Kendalikan Lisan, Surga Balasannya

Jember, 16 November 2016

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang diberikan kepada kita. Lisan atau lidah merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan dengan anggota badan yang lain. Akan tetapi, lisan dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau bahkan neraka. Tidak heran jika sebagian orang mengatakan bahwa lidah tidak bertulang. Maka barang siapa mampu mengendalikan lisannya, maka surga balasannya. Bagaimana menjaga lisan menjadi topik pengajian rutin Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember yang digelar di Gedung Kauje (16/11).

Pengajian rutin diawali dengan pembacaan Surat Yasin yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Sri Sukmawati, ST., MT., dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember. Pengajian kali mengusung topik “Bahaya Lidah”. Dalam ceramahnya, Sukma menyampaikan bahwa terdapat 17 bahaya lisan yang sebaiknya kita hindari agar terselamatkan dari api neraka. “Bahaya lisan yang harus kita hindari ini antara lain adalah ungkapan yang tidak berguna; berbicara yang berlebihan; ungkapan yang mendekati kebatilan dan maksiat; berbantahan, bertengkar dan debat kusir; banyak omong yang berlebih-lebihan untuk mendapatkan haknya; bercanda dan senda gurau berlebihan; ungkapan yang menyakitkan; melaknat binatang, benda, apalagi manusia; bernyanyi dan bersyair; berbicara untuk menarik perhatian; membocorkan rahasia; berdusta; menceritakan keburukan orang lain; sanjungan yang menjerumuskan; menyebutkan hal yang membuat malu orang lain; menghasut; dan bertanya yang bukan-bukan,” jelas dosen yang akrab disapa Sukma ini.

Sukma juga menyampaikan bahwa masuk keluarnya perkataan dari mulut itu harus benar-benar dijaga, sebab letak keselamatan manusia, dunia dan akhiratnya terletak pada kemampuannya untuk menjaga hal tersebut diatas. Sukma lantas menceritakan seorang tokoh yang pandai dalam menjaga lisannya. Tokoh tersebut adalah Abu Bakar As-Shiddiq, khalifah pertama pengganti Rasulullah. “Abu Bakar adalah khalifah yang dikenal paling hemat dalam berbicara. Ketika ditunjuk menjadi khalifah, Abu Bakar hanya berpidato sebentar. Meski pidatonya sebentar, tapi kata-katanya dihafal oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga sekarang. Apa yang diucapkan Abu Bakar singkat dan padat, serta penuh arti dan konsisten. Apa yang dikatakannya itulah yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Sehingga antara ucapan dan tindakannya sama sekali tidak terdapat perbedaan” cerita Sukma.

Diakhir ceramahnya, Sukma menyampaikan agar seluruh yang hadir pada pengajian ini dapat lebih menjaga lisannya agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat menjerumuskan. Sukma juga mengajak agar kita semua mulai membiasakan diri untuk dapat berbicara secara efektif dan tidak berlebihan. Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember, Priwahyu Moh. Hasan, menjelaskan jika pengurus Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember selalu berusaha untuk mengangkat  tema yang relevan sebagai bahan kajian dalam pengajian rutin. (lid)

Leave us a Comment