Kaget Banyak Mahasiswa Thailand Fasih Berbahasa Indonesia

Jember, 19 Februari 2016

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) resmi berlaku mulai tahun 2016 ini, maka tidak ada lagi hambatan bagi lalu lintas barang dan jasa yang melintasi negara anggota ASEAN. Tidak hanya terkait barang dan jasa, berlakunya MEA menuntut tenaga kerja Indonesia terus mempersiapkan diri agar mampu mampu bersaing dengan kompetitornya dari negara ASEAN lainnya. Dan salah satu ketrampilan yang wajib dimiliki adalah pengetahuan mengenai negara ASEAN, termasuk penguasaan akan bahasanya. Berikut pengalaman Brahma Mahendra, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember saat berkunjung ke Thailand dalam rangka mengikuti Indonesia Youth Culture Exchange (IYCE). Brahma berkesempatan melihat dari dekat bagaimana kesiapan negeri Gajah Putih memasuki MEA.    

“Saat mengunjungi kampus Universitas Thammasat, saya terkejut mendapatkan sambutan dengan Bahasa Indonesia yang fasih oleh mahasiswa di sana,” jelas Brahma Mahendra mengenang pengalamannya mengunjungi salah satu kampus terbaik di Thailand yang berkampus di Bangkok itu. Brahma adalah salah satu mahasiswa yang berkesempatan mengikuti program Indonesia Youth Culture Exchange (IYCE). Program  yang mengajak seluruh pemuda yang ada di Indonesia untuk berpartisipasi memperkenalkan budaya Indonesia di Thailand. Tema yang diusung kali ini adalah “Strengthening the Role of Youth to Preserve the Cultural Heritage of ASEAN”.

Kemampuan mahasiswa Thailand berbahasa Indonesia ternyata tidak lepas dari kebijakan kampus yang mewajibkan mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah bahasa yang digunakan oleh negara anggota ASEAN. “Dan ternyata mata kuliah Bahasa Indonesia adalah mata kuliah yang paling favorit diantara bahasa yang dipakai oleh negara anggota ASEAN lainnya,” kata Brahma yang tinggal di Thailand dari tanggal 22 hingga 27 Januari 2016. Di kampus Universitas Thammasat, Brahma bersama rombongan dari Indonesia melakukan banyak diskusi dengan koleganya dari Thailand, termasuk membahas MEA.

Dari diskusi tersebut, ternyata ketertarikan untuk belajar Bahasa Indonesia ini didukung oleh kenyataan bahwa dalam organisasi ASEAN ada tiga negara yang memakai Bahasa Indonesia atau Melayu, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. Maka mahasiswa yang belajar Bahasa Indonesia berarti juga punya kesempatan jika nanti akan bekerja di Malaysia dan Brunai Darussalam, selain tentunya di Indonesia. “Kita patut bangga Bahasa Indonesia mendapatkan apresiasi yang baik dikalangan mahasiswa Thailand, namun di lain sisi ini menjadi tantangan bagi kita untuk mempelajari bahasa negara anggota ASEAN lainnya, agar kita juga mampu bersaing di era MEA,” kata mahasiswa angkatan 2012 ini. Saat di Bangkok, Brahma dan kawan-kawan juga menyempatkan diri mengunjungi istana raja Thailand, Grand Palace serta dua kuil Budha terkenal, Wat Arun dan Wat Poo. Rombongan juga mendapatkan kehormatan untuk mengunjungi Kedutaan Besar RI di Bangkok.

Sebelum mengunjungi Bangkok, Brahma dan kawan-kawan dari Indonesia tinggal di desa yang bernama Baa Natonchan, Provinsi Sukhothai, guna tinggal bersama keluarga Thailand.  Selama tiga hari, Brahma dan kawan-kawan hidup di keluarga (host family) di Desa Baa Natonchan untuk mempelajari bahasa, adat istiadat serta budaya Thailand. Desa Baa Natonchan sendiri adalah salah satu desa di daerah Thailand tengah yang sudah ditetapkan sebagai World Heritage Site. “Desa ini terkenal karena menjadi lokasi situs peninggalan kerajaan Sukothai yang bernama Si Satchanalai Historical Park,” imbuh Brahma yang aktif di BEM FKM Universitas Jember.

Walau berbeda bahasa dan budaya, keakraban antara perwakilan pemuda Indonesia dengan warga Desa Baa Natonchan terjalin dengan baik. Kegiatan keseharian seperti memasak makanan khas Thailand, menenun bahkan kerja bhakti turut diikuti oleh Brahma dan kawan-kawan. “Di malam terakhir, kami mengadakan malam seni yang menampilkan budaya Indonesia seperti penampilan lagu tradisional, tarian, drama, dan permainan khas Indonesia yang mendapatkan apresiasi dari masyarakat Desa Baa Nantochan. Sungguh sebuah perjalanan inspiratif yang memberikan pengalaman berharga,” kenang Brahma.(Iim/dian)

1 Comment

  • Ali
    Reply

    Kendala lulusan dalam menghadapi MEA menurut saya adalah bahasa, jadi bahasa harus dilatih sungguh – sungguh agar memiliki daya saing yang tinggi…,

Leave us a Comment