HI FISIP dan Kemenlu RI Bahas Prospek Kerjasama RI Dengan Timur Tengah

IORA

Senin, 30 Oktober 2017

Indonesia dan negara-negara Timur Tengah memiliki sejarah relasi yang erat, khususnya di bidang agama dan budaya. Modal ini patut untuk dikembangkan agar Indonesia dapat lebih berperan di wilayah Timur Tengah, baik dibidang diplomasi, perdamaian, ekonomi, serta sosial budaya. Kesimpulan ini menjadi benang merah dalam kuliah umum “IORA dan Pemberdayaan Hubungan Historis Nusantara dan Timur Tengah: Menerjemahkan Kedekatan Sejarah Menjadi  Peluang Strategis” yang diselenggarakan di Auditorium FISIP Universitas Jember. Kuliah umum yang digelar di auditorium FISIP ini terselenggara atas kerjasama antara Direktorat Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri RI, dengan Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember (30/10).

Dalam pemaparannya, Sunarko, Sunarko, Direktur Timur Tengah Kemenlu RI menjelaskan pentingnya membangun dan memperkuat diplomasi kepada negara-negara Timur Tengah, apalagi Indonesia saat ini menjadi ketua Indian Ocean Rim Association (IORA), organisasi negara-negara  yang berbatasan langsung dengan samudera India, dan negara yang memiliki kepentingan dengan samudera India. “Banyak negara Timur Tengah yang wilayahnya berbatasan dengan samudera India seperti Oman, yaman, UAE dan lainnya. Jadi dengan modal sebagai negara dengan penghuni muslim terbesar di dunia, maka Indonesia berpeluang berperan aktif membangun fondasi kerjasama,” jelas Sunarko. IORA sendiri beranggotakan 28 negara.

Selain menghadirkan Direktur Direktur Timur Tengah Kemenlu RI, kuliah umum menampilkan pakar Hubungan Internasional Abubakar Eby Hara dan Djoko Susilo. Dalam pemaparannya, Abubakar Eby Hara berpendapat peluang pengembangan diplomasi di wilayah Timur Tengah melalui IORA patut dipertimbangkan mengingat Indonesia tengah mengembangkan kebijakan poros maritim. Sementara itu koleganya, Djoko Susilo membahas enam prinsip IORA, yaitu: keamanan dan keselamatan maritim, fasilitas perdagangan dan investasi, manajemen perikanan, manajemen risiko bencana, Kerjasama akademik dan iptek, dan Pariwisata dan pertukaran budaya.

Sementara itu menurut Nurul Aulia, salah seorang diplomat senior Kemenlu RI, kegiatan kali ini selain bertujuan mensosialisasikan kebijakan Kemenlu RI, mendiseminasikan hasil kepemimpinan Indonesia dalam IORA, serta membuka peluang merekrut bibit-bibit muda calon diplomat dari kampus Tegalboto. “Harapan kami akan muncul diplomat-diplomat unggul dari Universitas Jember, yang mengikuti jejak seniornya yang sudah berkiprah di Kemenlu RI,” ujarnya.

Sebelumnya dalam pidato pembukaannya, Ardianto, Dekan FISIP Universitas Jember, mengharapkan agar kegiatan kuliah umum yang menghadirkan para pakar dan praktisi Hubungan internasional dapat memperkaya khazanah pengetahuan para mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional khususnya, dan mahasiswa FISIP pada umumnya. (nis)