Kaget Tempat Sampah Di Bobbin Pakai Bahasa Jerman

Jember, 11 Agustus 2016

Kegiatan Universitas Jember 2nd International Cultural Camp (UJICC) yang digagas oleh Kantor Urusan Internasional Universitas Jember telah usai. Ditandai dengan malam perpisahan yang digelar Rabu malam di Gedung KAUJE (10/8). Sembilan peserta kemah budaya yang berasal dari lima negara telah pulang kembali ke negara asalnya dengan membawa kenangan yang tak mungkin terlupakan tentang Universitas Jember dan Jember.

“Saya kaget ketika melihat tempat sampah di Bobbin memakai bahasa Jerman. Ternyata perusahaan pemrosesan cerutu Bobbin ini memiliki kedekatan hubungan dengan negara kami, Jerman,” ujar Dimitri Model, peserta UJICC 2016 asal kota Hamburg. Dimitri dan kawan-kawan baru mengerti jika perusahaan pemrosesan bahan cerutu milik PTPN X di Arjasa ini mengirimkan sebagian besar produknya ke Jerman sejak puluhan tahun lalu. Tidak heran jika istilah berbau Jerman masih bisa ditemukan di Bobbin.

Kunjungan ke perusahaan pemrosesan bahan cerutu Bobbin di Arjasa (5/8), adalah salah satu kegiatan yang dijadwalkan di UJICC 2016. Menurut Ketua Panitia UJICC 2016, Aditya Wardhono, selain mengunjungi Bobbin, peserta juga diajak mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di Jember seperti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Museum Tembakau, Pondok Pesantren Nurul Islam, Jember Fashion Carnaval dan tempat-tempat wisata di Jember dan sekitarnya. “Tentu saja mereka juga belajar Bahasa Indonesia serta budaya Indonesia seperti tari, lagu dan pencak silat,” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini.

Aditya malam itu tak lupa memuji semangat belajar dan daya adaptasi semua peserta UJICC 2016. “Dalam waktu sepuluh hari, mereka sudah berani berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Yang membuat saya surprise, mereka juga suka makan masakan Indonesia, bahkan menikmati sambal,” puji Aditya.Dirinya lantas mengharapkan, kesembilan peserta UJICC akan menjadi Duta Universitas Jember. “Mereka akan memperkenalkan keberadaan Universitas Jember beserta Jember di negaranya, minimal di perguruan tingginya masing-masing,” tambah Aditya.

Kenangan tak terlupakan juga disampaikan peserta asal Malaysia, Muhammad Ilyas bin Abdul Razak. Walaupun budaya dan kondisi antara Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda, mahasiswa Ilmu Hukum dari Universiti Sains Islam Malaysia ini banyak mendapatkan pengalaman baru selama berada di Jember. “Yang paling saya senangi mencoba makanan khas Indonesia, ragam macamnya sungguh banyak,” tutur mahasiswa asal Negeri Sembilan, Malaysia.

Selain Dimitri dan Ilyas, ada pula Anna Zweigardt dari Jerman, Aleksandrs Orlovs mahasiswa University Glasgow, Skotlandia, serta Kyaw Zin Linn dan Sai Phyoe Zin Aung mahasiswa Mandalay University, Myanmar. Sementara University of San Carlos Filipina, mengirimkan tuga dutanya, yakni Matthews Ammon Philip Tristram, Benjamin David Dimaano dan George Ryan Ang Lim. Selama sepuluh hari (31 Juli – 10 Agustus), kesembilan mahasiswa ini belajar bersama para pendampingya yang adalah mahasiswa kampus Tegalboto.

Pelajaran tak terlupakan juga diungkapkan oleh Anna Zweigardt mengenai Islam dan Muslim di Indonesia, khususnya di Jember. Mahasiswi Flensburg University of Applied Sciences ini menceritakan pengalamannya mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Islam, Antirogo. Menurutnya Islam yang dilihatnya langsung di Jember adalah Islam yang damai. “Saya akan kabarkan kepada kawan-kawan di Jerman, bahwa Islam itu sama sekali tidak identik dengan kekerasan, seperti yang ada dalam benak sebagian orang di dunia Barat,” ujar satu-satunya peserta perempuan di UJICC 2016.

Pengalaman lucu dan unik juga diungkapkan oleh masing-masing peserta dalam acara perpisahan di gedung KAUJE. Misalnya Aleksandr Orlovs, dirinya terkejut melihat kondisi lalu lintas Jember yang bertolak belakang dengan lalu lintas di Soktlandia yang serba tertib. “Lalu lintas di sini sungguh menakutkan,” ujarnya sambil tertawa.Cerita Aleksadr disambung koleganya dari Filipina, Matthews Ammon Philip Tristram. Cowok yang wajahnya mirip bintang sinetron Marcell Chandrawinata ini  sempat terheran-heran dengan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang semenjak pagi sudah beraktivitas. “Banyak jadwal kegiatan dalam UJICC yang dimulai pagi hari, padahal saya masih ngantuk,” ujarnya sambil tergelak.

Rangkaian kegiatan UJICC 2016 resmi ditutup oleh Pembantu Rektor I, Zulfikar. Ditandai dengan penyerahan sertifikat dan cendera mata kepada seluruh peserta. Acara malam itu juga dimeriahkan dengan penampilan para pendamping dan unjuk kebolehan para peserta UJICC 2016 yang berbusana khas negara masing-masing. “Mengikuti UJICC 2016 sungguh sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan, kami memang datang sebagai orang asing, tapi kami pulang sebagai teman,” ujar Anna yang menyampaikan pidato perpisahan dalam Bahasa Indonesia mewakili rekan-rekannya. (iim)

Leave us a Comment