Jember Masih Rentan Bencana

fisip_unej-630x330px

Jember, 17 November 2016

Sebagai daerah yang memiliki topografi pegunungan dan laut masyarakat Jember rentan sekali dengan terjadinya bencana alam banjir tanah longsor ataupun sunami. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember tercatat ada 17 kecamatan dari 31 kecamatan di Jember merupakan daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor selama musim hujan.

“Ada enam kecamatan masuk dalam kawasan rawan terkena bencana tsunami. Keenam kecamatan itu bersebelahan dengan Samudra Indonesia atau yang biasa disebut laut selatan. Keenamnya adalah Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas dan Kencong,” demikian yang disampaikan Drs. Darsan , SH.,M.Pd dalam ujian terbuka Ujian Terbuka Disertasi Program Doktor Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.

Dalam desertasi yang berjudul Manajemen Bencana Sebagai Kebijakan Publik dengan Studi Kasus Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor Berbasis Local Wisdom di Kabupaten Jember” Darsan memaparkan,upaya pemerintah dalam penanggulangan bencana belum optimal.

Menurutnya selama ini upaya yang pemerintah hanya sebatas pada penanggulangan bencana alam saja.

“Hanya berfokus pada pasca bencana belum pada pencegahan melalui sosialisasi ataupun penyuluhan dalam rangka menekan jumlah korban manakala terjadi bencana alam,” paparnya.

Darsan mencontohkan, implementasi kebijakan manajemen bencana banjir bandang dan tanah longsor dalam melibatkan masyarakat masih jauh dari optimal. Bahkan menurutnya, peran pemerintah masih sangat dominan pada setiap tahap bencana seperti halnya penggunaan dan pelaporan anggaran bencana.

“Pemerintah perlu melibatkan para tokoh masyarakat setempat dalam penanggulangan bencana. Karena masyarakat Jember masih banyak yang tradisional dimana mereka lebih percaya mengikuti proses selamatan ruwatan dari pada mengikuti proses penyuluhan kebencanaan,” paparnya lagi.

Sesuai dengan hasil ujian terbuka yang berlangsung hampir selama 2 jam ini Darsan dinyatakan lulus ujian dan berhak menyandang gelar Doktor. Dr. Djoko Purnomo, M.Si selaku ketua pimpinan sidang ujian terbuka berharap semangat darsan yang saat ini bekerja di lingkungan Kantor Pemuda dan Olah Raga juga diikuti oleh para jajarannya.

“Pak Darsan sudah membuktikan bahwa gelar doktor bukan lagi suatu hal yang sangat berat untuk diraih, dengan kebulatan tekat dan semangat yang kuat insyaallah akan dimudahkan,” ujar Purnomo.

Hadir pula penguji tamu  Dr. Soesilo Zauhar, M.Si dari Universitas Brawijaya Malang. Ujian kali ini juga dihadiri 3 penguji utama penguji I Dr. Agus Budiarjo, M.A selaku Dosen Fisip Unej, penguji II Dr. Anas Murdyastuti, M.Si selaku Dosen Fisip Unej, penguji III Dr. Sutomo, M. Si selaku Dosen Fisip Unej. Tidak hanya itu saja terdapat 3 promotor yaitu promotor I Prof. Dr. Hary Yuswadi, MA selaku promotor dan Mantan Dekan Fisip Unej, Co-Promotor I Prof. Dr. Syamsul Maarif, M. Si selaku Dosen Pengajar Fisip Unej, dan terakhir Co-Promotor II Dr. Sasongko, M.Si selaku Dosen Fisip Unej. (nis,moen)

Leave us a Comment