Kebudayaan Daerah Berfungsi Sebagai Penunjang Ketahanan Budaya Indonesia

Jember, 9 Agustus 2016

Kebudayaan daerah merupakan penunjang ketahanan Budaya Indonesia. Kesimpulan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Novi Anugrayekti  dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional  Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di Universitas Jember (9/8). Menurut Ketua Pusat Penelitian Budaya Lembaga Penelitian Universitas Jember ini lantas mencontohkan keberadaan budaya Osing di Banyuwangi yang berkembang dengan baik hingga saat ini. “Budaya Osing dijaga, dikembangkan dan dikemas dengan baik sehingga masyarakat Banyuwangi bangga akan budayanya sendiri. Dapat kita lihat kebudayaan Osing menjadi ketahanan budaya yang konkrit terhadap terpaan budaya asing,” ujarnya.

Novi lantas melanjutkan penjelasannya, budaya Osing yang dikemas melalui kesenian tari dan musik Banyuwangi kini semakin menarik perhatian masyarakat, baik masyarakat Osing sendiri maupun masyarakat dari wilayah luar  Banyuwangi. Hal tersebut tentu membuat warga Osing semakin bangga akan budayanya sendiri. “Budaya Osing kini menjadi daya tarik wisata nasional sehingga seluruh rakyat Indonesia, maupun wisatawan mancanegara dapat menikmatinya. Hal tersebut yang menjadi salah satu fondasi yang kuat sebagai konsep pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang yang majemuk,” ungkap Novi.

Menurut Novi, kebudayaan merupakan salah satu media untuk menunjukkan ciri kepribadian suatu bangsa. Kebudayaan yang dimiliki suatu bangsa tersebut  memiliki peran dalam membentuk karakter individu dan tatanan sosial yang juga akan memberikan dampak dalam proses pembangunan bangsanya. Kebudayaan Indonesia yang terbentuk dari ratusan budaya daerah memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan negara lain. Terdapat ratusan adat istiadat, kesenian dan bahasa suku bangsa yang berbeda-beda, yang menjadi potensi untuk dikembangkan dalam proses pembangunan Indonesia ke depan terutama untuk kesejahteraan masyarakat.

                Temu Ilmiah Nasional HISKI di Kampus Tegalboto kali ini sengaja menyoroti budaya Osing, terlihat dari temanya yakni Jejak dan Langkah Bahasa, Sastra, dan Budaya : Dari Osing Sampai Indonesia. Para pakar buadaya yang hadir memaparkan penelitiannya di bidang budaya, khususnya budaya Osing. Para pembicara yang hadir antara lain, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum (Ketua HISKI Pusat), Drs. Amir Mahmud, M.Hum (Kepala Balai Bahasa Jawa Timur), Aekanu Hariyono (Ketua YAYASan Kiling Osing, Banyuwangi).

                Sementara itu, dalam sambutan pembukaannya, pembantu Rektor I Universitas Jember, Zulfikar, PhD., menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan aspek penting yang tetap harus diperhatikan dalam pembangunan suatu bangsa. Oleh karenanya, pembangunan tanpa adanya seni dan budaya akan terasa kering dan tidak berwarna.  Acara Temu Ilmiah Nasional HISKI yang dihadiri oleh sekitar 130 peserta ini dimeriahkan dengan peluncuran buku-buku mengenai budaya Osing buah karya dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, dan pelantikan HISKI Jember. Acara makin meriah dengan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi sebagai wujud mengenang Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A, pakar budaya dan budayawan Kampus Tegalboto. (lid)

Leave us a Comment