Jurusan Hubungan Internasional FISIP UNEJ Jajaki Kerjasama dengan National University of Singapore

Jember, 14 November 2016

Unej-NUS 2

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember menjajaki kerjasama dengan Asian Research Institute (ARI) National University of Singapore (NUS). Bentuk kerjasama yang sedang dijajaki adalah kerjasama di bidang penelitian, publikasi, serta workshop atau seminar. Untuk tahap awal, ARI mengundang 14 orang dosen dan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional dalam workshop yang diselenggarakan pada tanggal 7 dan 8 November 2016 lalu. Workshop yang mengambil tema Youth Mobilities and Immobilities in the Asia-Pasific Region ini dihadiri 50 peneliti dan dosen dari sejumlah universitas di dunia. Diantaranya dari Oxford University Inggris, University Institute of Lisbon Portugal, Osaka University Japan, National Chengchi University Taiwan, University of Melbourne, Australia, serta sejumlah universitas lain di Asia.

Honest Dody Molasy, dosen Ilmu Hubungan Internasional mengatakan bahwa kerjasama antar universitas sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas penelitian, pengajaran dan publikasi. Biasanya kerjasama yang dilakukan adalah kerjasama antar research group, dimana peneliti dengan fokus kajian yang sama bisa saling bertemu dan berinteraksi. Sayangnya Universitas Jember belum memiliki research group yang kuat, terutama di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, sehingga menyulitkan saat akan dilakukan kerjasama antar peneliti. Untuk itu ARI – NUS menawarkan sejumlah workshop kepada para peneliti di Universitas Jember yang diselenggarakan di Singapura.

Honest lantas melanjutkan, dalam workshop di kampus NUS, para dosen  berkesempatan berinteraksi dengan para koleganya sebagai wahana memperbaharui kajian keilmuan, dan berdiskusi tentang hasil penelitian. Sementara bagi para mahasiswa, workshop ini penting agar ilmu yang mereka dapatkan dari dosen dan mereka pelajari dari buku bisa dikembangkan dan didiskusikan dengan para peneliti kelas dunia, selain digunakan untuk kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) . “Ambil contoh dalam mata kuliah transnasionalisme dan mata kuliah globalisasi, mahasiswa hanya belajar teori saja di bangku kuliah. Dengan menghadiri workshop maka akan memberikan wawasan baru bagi mahasiswa, bagaimana teori yang mereka pelajari bisa diaplikasikan dalam bentuk penelitian yang nyata di lapangan. Kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk berdiskusi dengan para peneliti kelas dunia, dan menguatkan networking dengan peneliti dari universitas lain di seluruh dunia”, ujar dosen HI ini.

Sementara itu Prof. Jonathan Rigg, Direktur Asia Research Institute, National University of Singapore menyambut baik kedatangan 14 orang dosen dan mahasiswa Universitas Jember ke NUS. Dalam kesempatan itu, Jonathan juga menawarkan sejumlah workshop lain yang bisa dimanfaatkan oleh para peneliti dan mahasiswa Universitas Jember yang diselenggarakan pada tahun 2017 mendatang. “Kami di ARI juga melakukan sejumlah penelitian di Indonesia, diantaranya kajian tentang Tenaga Kerja Indonesia, serta kajian tentang isu terorisme dan Agama. Dalam kaitan ini, kerjasama dengan universitas di Indonesia sangat dibutuhkan untuk menguatkan penelitian,” jelas Jonathan Rigg.

Penjelasan Jonathan Rigg disokong koleganya, Khoo Choon Yen. Peneliti untuk kajian Tenaga Kerja Indonesia ini mengatakan bahwa dalam penelitian yang dilakukannya, NUS hanya bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada saja. Dia berharap, dengan adanya kerjasama dengan universitas lain di Indonesia, seperti Universitas Jember, bakal memperkuat hasil penelitian. Dia juga menyanggupi untuk datang ke Universitas Jember untuk memberikan kuliah tamu dan berdiskusi dengan para peneliti di Universitas Jember yang menggeluti kajian yang sama.

Selain mengikuti workshop di National University of Singapore (NUS), program KKL jurusan HI juga mendatangi KBRI di Singapura. Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diterima oleh Minister Counsellor Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Singapura, Dwiky Miftach. Dalam sambutannya, Dwiky Miftah menyambut baik kehadiran para mahasiswa ke KBRI Singapura. Sejumlah staff KBRI secara bergilir juga memberikan penjelasan kepada para mahasiswa tentang fungsi dan peran KBRI dalam menjalankan fungsi perwakilan Pemerintah Indonesia di negara asing.

Dalam acara ini, Dwiky juga memberikan kesempatan diskusi bagi para mahasiswa untuk mendiskusikan sejumlah persoalan yang terkait dengan hubungan Indonesia dan Singapura. Sejumlah persoalan yang sempat didiskusikan diantaranya adalah soal program tax amnesty, isu perbatasan, terorisme, perdagangan internasional serta isu TKI di Singapura. Dwiky menyatakan kekagumannya atas sikap kritis mahasiswa Universitas Jember terhadap sejumlah isu yang didiskusikan. Dia berharap agar diskusi antara mahasiswa dengan staff KBRI tidak hanya dilakukan di KBRI saja, tetapi universitas juga bisa mengundang staff KBRI untuk datang ke universitas sebagai dosen tamu. (Tim HI FISIP)

Leave us a Comment