KOMPAK Bersama UNEJ Membangun Dan Memasarkan Potensi Desa

virgin_cocnut_oil_UNEJ-630x330px

Jember, 22 Februari 2017

16934106_1462084780471489_2087414314_n

Program Universitas Membangun Desa (UMD) Universitas Jember bekerja sama dengan KOMPAK (Kolaborasi masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan) Jakarta benar-benar berdampak positif bagi kemajuan masyakat di Kecamatan Cerme Bondowoso. Pasalnya, desa yang semula hanya dikenal di tingkat kecamatan kini sudah mulai mendunia.

“Alhamdulillah sejak adanya program pemberdayaan masyarakat di desa kami, kami tidak hanya diajari bagaimana membuat dan mengemas produk, namun kami juga diajari cara memasarkan produk secara online,” ujar Sulaidi Kepala Desa Cermee saat acara Monitoring dan Evaluasi UMD Universitas Jember di lantai 2 Kantor Pusat Universitas Jember, (22/2).

Menurut Sulaidi potensi kelapa yang berlimpah di desanya sebelumnya belum digarap secara serius oleh masyarakat. Namun menurutnya, setelah ada program pendampingan oleh mahasiswa KKN pengolahan kelapa menjadi beragam.

“Dulu kelapa hanya kami jual utuh kepasar harganya berkisar 3000 sampai 5000 rupiah. Sekarang kami sudah bisa mengolayhnya menjadi VCO (Virgin Coconut Oil). Entah bagaimana caranya mereka membuat tapi masyakat desa saya bisa,” imbuhnya.

Menurutnya, harga jual VCO lebih menjanjikan apalagi penjualannya tidak hanya dilakukan di koperasi desa. Saat ini warga juga belajar menjual produk-produk yang diproduksi oleh masyarakat melalui website desa yang dikelola oleh perangkat desa.

“Sementara memang masih dikelola oleh para mahasiswa KKN. Namun kedepan akan ada petugas yang mengelola website tersebut sehingga tidak hanya bergantung dangan mahasiswa KKN saja,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Rektor I Zulfikar menyambut positif UMD. Dalam sambutannya Zulfikar mengatakan program UMD mengajak mahasiswa bersama masyarakat bagaimana membangun potensi yang ada di desa.

“Membangun masyarakat, itulah yang memang dilakukan oleh perguruan tinggi salah satunya melalui program KKN Tematik. Jadi mahasiswa tidak hanya datang ke desa. Namun sepulang dari desa ada hal positif yang ditinggalkan yang bermanfaat untuk kemajuan masyarakat,” ujarnya.

Zulfikar berharap program UMD bisa berjalan berkelanjutan ke pelosok-pelosok desa khususnya yang ada diwilayah sekitar Universitas Jember.

“Saat ini kita didukung oleh KOMPAK. Namun harapan saya setelah MoU selesai, program ini bisa terus dilakukan oleh para mahasiswa, tentunya dengan didampingi para dosen pembimbing,” imbuh Zulfikar.

Sementara itu Citra, selaku perwakilan dari KOMPAK Jakarta memaparkan, program KOMPAK dimaksudakan agar desa yang sebelumnya potensinya tidak begitu dikenal menjadi lebih terkenal.  “Setelah menjalanankan program ini desa harapannya memiliki ciri khas yang wajib dieksplore. Target kami produk yang dihasilkan masyarakat desa tidak hanya dikenal di kabupaten namun harapannya bisa nasional atau bahkan mancanegara dan harus berkelanjutan panjang.” tuturnya.

Saat kunjungan ke Desa Bercak Kecamatan Cermee Bondowoso tim UMD dan KOMPAK disambut dengan batik tulis karya masyarakat Desa Bercak. Beragam motif dan warna khas Bercak menjadi daya tarik tersendiri. Terlihat beberapa orang memborong batik sebagai buah tangan untuk keluarga.

“Alhamdulillah batik kami ini memiliki pola dan warna yang khas. Walau diproduksi oleh masyarakat desa namun batik kami cocok dipakai oleh semua kalangan,” papar Soehartono Kepada Desa Bercak.

Soehartono mengatakan, walau sempat berhenti produksi karena tidak bisa memasarkan kini batik khas desa Bercak menjadi pilihan baru bagi para pecinta batik.

“Sebenarnya dulu kami sudah produksi namun pemasaran kurang jalan. Alhamdulillah dengan dibantu mahasiswa kini kami bisa memasarkan secara online melalui website desa. Bahkan karena keterbatasan produksi pesanan dari surabaya sebanyak 30 lembar dan pesanan dari toko batik terpaksa kami tolak,” tuturnya. (niz/moen)

Leave us a Comment