Kemendes PDTT Puji Sinergi Universitas Jember Dengan Pemkab Bondowoso Dalam Membangun Desa

SarasehanSAID1

 

Jember, 10 Juli 2017

SarasehanSAID1

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Republik Indonesia memuji sinergi antara Universitas Jember dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Program Universitas Membangun Desa (UMD). Pujian ini disampaikan oleh Ansar Husen, staf ahli Menteri Desa PDTT Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan saat menjadi pembicara utama dalam sarasehan “Membangun Sinergitas PTN/PTS Se-Besuki Raya Melalui KKN Tematik Untuk Kemandirian Desa” di Kampus Tegalboto (10/7). Ansar Husen berpendapat, model kerjasama antara perguruan tinggi dengan pemerintah kabupaten seperti yang dilaksanakan oleh Universitas Jember dengan Bondowoso dalam membangun Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID) dapat ditiru oleh daerah lain.

Menurut Ansar Husen yang hadir mewakili Menteri Desa PDTT, pelaksanaan Program UMD dalam mengembangkan SAID sudah sejalan dengan prioritas kerja Kemendes PDTT, yakni pengembangan produk unggulan desa serta Badan Usaha Desa (Bumdes). “Kami mengapresiasi model kerjasama antara perguruan tinggi dengan pemerintah kabupaten dengan dukungan lembaga swadaya masyarakat dalam membangun desa. Apalagi dana desa dari tahun ke tahun ditingkatkan, bahkan tahun 2018 nanti mencapai 120 trilyun rupiah. Dana desa yang besar tadi perlu dimanfaatkan melalui perencanaan yang baik, butuh pengawasan dan evaluasi. Dan salah satu pendukungnya adalah SAID,” ujar Ansar Husen. Oleh karena itu dirinya mendukung penuh langkah Pemkab Bondowoso mereplikasikan SAID di seluruh desa yang ada di Bondowoso. Dukungan ini ditunjukkan dengan kunjungan Ansar Husen di pendopo Kabupaten Bondowoso untuk meresmikan SAID dan melihat dari dekat pelaksanaannya (10/7).

Untuk diketahui, Program UMD yang dilakukan oleh Universitas Jember semenjak Juli 2016 hingga Juni 2017 lalu telah berhasil membangun SAID di sepuluh desa di kecamatan Wringin dan Cermee, Bondowoso. Kesepuluh desa tadi kini memiliki laman resmi serta basis data yang selalu diperbaharui secara berkala sehingga menjadi bahan membuat kebijakan. Beberapa desa seperti Desa Glingseran bahkan mampu menampilkan potensinya berupa potensi wisata air terjun dan mata air Dewi Rengganis. Tak heran jika Desa Glingseran ditetapkan sebagai desa terbaik dalam mengelola potensi desanya oleh program UMD Universitas Jember.

Sementara itu dalam sarasehan, Astrid Kartika, Unit Manager for Basic Cooperation, Departement Foreign Affair and Trade Australia di Jakarta sebagai penyandang dana menjelaskan, keberhasilan pengembangan SAID melalui Program UMD Universitas Jember ditentukan oleh tiga hal, yakni komitmen perguruan tinggi, komitmen pemerintah kabupaten dan kemampuan mengelola potensi yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Pendapat ini didukung oleh perwakilan KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan), Anwar Hussein. KOMPAK adalah lembaga yang menjembatani pemerintah Australia sebagai pemberi dana dengan pemerintah Indonesia.

Menurut Anwar Hussein bantuan yang disalurkan melalui berbagai program guna membangun desa harus berjalan berkelanjutan. Oleh karena itu KOMPAK menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, salah satunya Universitas Jember yang memiliki sumber daya manusia dan program kerja terencana, salah satunya dengan program Kuliah Kerja Nyata. “Program seperti KKN akan selalu ada, oleh karena itu kami berusaha menghubungkan anatar perguruan tinggi dengan pihak pemerintah kabupaten, dan ternyata program pemberdayaan desa dengan cara seperti ini dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.

Adanya Program UMD yang mengembangkan SAID di Bondowoso memberikan dampak positif, hal ini disampaikan oleh Hidayat, Sekertaris Kabupaten Bondowoso. Menurutnya semenjak SAID dibangun di sepuluh desa, maka setiap desa tersebut memiliki data aktual yang menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, bahkan menggali potensinya. Adanya SAID juga membuka peluang bagi desa untuk memasarkan potensinya melalui laman resmi desa. “Oleh karena itu kami tidak ragu untuk mereplikasikan program SAID melalui Program UMD Universitas Jember, yang sebelumnya hanya 10 desa kini direncanakan diikuti oleh 71 desa lainnya. Harapannya seluruh desa di Bondowoso bakal menerapkan SAID,” kata Hidayat.

Sebelumnya dalam sambutannya, Moch. Hasan, Rektor Universitas Jember mengajak para hadirin yang terdiri dari perwakilan PTN/PTS, para kepala desa dan jajaran forpimda Se-Besuki Raya untuk bekerjasama mengembangkan KKN tematik guna mengembangkan daerah masing-masing. “Saya berharap ada kerjasama antar perguruan tinggi di Besuki Raya dalam melaksanakan KKN, seperti yang kami laksanakan dengan Program UMD. Jika saja KKN di tiap perguruan tinggi bisa disinergikan, maka masyarakat desa bakal mendapatkan bimbingan yang berkelanjutan. Universitas Jember juga terbuka bagi kerjasama dengan pemerintah daerah di Besuki Raya dalam mengembangkan banyak hal, termasuk pengembangan desa,” pungkasnya. (iim)

Blog Attachment