Krisis Kopi Dunia Menjelang, Indonesia Harus Ambil Peluang

Jember, 4 Mei 2016

Laju pertumbuhan produksi kopi  ternyata masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah konsumsi kopi masyarakat dunia. Budaya minum kopi  di berbagai belahan dunia yang semakin meningkat, menjadikan kopi sebagai komoditas perdagangan kedua yang menjanjikan setelah minyak dan gas bumi. Jika produksi kopi tidak ditingkatkan, maka bukan tidak mungkin akan terjadi krisi kopi dunia. Pernyataan ini disampaikan oleh Dr. Ir. Surip Mawardi, SU., peneliti senior pada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) dalam acara  Kuliah Umum dan Diskusi Ilmiah dengan tema Prospek dan Kendala Pengembangan Kopi Untuk Kesejahteraan Masyarakat di Era Globalisas, yang digelar oleh Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Jember (3/5).

“Dunia mulai khawatir  karena  Brasil sebagai produsen utama kopi hanya mengeluarkan 75 persen dari total produksinya, sisanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara di Afrika Timur yang dikenal juga sebagai negara penghasil kopi utama tengah mengalami problema pengurangan lahan kopi besar-besaran. Padahal kopi tidak mungkin ditanam di Eropa. Jika produksi kopi dunia tidak ditingkatkan  bukan tidak mungkin akan terjadi krisis kopi,” papar Surip Mawardi.

Surip menambahkan, saat ini masyarakat dunia mulai melihat Asia sebagai tempat untuk meningkatkan produksi Kopi dunia. “Asia menjadi pilihan terakhir dalam upaya meningkatkan produksi kopi dunia. Dan yang paling berpeluang adalah Indonesia karena memiliki kualitas tanah dan didukung iklim yang cocok, dibandingkan negara lain,” paparnya lagi. Dari data tahun 2012, areal kopi di Indonesia mencapai 1,3 juta hektar dengan produktivitas 0,75 ton per hektar. Niali ekspor kopi Indonesia mencapai 1,53 milyar US dollar. Surip mengharapkan agar peluang ini dapat diraih oleh Indonesia sehingga dapat menjadi eksportir kopi utama dunia.

Lebih jauh Surip memaparkan, potensi Kopi untuk dijadikan sebagai komoditas perdagangan memang tidak perlu diragukan lagi. Karena sejak 300 tahun lalu penjulan kopi di pasar Internasional semakin membaik. “Saat ini dan kedepan, kopi masih menjadi komoditas utama untuk perdagangan, Pala saat ini penjualannya tidak begitu bagus, begitu pula dengan cengkeh juga semakin menurun seiring semakin ketatnya aturan mengenai industri rokok,” imbuhnya.

Surip melanjutkan, Kopi bisa menjadi bagian penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat Jember yang memiliki perkebunan kopi yang sangat luas. “Pohon industri mungkin itu yang bisa kita istilahkan, karena mulai dari hulu hingga hilir kopi sangat menjajikan untuk diperdagangkan, belum lagi dari sektor ritailnya,” paparnya. Dari penelitian yang dia lakukan, rupanya masyarakat Jember memiliki tingakt konsumsi kopi yang cukup besar. Rata-rata dalam setahun tingkat konsumsi  kopi untuk perempuan mencapai 1,5 kilogram, sedangkan laki-laki mencapai 2 kilogram dalam setahun. “Ini sangat luar biasa sekali karena untuk konsumsi kopi tingakt nasional saja belum mencapai 1 kilogram dalam setahun, sangat menarik sekali untuk dijadikan bisnis,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Lemlit Universitas Jember, Prof. Dr. A. Subagio mendukung upaya untuk menjadikan kopi sebagai salah satu produk unggulan Indonesia, khususnya Jember. “Oleh karena itu Universitas Jember bertekad menjadi salah satu pusat penelitian kopi, mulai dari hulu hingga hilir,” kata ahli singkong ini. Kuliah umum ini dihadiri oleh para mahasiswa Universitas Jember beserta pemerhati masalah pertanian, khususnya kopi. (moon)

Leave us a Comment