Indonesia Berpeluang Menjadi Eksportir Kopi Dunia

DSC_3215

Jember, 9 November 2017

Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi eksportir kopi dunia. Pasalnya kondisi geografi indonesia yang memiliki banyak pegunungan sangat cocok untuk dijadikan perkebunan kopi.

“Yang jelas kondisi geografis ataupun iklim yang ada di Indonesia masih sangat bagus untuk perkebunan kopi. Lahan-lahan subur terhampar sangat luas saya yakin dengan sumber daya alam yang demikian bagus akan menghasilkan buah kopi yang berkualitas,” ujar Asssoc. Prof. Dr. Ir. Maizirwan Mel dari International Islamic University Malaysia dalam konferensi kopi internasional,  JICC (Jember International Coffee Conference) yang digelar di aula lantai III kantor pusat Universitas Jember 9-11 November 2017.

Dalam paparan makalahnya, Maizirwan mengatakan Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam yang bagus namun juga didukung oleh sumber daya manusia yang baik. Keberadaan universitas negeri di Indonesia yang memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan industri kopi menjadikan industri kopi semakin mudah untuk tumbuh besar.

“Seperti halnya Universitas Jember yang kian serius dalam melakukan peneltian dan kajian terhadap kopi agar bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tentunya ini akan membuat industri kopi yang ada di Indonesia akan tumbuh pesat jika dikelola dengan serius,” imbuh pria kelahiran Riau ini.

Namun Maizirwan menyayangkan saat ini Indonesia baru menempati ututan ke-4 untuk penghasil kopi dunia. Menurutnya, posisi Indonesia yang berada dibawah negara Vietnam dan Kolumbia sangat disayangkan.

“Yang saya herankan mengapa Indoseia bisa berada dibawah Vietnam. Karena secara SDM dan kondisi geografis Indonesia harusnya berada di atas Vietnam. Mungkin bisa jadi pemerintah belum serius dalam mengembangkan bisnis kopi ini,” lanjut Maizirwan.

Maizirwan menyayangkan, pengembangan industri kopi yang ada di Indonesia masih ditangani oleh masyarakat yang tergabung dalam himpunan petani kopi. Peran pemerintah menurutnya belum begitu nampak keseriusaannya dalam membantu masyarakat dalam pengelolaan dan pengolahan kopi.

“Berbeda dengan negara-negara lain pemerintahnya begitu serius dalam membantu masyarakat. Pemerintah di luar sana tidak hanya membantu masyarakat menghasilkan kopi yang berkualitas namun juga membantu agar kopi yang dihasilkan bisa diterima pasar ekspor,” jelasnya lagi.

Sementara itu menurut Dr. I Dewa Ayu Susilawati ketua panitia JICC mengatakan, Kopi termasuk tanaman yang unik dan menarik untuk dibahas. Karena menurutnya, berbicara kopi tidak lagi hanya bisa dipandang dari aspek pertanian  dan ekonomi saja.

“Membahas masalah Kopi juga menarik bila berbicara tentang kehidupan masyarakat perkebunan kopi, apalagi perkebunan kopi rakyat.  Ada banyak hal yang bisa dilihat, misalnya  kehidupan sehari-hari keluarga petani, pendidikan anak-anaknya, budaya yang  berkembang, lingkungan hidupnya dan lainnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Dr. Susi ini.

Menurut Susi, saat ini Universitas Jember memiliki tengah memiliki concern yang besar terhadap kopi rakyat. Universitas Jember memiliki keinginan besar untuk turut berkontribusi memberikan nilai tambah bagi kopi sehingga kopi rakyat menjadi lebih bernilai dan bermanfaat mensejahterakan kehidupan masyarakatnya.

“Sejalan dengan hal tersebut, tema utama JICC adalah coffee for social welfare, dengan subtema, 1) Coffee for Biotechnology and Agriculture; 2) Coffee for Technology; 3) Coffee for Health; 4) Coffee for Social-Politic and Law; 5) Coffee for Culture and Humanities;
6) Coffee for Education; 7) Coffee for Economy, Creative Economy and Tourism,” lanjut Susi.

Dalam sambutan singkatnya Susi juga menjelaskan, dari sisi budidaya kopi, Universitas Jember juga berkeinginan berkontribusi meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi. Salah satunya melalui pengembangan agen pengendali hayati nematoda parasit utama kopi yang berpotensi menekan kehilangan hasil produksi kopi sampai 80%.

“Dari sisi kesehatan,  telah dikonfirmasi bahwa kopi merupakan minuman sehat, mengandung banyak antioksidan yang baik untuk mencegah berbagai penyakit.  Tips mengkonsumsi kopi yang menyehatkan adalah, mengkonsumsi 1-2 cangkir/hari, minum kopi sesudah makan, dan sebaiknya diminum pada pagi dan atau siang hari,” imbuh Susi.

Dalam penutupnya Susi menjelaskan potensi lain pada pengembangan kopi rakyat melalui diversifikasi produk dari limbah kopi. Karena menurutnya, limbah kopi yang mencapai 56 persen dari total produksi, saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hanya sekitar 35 persen dari total limbah solid kopi berupa kulit yang digunakan sebagai pupuk organik yang memerlukan waktu 6 bulan proses dekomposisi.

“Limbah yang 65 persen dapat digunakan sumber energi terbarukan berupa briket dan pellet. Limbah cair pengolahan kopi dapat dijadikan sebagai bahan bakar berupa bio-etanol. Dengan pemanfaatan limbah kopi ini diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar perkebunan kopi dan memanfatkan sebagai sumber energi terbarukan,” pungkasnya.