Ikuti AISS, Peneliti Universitas Jember Mendapatkan Pengakuan Internasional

Jember, 8 Desember 2016

Undangan bagi peneliti Universitas Jember untuk ikut serta dalam ajang Australian Indonesia Science Symposium (AISS), menunjukkan adanya pengakuan dunia internasional atas prestasi yang telah ditorehkan para peneliti di Kampus Tegalboto. Dalam kegiatan yang diadakan di Canberra, Australia, pada tanggal 28 November hingga 1 Desember lalu, para  peneliti Universitas Jember yang diwakili oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto dan Widhi Dyah Savitri, PhD, dari CDAST berkesempatan memberikan kuliah dan memaparkan hasil penelitiannya di hadapan para peserta yang merupakan para peneliti dari Australia dan Indonesia.

“AISS adalah forum yang digelar untuk mempertemukan para peneliti dari Australia dengan koleganya dari Indonesia, terutama para peneliti yang sudah berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, baik yang sudah senior maupun junior,” jelas Prof. Bambang Sugiharto. Dalam kegiatan yang diadakan di gedung Shine Dome ini, Prof. Bambang Sugiharto mendapatkan kehormatan memberikan kuliah umum mengenai penemuan tebu tahan kering melalui rekayasa genetika. Sementara di sesi diskusi, mempresentasikan makalah yang berjudul The Role And Regulation of Sucrose Phospate Synthase From Sugarcane. “Kesempatan ikut serta dalam AISS menunjukkan bahwa kapasitas para peneliti Universitas Jember diakui secara internasional,” tambah Ketua CDAST Universitas Jember ini.

Sebelumnya, acara AISS dibuka secara resmi oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang  Brodjonegoro, bersama Menteri Pembangunan Internasional dan Pasifik, Australia Concetta Fierravanti-Wells, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Australia Prof. Andrew Holmes, dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Sangkot Marzuki. Terdapat 50  peneliti Indonesia yang turut serta, mereka berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang ada di Indonesia. Dalam perhelatan AISS pertama ini, tema yang dibahas meliputi bidang kedokteran, kelautan, pertanian, dan perubahan iklim.

Prof. Bambang Sugiharto kemudian menambahkan, ajang AISS juga membuka kesempatan kerjasama antara peneliti Indonesia dengan peneliti Australia. “Beberapa peneliti Australia seperti Prof. Susanne Schimdt dari University of Queensland, dan Prof. Bob Furbank dari Australian National University sudah menyatakan tertarik dengan penelitian mengenai tebu tahan kering yang saya kembangkan, dan dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti,” urai penemu tebu tahan kering ini. Sementara itu beberapa bidang penelitian lain yang tengah dikembangkan di Australia, juga berpotensi dikembangkan di kampus Tegalboto, seperti pisang yang memiliki kandungan vitamin A.

Terkait penelitian yang kini tengah dikembangkan di CDAST Universitas Jember, Prof. Bambang Sugiharto menjelaskan bahwa untuk varietas tebu dengan rendemen tinggi kini tengah memasuki persiapan ke tahapan uji lapangan dan sertifikasi keamanan lingkungan dan pangan. “Para peneliti CDAST juga terus mengembangkan penelitian-penelitian lain semisal padi Golden Rice, melinjo, kapsulasi enzim dan penelitian lainnya,” pungkasnya. (iim)

Leave us a Comment