Dinas Sosial Kabupaten Jember, harapannya ada bantuan modal bagi narapidana yang telah usai menjalani hukuman dan berminat membuka usaha batik khas Jember,” pungkasnya.

Berinteraksi dengan para narapidana ternyata memberikan pengalaman berharga bagi kelima mahasiswa FMIPA. Jika di awal perkenalan mereka sempat kikuk, kini para mahasiswa malah menjadi sahabat para narapidana yang ikut dalam pelatihan membatik. “Kami sempat takut jika melihat penampilan mereka, apalagi dengan tato yang menghiasi tubuhnya. Tapi lama kelamaan kami jadi akrab. Sering juga menjadi tempat keluh kesah mereka, terutama bagi narapidana yang jarang dikunjungi keluarganya karena keterbatasan ekonomi atau halangan jarak,”  kata Sholehudin, satau-satunya pria di kelompok ini. (iim)

Leave us a Comment