IGP Wiranegara : Film Dokumenter Butuh Riset Yang Serius

Jember, 5 Desember 2016

Film dokumenter adalah representasi atas realitas yang bersifat subyektif, karena dipengaruhi oleh argumen sang sutradara. Namun perlu diingat subyektifitas berdasar argumen tersebut wajib dilandasi oleh riset, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Pernyataan ini disampaikan oleh sutradara film dokumenter, I Gede Putu Wiranegara, di hadapan peserta seminar “Perkembangan Format Film Dokumenter (Obyek Material, Estetika, dan Artistik)” yang digelar oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2016 yang diselenggarakan di aula FIB Universitas Jember (5/12).

Pria asal Denpasar yang juga aktif sebagai pengajar mata kuliah film dokumenter di beberapa perguruan tinggi ini lantas mengingatkan pentingnya riset yang serius sebagai dasar untuk membuat film dokumenter yang berkualitas. “Film dokumenter itu subyektif bahkan berpihak, jika tidak maka namanya berita. Oleh karena itu perlu landasan riset yang baik agar tidak terjadi salah data, salah informasi dan kesalahan lain yang membuat film dokumenter tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata IGP Wiranegara. Peraih gelar sutradara terbaik untuk kategori film dokumenter dalam Festival Film Indonesia 2005 ini lantas menekankan pentingnya setiap sineas film dokumenter untuk berpegang pada kejujuran dan kebenaran dalam berkarya, baik untuk sisi ekspresi aktor maupun isi film.

Pentingnya riset dalam film dokumenter diakui oleh M. Zamroni, pengajar di Program Studi Televisi dan Film, FIB Universitas Jember, yang ditemui di sela-sela kegiatan. “Saya memerlukan waktu selama dua tahun untuk riset film dokumenter saya berjudul Java Teak,” ujarnya. Dalam film dokumenter yang bertutur mengenai serba serbi kayu jati ini, dirinya butuh mengumpulkan segala data dan informasi mengenai kayu jati, baik dari sisi kayu jati sebagai tanaman, nilai ekonomisnya, kayu jati menurut pandangan orang Jawa, serta sejarah dan peran kayu jati dalam peradaban Jawa, khususnya bagi kraton dan mesjid.

Pendapat senada juga disampaikan oleh pengajar Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bambang Aris Kartiko. Menurutnya, riset dalam pembuatan film dokumenter menjadi penting mengingat selain berfungsi sebagai hiburan, film dokumenter memiliki tujuan untuk memberi informasi, memberikan edukasi dan melakukan transformasi nilai. “Tujuan untuk memberikan informasi, edukasi dan transformasi nilai tadi mustahil dicapai oleh film dokumenter jika tanpa dilandasi riset yang serius,” tutur dosen yang sedang studi doktoral di program studi pengkajian seni, khususnya seni film ini.

Sementara itu, Didik Suharijadi, ketua panitia kegiatan menjelaskan jika pemilihan film dokumenter sebagai tema besar dalam Pekan Chairil Anwar 2016, didasarkan pada makin besarnya kebutuhan untuk mendokumentasikan banyak bidang dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui bentuk audio visual, termasuk film dokumenter. “Rekaman audio visual seperti film dokumenter diperlukan dalam mendokumentasikan bahasa, ritual atau perilaku manusia yang bersifat intangible agar tidak hilang begitu saja,” pungkasnya. Selain diisi dengan kegiatan seminar, Pekan Chairil Anwar 2016 juga diisi dengan diskusi dan pemutaran film dokumenter yang dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, tanggal 3 dan 4 Desember lalu. (iim)

1 Comment

  • IGP Wiranegara
    Reply

    Terima kasih sudah diundang berbagi di UNEJ semoga ada manfaat yang bisa didapat oleh mahasiswa peserta seminar.
    Liputannya bagus.

Leave us a Comment