Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia 2015 Dimulai

Jember, 23 November 2015

Sebanyak kurang lebih 1670 peserta memadati Gedung Soetardjo Universitas Jember, mereka adalah peserta Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia 2015 yang hari ini, Senin 23 November 2015 dimulai. Para peserta ini adalah perwakilan buruh migran dari luar negeri seperti Arab Saudi, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan dan negara lainnya.

Jambore juga diikuti mantan buruh migran dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, pulau Jawa dan daerah lainnya. Tidak ketinggalan seluruh stake holder, akademisi, dan pemerhati buruh migran turut bergabung. Rencananya, Jambore Nasional Buruh Migran 2015 akan berlangsung hingga hari Rabu, 25 November 2015.

Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendiskusikan, menyusun dan merumuskan road map kebijakan perlindungan buruh migran Indonesia. “Jambore ini digagas karena melihat kenyataan bahwa nasib buruh migran Indonesia masih memprihatinkan. Satu juta lebih buruh migran kita menghadapi pelanggaran HAM seperti tidak digaji, diperkosa, dianiaya, serta mengalami perdagangan manusia.

Oleh karena itu jambore ini diharapkan dapat menghasilkan road map perlindungan buruh migran yang berbasis pada masalah nyata dengan didasari pada kajian ilmiah,” jelas Anis Hidayah.   Anis Hidayah menjelaskan selama ini Indonesia belum memiliki road map perlindungan buruh migran. Kebijakan yang dilakukan pemerintah masih bersifat reaktif dan ad hoc, misalnya jika ada TKI dihukum mati maka pemerintah membuat program moratorium pengiriman TKI, ada deportasi TKI baru membentuk tim.

Banyak pula kebijakan pemerintah di bidang buruh migran yang tidak berdasarkan pada kajian ilmiah “Oleh karena itu kami mengharapkan adanya pusat kajian migrasi yang meneliti dan mengkaji berbagai permasalahan mengenai buruh migran. Di negara-negara lain seperti Vietnam, Filipina, dan Bangladesh sudah ada pusat kajian migrasi. Oleh karena itu saya mengharapkan adanya pusat kajian migrasi di perguruan tinggi di Indonesia,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Menanggapi usulan pusat kajian migrasi ini, Rektor Universitas Jember berjanji akan menindaklanjuti usulan ini. Menurut Moh. Hasan, sebenarnya sudah ada penelitian dan kajian mengenai permasalahan buruh migran yang dilakukan para dosen dari berbagai perspektif kelimuan, oleh karena itu pendirian pusat kajian imigrasi sangat mungkin di Universitas Jember. “Jambore Nasional Buruh Migran ini menjadi momentum bagi Universitas Jember untuk memberikan sumbangan nyata bagi persoalan buruh migran.

Salah satunya dengan  mengorganisasikan pendirian pusat kajian imigrasi,” tambah Moh. Hasan.   Acara seremonial Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia 2015 dimeriahkan dengan penampilan tari yang dibawakan oleh para buruh migran dari NTB dan NTT. Para peserta jambore juga dapat melihat pameran hasil karya para buruh migran dan keluarganya dari seluruh Indonesia. Menurut jadwal, selepas upacara pembukaan, hari pertama jambore diisi dengan sidang pleno bertema Komitmen Pemerintah Daerah Dalam Perlindungan Buruh Migran. Sementara untuk diskusi tematik akan dimulai esok hari. (iim).

Leave us a Comment