Mahasiswa FKM Universitas Jember Ciptakan Masker Ken Arok Untuk Sadarkan Perokok

Jember, 1 November 2016

Rokok menjadi salah satu masalah pelik di Indonesia, karena berkaitan dengan banyak pihak dan melibatkan banyak kepentingan. Dari sisi kesehatan, gerakan untuk tidak merokok makin gencar disuarakan berbagai kalangan dengan berbagai cara dan memakai beragam media, terutama perlindungan bagi anak-anak terhadap bahaya rokok. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Aisyah Amin, M. Arif Hadi dan Firda Atika, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember. Mereka bertiga menciptakan Masker Ken Arok (Kenali Ancaman Merokok), media edukasi bahaya merokok bagi anak-anak, sekaligus sebagai alat menyadarkan para perokok.

“Ide awalnya bermula keprihatinan kami melihat banyak orang tua yang merokok di hadapan anak-anaknya, padahal selain berbahaya bagi kesehatan anak, orang tua yang merokok secara tidak langsung mengajari anak-anak untuk merokok juga,” jelas Aisyah yang ditemui di kampus FKM Universitas Jember (1/11). Aisyah lantas mengingatkan bahwa anak-anak memiliki imunitas yang lebih lemah dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga jika sering terpapar asap rokok bakal mudah sakit. Selain itu, anak-anak berada dalam tahap perkembangan yang memerlukan asupan oksigen lebih banyak agar metabolismenya berjalan sempurna. Jika oksigen sudah terpapar asap rokok, maka anak-anak yang bakal jadi korban.

FKM-Makassar3Keprihatinan tersebut kemudian mendorong ketiganya untuk menciptakan media promosi bahaya rokok yang diwujudkan dengan masker penutup hidung dan mulut. Masker yang biasa dipakai oleh banyak orang saat sakit, atau waktu mengendarai kendaraan bermotor ini ditambahi dengan pesan-pesan tertentu yang menggugah orang agar berhenti merokok. “Kami selipkan pesan yang kami harapkan bisa menyadarkan perokok agar tidak merokok sembarangan, terutama di depan anak-anak. Misalnya Ayah OK Tanpa Rokok, atau hotline pusat rehabilitasi bagi perokok,” tambah Arif, satu-satunya pria di tim ini.

“Masker sengaja dipilih karena melambangkan perlindungan terhadap asap, khususnya asap rokok, selain itu karena belum ada yang menggunakan masker sebagai alat promosi kesehatan khususnya bahaya rokok,” ujar Firda mengiyakan kedua rekannya. Harapannya, masker yang dibagikan kepada anak-anak ini bakal menyadarkan orang-orang di sekelilingnya agar tidak lagi merokok di depan anak-anak, khususnya bapak terhadap anak-anaknya. “Masker ini sudah kami bagikan kepada murid-murid di SDN Jember Lor 01, ternyata anak-anak mau menerima dan memakai masker tersebut,” kata Aisyah menimpali.

FKM-Makassar2Karya ketiga mahasiswa FKM tadi mendapatkan apresiasi, terbukti dengan raihan juara kedua dalam ajang Indonesian Youth Festival of Science (INOVASI) 2016 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah Universitas Hasanuddin, Makassar pada tanggal 27-30 Oktober lalu. Karya tulis mereka mengenai masker sebagai media promosi kesehatan diberi judul Edukasi Promotor Kesehatan Cilik Untuk Keluarga Bebas Asap Rokok Dengan Masker Ken Arok (Kenali Ancaman Rokok). Di babak final, duta kampus Tegalboto ini berkompetisi dengan 14 perwakilan dari perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia. Untuk juara pertama dan ketiga dibawa pulang oleh tim dari UNS Solo.

“Kami mendapatkan saran dari para dewan juri untuk menyesuaikan pesan di Masker Ken Arok, pasalnya setiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Jangan sampai ada kesan anak-anak dinilai menggurui orang tuanya sehingga pesan yang disampaikan malah tidak tersampaikan, bahkan ditolak. Untuk itu kami akan bekerjasama dengan komunitas pegiat kesehatan, tokoh masyarakat, guru dan dinas kesehatan untuk menyerap aspirasi sekaligus memperluas cakupan penerima Masker Ken Arok. Termasuk melakukan penelitian lanjutan apakah penggunaan Masker Ken Arok berhasil menyadarkan perokok atau belum,” pungkas Aisyah yang asli Blitar ini. (iim)

1 Comment

  • Adrian
    Reply

    Di jual di mana?
    Saya di Surabaya

Leave us a Comment