Kini Jember Punya Batik Tulis Khas Meru Betiri

BatikMeruBetiri-1_UNEJ-768×589

Jember, 21 Maret 2018

Kini Jember punya batik tulis khas, batik tulis Meru Betiri. Batik tulis produksi para ibu di Desa Wonoasri, kecamatan Tempurejo, Jember, yang merupakan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Motif batik tulis Meru Betiri ini lahir dari program pelatihan membatik yang menjadi salah satu sub program dalam program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang diselenggarakan oleh Universitas Jember, dengan dukungan dana dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, serta USAID. Perkenalan dan peluncuran batik tulis Meru Betiri dilaksanakan hari Selasa sore, di balai Desa Wonoasri (20/3). Terdapat 13 motif batik yang semuanya bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Uniknya lagi semua batik tulis karya ibu-ibu Desa Wonoasri adalah batik tulis yang menggunakan pewarna alami.

“Ada 13 motif batik yang telah kami buat yang idenya bersumber dari kekayaan flora TNMB, misalnya motif bunga raflesia, cabe jawa, dan blarak atau daun kelapa. Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling, dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB, ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia,” ujar Supmini Wardhani yang bertugas menjadi desainer dalam kelompok Kehati Meru Betiri, kelompok pembatik yang pembentukannya difasilitasi oleh para peneliti Universitas Jember. Kelompok Kehati Meru Betiri beranggotakan 46 anggota yang telah mendapatkan pelatihan membatik selama 14 hari dengan bimbingan Soediono dari sanggar batik Godhong Mbako, Jember.

Uniknya lagi, semua batik diproses dengan pewarnaan alami tanpa bahan kimia. “Untuk mendapatkan warna hitam kami menggunakan akar dan batang tanaman mangrove, warna merah dari daun jati, warna krem dari daun tumbuhan Putri Malu, serta pewarna alami lainnya yang tersedia di lingkungan sekitar kami,” tutur Aris Rudiarso yang bertugas memberikan warna setelah kain batik selesai di canting. Untuk mendapatkan pewarnaan yang maksimal, selembar kain harus melewati proses pewarnaan minimal enam kali pencelupan, dan setiap kali proses pewarnaan membutuhkan waktu sekitar 36 jam. “Itu untuk satu warna saja lho, proses makin lama jika dalam selembar kain batik ada dua warna atau bahkan lebih. Penggunaan pewarna alami inilah yang membuat batik produksi kami umumnya bernuansa warna pastel, tidak ada warna yang mencolok,” imbuh Aris Rudiarso lagi.

Pilihan menggunakan pewarna alami dengan pilihan warna pastel didukung oleh Soediono, sang guru membatik. Menurutnya justru batik tulis tradisional yang masih memegang teguh tradisi hanya mengenal tiga warna, yakni hitam, putih dan coklat atau soga. “Hitam melambangkan dunia sebelum mengenal petunjuk kebenaran, putih setelah datangnya agama, dan warna coklat atau soga yang melambangkan manusia,” jelas Soediono. Pria yang menggeluti dunia batik semenjak usia muda ini selain mengajarkan teknis membatik juga memberikan dasar filosofi batik kepada anak didiknya. Menurutnya proses yang lama dan membutuhkan ketekunan ekstra inilah yang membuat batik yang diproduksi Kehati Meru Betiri dihargai cukup mahal, selembar batik ukuran 2 meter dijual 300 ribu hingga 450 ribu rupiah.

Kreativitas ibu-ibu Desa Wonoasri mendapatkan apresiasi dari stake holder yang hadir sore itu. Seperti yang diungkapkan oleh Khairunnisa, Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNMB. Menurutnya baru kali ini ada motif batik yang mengangkat potensi sebuah taman nasional. “Kami punya rencana mengembangkan program wana wisata di TNMB yang sebenarnya memiliki banyak potensi, dari flora dan fauna, pantai hingga air terjun. Dengan adanya produk batik khas Meru Betiri maka harapannya para wisatawan bakal lebih tertarik untuk datang, apalagi letak Desa Wonoasri ini adalah gerbang menuju TNMB,” katanya. Khairunnisa lantas memberikan usulan agar para pembatik memperhatikan detil motif flora dan fauna yang menjadi penghuni TNMB agar benar-benar khas dan berbeda dengan batik tulis lainnya.

Dukungan juga datang dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jember yang diwakili oleh stafnya, Solikin. Menurutnya batik tulis dengan pewarnaan alami memiliki peluang pasar yang menjanjikan, terutama di pasar luar negeri. “Batik tulis seperti yang diproduksi oleh Kehati Meru Betiri ini jika sudah masuk butik di Surabaya atau Jakarta harganya minimal 750 ribu atau bahkan mencapai 1 juta rupiah. Sebab pengerjaannya membutuhkan ketekunan, belum lagi proses pewarnaan alami yang membutuhkan waktu cukup lama. Justru pembeli di luar negeri sangat menghargai keaslian dan kealamian batik seperti ini,” tutur Solikin. Dirinya lantas berjanji akan mengajak Kehati Meru Betiri turut serta dalam berbagai pameran yang diikuti oleh Disperindag Kabupaten Jember.

Sementara itu, Prof. Achmad Subagio, ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)  Universitas Jember menganjurkan para pengrajin batik tulis di Desa Wonoasri mulai memperhatikan manajemen rantai pasokan (supply chain management), agar produksi batik dapat berkelanjutan. Jangan sampai ketika permintaan batik tulis sudah melonjak justru tidak mampu melayani, tentu saja akan mengecewakan konsumen.

“Perlu ada pembagian tugas dan peran, sehingga tidak hanya fokus pada peran membatik saja. Harus ada yang  mengurusi bahan baku dari kain hingga lilin untuk membatik, ada yang bertugas mempersiapkan bahan pewarna alami hingga yang memasarkan produk. Termasuk mulai memikirkan diversifikasi produk seperti dompet batik, taplak batik dan sebagainya agar tidak hanya fokus pada batik tulis untuk pakaian saja. Kami di LP2M siap membantu kajian manajemen rantai pasokan, kreasi produk sampai pemasaranuntuk produksi batik tulis di Desa Wonoasri ini, termasuk saat Festival Tegalboto nanti kami akan sediakan booth untuk Kehati Meru Betiri,” katanya.

Sebelumnya dalam sambutan pembukaannya, Wachju Subchan, ketua Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember menjelaskan pemberian pelatihan membatik kepada ibu-ibu di Desa Wonoasri bertujuan memberikan ketrampilan yang menjadi modal untuk mencari tambahan pemasukan sehingga kesejahteraan masyarakat desa penyangga hutan makin meningkat. “Program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan tidak hanya melakukan rehabilitasi hutan saja, tetapi juga memberikan berbagai keterampilan yang berbasis pada potensi desa seperti pembuatan jamu, budidaya semut rang-rang dan batik tulis ini. Harapannya dengan adanya pemasukan tambahan, maka tidak ada lagi perambahan hutan,” tutur Wachju Subchan yang juga Wakil Rektor II Universitas Jember ini. (iim)