Harus Selektif Dalam Memilih Dan Mengkonsumsi Obat

Jember, 30 November 2015

Ketika sakit ada orang yang langsung mencari obat untuk diminum ada pula yang lebih memilih cara tradisional seperti minum air hangat ditambah perasan jeruk lemon dan madu untuk mengobati sakit batuk. Sebenarnya mana yang lebih efektif pengunanan obat dan cara tradisional dalam menangani sakit?

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M. Med. Sc., Ph. D dalam acara seminar nasional farmasi yang bertema “Current Challenges In Drus Development: Tantangan Terkini Perkembangan Obat Dan Aplikasi Klinis” yang digelar oelh Fakultas Farmasi Universitas Jember, (28/11).

“Tidak perlu kita sedikit-sedikit minum obat karena sebenarnya tidak semua penyakit harus diselesaikan dengan meminum obat,” papar Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M. Med. Sc., Ph. D. Dia mencontohkan sakit batuk yang sebenarnya bisa diobati cukup dengan minum air hangat dan jeruk nipis atau lemon dan istirahat yang cukup.

“Mungkin memang proses penyembuhannya lebih lama paling selisihnya jika dibandingkan obat hanya sekitar 3 jam lebih lama, namun itu akan jauh lebih baik dari pada sakit sedikit langsung minum obat,” jelas Prof. Iwan.

Dalam acara yang digelar di aula Hotel Aston itu, Prof. Iwan menjelaskan nilai kesehatan masyakat sama pentingnya dengan kualitas pendidikan. Namun Prof. Iwan menyayangkan belanja kesehatan negara Indonesia masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan anggaran untuk belanja pendidikan.

“Ya setidaknya sama lah, kan orang sekolah juga butuh sehat bisa kita bayangkan betapa tidak nyamannya jika masyarakatnya pintar tapi sakit-sakitan,” imbuhnya.

Lebih jauh Prof. Iwan mengungkapkan, kondisi diatas diperparah dengan adanya oknum dokter yang bermain dalam memberikan resep. Karena menurutnya tidak sedikit oknum dokter yang memberikan resep obat dengan harga yang mahal.

“Padahal obat generik yang murah juga bisa diresepkan dan kandungannya juga tidak jauh berbeda, namun itu jarang dilakukan karena iming-iming keuntungan, sekali lagi saya katakan itu adalah oknum,” jelasnya.

Prof. Iwan berharap masyarakat mulai selektif dalam memilih dan mengkonsumsi obat. Dia berpesan agar obat diminum hanya karena adanya indikasi sakit dan memang perlu mengkonsumsi obat.

“Jangan sedikit-sedikit minum mulitivitamin, kalau dapat resep obat mahal jangan langsung dibeli tapi tanyakan yang generik saja banyak kok obat generik murah yang kandungan dan khasiatnya sama dengan obat mahal,” ungkapnya.

 Prof. Iwan berpesan agar masyarakat tidak terbuai dengan bahasa promosi yang mengatakan obat mahal selalu lebih baik. “Sekali lagi saya katakan jangan percaya obat mahal selalu lebih bagus, harga mahal itu bisa jadi karena permainan oknum bukan karena kandungan obatnya,” pungkasnya. (Mun)

Leave us a Comment