Kuliah Umum SKK Migas, Jadi Perkenalan Program Studi Perminyakan dan Program Studi Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

KulUmSKKMigas-2-768×512

Jember, 5 Desember 2018

                Universitas Jember terus mempersiapkan pembukaan dua program studi baru di Fakultas Teknik, yaitu Program Studi Perminyakan, dan Program Studi Pertambangan. Salah satunya dengan menggelar kuliah umum bertema “Industri Hulu Migas Membesarkan Bangsa” yang dilaksanakan di Gedung Soetardjo (5/12). Kuliah umum kali ini terlaksana atas kerjasama Universitas Jember dengan  Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (SKK Migas Jabanusa). Menurut Rektor Universitas Jember, kegiatan kuliah umum kali ini menjadi sosialisasi pembukaan Program Studi Perminyakan, dan Program Studi Pertambangan kepada stakeholder yang hadir. Sementara bagi pihak SKK Migas, kegiatan kuliah umum menjadi sarana menjelaskan kegiatan industri hulu migas.

                “Perkembangan terakhir, ijin pembukaan Program Studi Perminyakan dan Program Studi Pertambangan sudah terbit, tinggal ijin operasionalnya. Harapannya, ijin operasional segera turun sehingga pada tahun akademik 2019/2010 sudah dapat menerima mahasiswa,” ujar Moh. Hasan kepada ratusan hadirin yang merupakan perwakilan SKK Migas, Pertamina, dosen, serta mahasiswa yang memenuhi Gedung Soetardjo. “Saya berharap, kegiatan kuliah umum kali ini menjadi awal kerjasama yang erat antara Universitas Jember dengan SKK Migas khususnya SKK Migas Jabanusa,” ujar Rektor Universitas Jember dalam sambutannya.

Tawaran kerjasama disambut hangat oleh Dony Ariyanto, Kepala Departemen Hubungan Masyarakat SKK Migas yang turut memberikan sambutan. Menurutnya SKK Migas memandang penting menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki akademisi yang diharapkan dapat memberikan masukan kepada SKK Migas, serta memasok sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh SKK Migas. Sebaliknya, SKK Migas berkepentingan menjelaskan tugas dan fungsinya kepada masyarakat luas tentang tugas, dan fungsinya sebagai pelaksana tugas eksplorasi, eksploitasi, dan lifting migas di Indonesia. “Sesuai wilayah kerja SKK Migas Jabanusa yang terentang dari Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara, maka SKK Migas Jabanusa tahun ini telah mengadakan kegiatan sosialisasi di semua PTN yang ada dari Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara, dan kebetulan Universitas Jember menjadi lokasi terakhir dari rangkaian sosialisasi yang kami lakukan di lingkungan perguruan tinggi,” kata Dony Ariyanto.

Tampil sebagai pemateri pertama adalah Arief Sukma Widjaja, Kepala Divisi Audit Kontraktor Kontrak Kerjasama Eksploitasi, SKK Migas. Dalam presentasinya, pria asli Jember ini mengungkapkan data bahwa Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang penting dalam peta produksi migas Indonesia. Pasalnya tiga puluh persen produksi migas berasal dari ladang migas di Jawa Timur. Oleh karena itu dirinya mendukung pembukaan Program Studi Perminyakan dan Program Studi Pertambangan di Fakultas Teknik Universitas Jember. Harapannya, lulusannya kelak akan mengisi berbagai posisi dalam industri migas Indonesia, khususnya di Jawa Timur. “Saat ini ladang migas di Jawa Timur terkonsentrasi di Bojonegoro dan wilayah Pulau Madura,” ungkap Arief.

Arief pun melanjutkan presentasinya. Menurutnya bisnis migas adalah bisnis yang memerlukan teknologi tinggi, biaya tinggi, resiko tinggi, oleh karena itu menuntut profesionalisme yang tinggi juga di segala bidangnya. “Bayangkan, untuk mengekplorasi dan mengeksploitasi satu sumur minyak saja membutuhkan biaya 5 hingga 10 juta dollar US, itupun belum tentu menghasilkan minyak bumi. Sebab biasanya dari 10 sumur yang kita gali umumnya hanya ada tiga saja yang bakal menghasilkan, artinya yang tujuh sumur itu rugi. Saat ini SKK Migas sendiri mengelola aset senilai 12 milyar dollar US,” jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian ESDM masih membuka investasi dari luar negeri dalam bidang migas karena pembiayaan untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi membutuhkan dana yang besar. Pola kerjasama yang digunakan saat ini adalah dengan pola Production Sharing Contract (PSC). Masalah kedua, Indonesia menghadapi fakta bahwa 90 persen sumur minyak yang ada adalah sumur tua yang produksinya kian menurun, sementara perawatannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Masalah selanjutnya adalah permasalahan non teknis seperti kendala aturan, perijinan, pengurusan tanah dan lain-lainnya. Padahal industri migas memberikan pemasukan yang cukup besar bagi negara, serta memiliki multiplier effects yang banyak pula.

“Kendala yang dihadapi oleh SKK Migas itu 20 persen saja yang bersifat teknis, yakni bagaimana kita mampu menemukan ladang minyak baru di Indonesia dan memanfaatkan ladang minyak yang sudah ada. Sedangkan 80 persen sisanya adalah kendala di bidang hukum, perijinan atau yang paling sering adalah terkait masalah sengketa tanah. Oleh karena itu dunia migas tidak hanya untuk mereka yang lulusan Fakultas Teknik saja, namun kita butuh juga lulusan Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, FISIP bahkan Fakultas Pertanian,” kata Arief memberikan semangat kepada mahasiswa Kampus Tegalboto.

 Selain menampilkan Arief Sukma Widjaja, pemateri lain yang hadir adalah Sudaryoko dari  Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore, dan Endro Probo dari SAKA Indonesia Pangkah Ltd. Keduanya banyak memberikan penjelasan teknis bagaimana sebuah kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas dilakukan. Seusai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengn sesi diskusi. Bagi peserta yang mengajukan pertanyaan, SKK Migas memberikan hadiah berupa buku-buku terkait peran dan kiprah SKK Migas.  (iim)