Kampus Berperan Dalam Mencegah Engineering Moral Hazard 

Kontsi-1_UNEJ

Jember, 30 Oktober 2017

            Kejadian runtuhnya grider jalan tol di ruas Pasuruan-Probolinggo beberapa waktu yang lalu patut menjadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya yang bergerak di bidang Teknik Sipil dan infrastruktur. Memang masih perlu penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kejadian yang menyebabkan kegagalan konstruksi tersebut. Namun pada prinsipnya, kegagalan konstruksi dapat dicegah jika sedari awal di dalam jiwa para praktisi Teknik Sipil sudah ditanamkan pencegahan engineering moral hazard. Oleh karena itu kampus sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan Program Studi Teknik Sipil berperan besar mencetak lulusan Teknik Sipil yang tidak hanya cerdas berolah pikir, namun juga sehat hatinya.

Kontsi-1_UNEJ

Pendapat ini disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Taufik Mulyono, saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Konferensi Nasional Teknik Sipil Pertama (Kontsi-I) yang diadakan oleh program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember di aula lantai 3 gedung rektorat dr. R. Achmad, Universitas Jember (30/10). Menurut Prof. Agus Taufik Mulyono, pencegahan engineering moral hazard dapat dimulai semenjak mahasiswa kuliah dengan penerapan proses belajar mengajar yang benar, pembiasaan patuh terhadap Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM), serta penanaman etika. “Bulan Oktober ini biasanya para kontraktor kalang kabut menyelesaikan proyeknya, mungkin ini juga bermula dari kebiasaan saat kuliah dulu dimana mahasiswa baru belajar jika akan ujian,” ujar dosen di Program Studi Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ini.

Dosen yang juga Ketua Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia ini lantas mengingatkan jika proses belajar mengajar yang baik, penanaman etika dan nilai-nilai agama bakal berkontribusi dalam mencegah engineering moral hazard seperti mengurangi mutu material, pengurangan mutu kerja, bahkan suap, gratifikasi dan korupsi. “Kampus berpengaruh terhadap terbentuknya budaya moral hazard dan budaya koruptif dalam pembangunan infrastruktur, kecuali proses pembelajarannya idealis dan visioner dengan mengedepankan keputusan rasa hati daripada sekedar pola pikiran,” imbuh guru besar yang hari itu lebih memilih materi yang terkait etika daripada keteknik sipilan ini.

Sementara itu dalam laporannya, M. Farid Makruf, ketua panitia kegiatan menjelaskan, jika Kontsi-I mengambil tema Tantangan Teknik Sipil Dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia. Tema ini sengaja diambil karena melihat pembangunan infrastruktur di Indonesia berkembang dengan sangat cepat, oleh karena itu wajib diimbangi dengan kualitas agar bermanfaat bagi rakyat. “Selain itu Kontsi-I diharapkan menjadi wahana diskusi sesama akademisi dan praktisi di bidang Teknik Sipil. Tercatat ada 110 peserta dengan 72 tulisan ilmiah dengan 65 pemakalah dari berbagai daerah di Indonesia. Rencananya ajang Kontsi akan diadakan rutin setiap dua tahunan,” jelas M. Farid Makruf.

Selain menghadirkan pemateri kunci Prof. Agus Taufik Mulyono, hadir pula Prof. Tavio , PhD dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Dr. Didik Jarwadi dari Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia. Sebelumnya dalam pidato pembukaan, Moh. Hasan, rektor Universitas Jember berharap agar ajang Kontsi dapat berkembang hingga di tingkat internasional serta dikembangkan lebih lanjut dengan menelurkan jurnal ilmiah. (iim)

Blog Attachment