Letkol (KH) Totok Sumarsono, SH., MH., M.Tran.Hanla., : Berbekal Loyal, Ikhlas, dan Cerdas Gapai Prestasi

WisudaUNEJ-6-768×512

Jember, 27 November 2018

Upacara wisuda di Kampus Tegalboto tidak sekedar menjadi seremoni penanda seseorang mahasiswa telah berhasil menjalani masa studi, dan berhak menyandang gelar sarjana. Upacara wisuda di Universitas Jember juga dimanfaatkan menjadi wahana berbagi pengalaman, antara senior dan yunior. Seperti yang terjadi dalam wisuda periode III tahun akademik 2018/2019 lalu di Gedung Soetardjo (24/11). Kali ini yang tampil memberikan motivasi bagi para wisudawan adalah Letkol (KH) Totok Sumarsono, SH., MH., M.Tran. Hanla, Kepala Dinas Hukum Pangkalan Utama Angkatan Laut V, Surabaya, yang merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember tahun 1997.

Perwira menengah Angkatan Laut itu mengawali orasinya dengan kekaguman akan perkembangan almamater tercinta, Universitas Jember. “Saya kagum dengan perkembangan Kampus Tegalboto yang demikian pesat, kemajuan ini dapat menjadi modal Universitas Jember untuk berbicara di tingkat nasional, bahkan internasional,” tutur Totok Sumarsono di hadapan 900 wisudawan dan keluarganya. Pendapat Totok Sumarsono bukan tanpa alasan, pasalnya dirinya telah mengunjungi beberapa perguruan tinggi di luar negeri dalam rangka studi banding semasa mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal). “Kebetulan saya pernah studi banding mengunjungi perguruan tinggi di Singapura, China dan negara lainnya,” imbuhnya lagi.

Pria yang mengawali kariernya di TNI Angkatan Laut semenjak tahun 1998 ini memang sudah lulus Seskoal, lembaga pendidikan yang bertugas mencetak para perwira yang bakal menduduki posisi-posisi penting di lingkungan TNI AL. Tentu tidak mudah bagi seorang perwira TNI AL untuk dapat diterima di Seskoal, hanya orang-orang pilihan saja lah yang mampu menembusnya. “Alhadmulillah, saya bersyukur mampu menembus seleksi ketat untuk masuk Seskoal, walaupun saya berasal dari Sekolah Perwira bukan dari Akademi Angkatan Laut. Selama ini hanya lima persen saja perwira yang berasal dari sumber Sekolah Perwira yang mampu menembus Seskoal,” kata perwira di Korps Hukum ini. Prestasi pria asal Probolinggo ini pun tidak main-main, saat lulus dari Seskoal tahun 2014, Totok masuk 10 besar lulusan terbaik.

Tentu capaian prestasi ini dilalui dengan kerja keras. Menurut Totok, dirinya masuk ke Fakultas Hukum Universitas Jember setelah sebelumnya tiga kali gagal masuk Akabri. “Selepas SMA saya memang ingin jadi tentara agar segera bekerja, maklum saya berasal dari keluarga kurang mampu. Selama kuliah pun kelanjutan studi saya tertolong dengan adanya beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik karena IPK saya bagus. Waktu itu dapat lima puluh ribu tiap bulan, jumlah yang lumayan di masa itu. Salah satu kewajibannya harus ikut upacara di kampus,” kata Totok sambil tertawa mengenang masa kuliahnya. Prestasi Totok saat kuliah memang moncer, buktinya IPK-nya selalu mencapai angka tiga koma sekian, bahkan Totok mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 6 bulan 21 hari.

Kepada yuniornya, Totok berpesan agar menerapkan sikap kerja keras, disiplin, loyal, ihklas, dan cerdas dalam mengarungi kerasnya dunia kerja. “Anda akan jadi petarung atau pecundang ?” Begitu tantangannya kepada para wisudawan Universitas Jember. Menurutnya ilmu yang sudah diperoleh dari Kampus Tegalboto sudah cukup, tinggal bagaimana lulusan Universitas Jember mengembangkannya lebih lanjut. “Saya percaya adik-adik saya bakal mampu berkompetisi di dunia kerja karena Anda adalah lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, tinggal terus mengembangkan semangat juang, dan satu hal lagi, jadikan disiplin sebagai jembatan meraih kesuksesan,” ungkap Totok dengan nada serius.

Di akhir orasinya, tak lupa Totok berpesan agar para wisudawan selalu berdoa dan meminta restu orang tua dalam mengarungi kehidupan, terutama setelah fase kuliah ini selesai. Sebab restu dan doa orang tua menjadi pendorong kesuksesan bagi anak-anaknya. “Saya jadi teringat, saat wisuda di tahun 1997 lalu di Gedung Soetardjo ini, di tengah-tengah upacara wisuda saya menangis sebab teringat almarhumah Ibu yang telah tiada. Semenjak usia lima tahun saya sudah ditinggal oleh Ibu, dan kemudian diasuh oleh kakek dan nenek. Jadi bersyukurlah bagi Anda yang masih memiliki orang tua sebab masih bisa meminta restu dan doanya,” pungkas Totok Sumarsono. (iim)