Kompor Berbahan Limbah Kulit Kopi Untuk Kesejahteraan

WhatsApp Image 2017-10-03 at 13.14.14

Jember, 3 Oktober 2017

Saat musim panen raya kopi tiba tidak jarang kita menemukan tumpukan menggunung dari limbah cangkang kopi ataupun kulit kopi. Tanpa penanganan yang bagus limbah kulit kopi ini dapat berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Selain kulit kopi limbah cair dari proses pengolahan kopi juga dapat merusak tanah dan ekosistem yang ada disungai.

“limbah kopi itu bersifat asam tidak bagus untuk tanah dan berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar, sehinga biasanya masyarakat yang berada disekitar limbah kopi sering sakit-sakitan. Maka dari itulah harus ada upaya mengolah limbah dengan baik sehingga bisa membawa berkah bagi masyarakat sekitar,” ujar Dr. Soni Sisbudi Harsono anggota tim peneliti Coffee For Social Welfare (CFW) saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurut Soni, dalam sekali musim panen pada bulan Mei sampai September limbah kulit kopi yang ada disekitar perkebunan wilayah Kawah Ijen Bondowoso mencapai 4 ton. Menurutnya karena tidak tertangani dengan baik selama ini limbah kulit kopi hanya menjadi sampah selama kurang lebih enam bulan.

“Karena setelah enam bulan limbah kopi sudah bisa dijadikan pupuk organik untuk tanaman kopi. Namun selama masa menunggu sampah tersebut bisa merusak kondisi tanah karena bersifat asam. Apalagi jika musim hujan air serapan dari sampah kopi tersebut sangat tidak baik,” lanjut Soni.

Soni yang merupakan dosen di Fakultas Teknologi Pertania (FTP) Universitas Jember ini mengatakan, dirinya beserta mahasiswa dibawah bimbingannya tengah berupaya agar limbah kopi bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

“Kulit kopi misalnya bisa dijadikan bahan bakar pengganti gas oleh masyarakat. Sehingga terjadi penghematan ekonomi, tinggal bagaimana masyarakat kita berikan pelatihan untuk mengolah kulit kopi menjadi bahan bakar,” ujarnya.

Soni mengatakan, proses pembuatan bahan bakar berupa briket berbahan dasar kulit kopi cukup mudah dan biaya yang sangat murah. Menurutnya,  limbah kulit kopi dikeringkan hingga kadar airnya  dibawah 12 persen.

“Lalu ukurannya diperkecil dan dicampurkan dengan bahan lain seperti halnya grajen kayu atau arang sekam kemudian dicampur dengan lem berbahan ketela yang kami buat baru setelah itu dimasukan pada mesin pencatak kemudian dikeringkan, tutur Soni.

Soni mengaku, biaya untuk proses pembuatan pelet bahan bakar kompor terjangkau bagi masyarakat menengah kebawah. Untuk menghasilkan 1 kilogram briket hanya memakan biaya 6500 rupiah.

“Per kilogram bisa untuk masak nasi 1 kilogram, masak air dan masak lauk pauk selama 8 jam. Lebih hemat 25 persen dari total biaya gas subsidi ini akan sangat membantu mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga masyarakat,” lanjut Soni.

Soni mengaku, saat ini timnya telah berhasil memproduksi kompor hemat energi yang bahan bakarnya bisa menggunkan limbah kulit kopi. Menurutnya, kompor tersebut akan segera diproduksi masal untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah kepada masyarakat sekitar perkebunan kopi.

“Tidak hanya kulit kopi rantin dan daun kopi pun bisa diproses sebagai bahan bakar kompor yang kami produksi. Api pun yang dihasilkan cukup besar bisa digunakan untuk rumah tangga ataupun usaha kecil seperti para penjual gorengan,” imbuh Soni.

Soni berharap, kompor buatannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar perkebunan kopi. Dia berjanji akan membimbing masyarakat agar bisa memproduksi kompor dan briket secara mandiri.

 “Murah kok biaya untuk satu kompor tidak lebih dari 125.000 rupiah dan bahan bakarnya pun tidak harus limbah kulit kopi. Bahan bakar berupa Biopellet ini juga bisa dibuat dari limbah kotoran binatang ternak, gedebog pisang dan sampah organik rumah tangga lainnya” pungkas Soni.

Penelitian yang dilakukan oleh Soni beserta para peneli lainnya akan dipresentasikan dalam acara JICC (Jember International Coffee Conference) yang akan digelar 9 – 11 November 2017. Dalam acara ini akan dikupas tuntas mengenai hasil penelitian Kopi dari berbagai bidang penelitian dari peneliti tingkat nasional ataupun internasional.