Harry A. Poeze : Yakin Makam Tan Malaka di Selopanggung

Jember, 10 Januari 2014

Walau hasil tes DNA atas jenazah yang diperkirakan sebagai jenazah tokoh Tan Malaka belum keluar, namun Harry A. Poeze, sejarawan dan peneliti dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Universitas Leiden Belanda) percaya bahwa jazad yang berada dalam makam di Desa Selopanggung Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri tersebut adalah makam Tan Malaka. Keyakinan Harry A. Poeze ini didasarkan pada data hasil pemeriksaan forensik yang cocok dengan data fisik Tan Malaka. “Tinggi badan dan ciri fisik lainnya cocok, serta posisi kedua tangan yang ada di belakang punggung menunjukkan posisi saat dia dieksekusi,” jelas Harry A. Poeze.

Pendapat Harry A. Poeze ini dilontarkan dalam kegiatan kuliah umum berjudul “Jejak Tan Malaka di Republik Muda” yang digelar hari Senin (10/2) oleh Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember. Kegiatan kuliah umum kali ini dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, serta mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di seputaran Jember. Keyakinan Harry A. Poeze ini juga dilandasi atas riset terhadap dokumentasi tertulis dan wawancara kepada saksi mata yang ada, yang sudah dilakukannya selama hampir 40 tahun.

Dalam  pemaparannya, Harry A. Poeze banyak menjelaskan masa-masa akhir dari fase kehidupan Tan Malaka (September 1948 – Desember 1949). Tulisan mengenai fase akhir hidup dari Tan Malaka ini yang kemudian dibukukan menjadi jilid keempat, menyambung tiga buku mengenai Tan Malaka yang sudah ditulisnya. Pada masa-masa menjelang dan sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, Tan Malaka aktif berhubungan dengan para tokoh kemerdekaan seperti Ir. Soekarno, M. Hatta, Sjahrir dan tokoh pergerakan lainnya guna memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun justru saat naskah proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno, dirinya tidak bisa hadir, suatu hal yang sangat disesali Tan Malaka. Tidak hanya menjelaskan sepak terjang Tan Malaka, Harry A. Poeze juga menunjukkan bukti hadirnya Tan Malaka menemani Presiden Soekarno saat rapat raksasa di lapangan Ikada 19 September 1945.

Walau jarang muncul di depan umum karena dicari oleh berbagai pihak akibat keterlibatannya dalam organisasi Komunis Internasional (Komintern), Tan Malaka banyak memberikan masukan kepada para pemimpin republik muda ini melalui saran dan tulisannya. Bibit perpecahan muncul saat pemerintah Republik Indonesia bersedia berunding dengan Belanda, hal yang sangat ditentang oleh Tan Malaka dan menjadikan dirinya pihak oposisi dari pemerintah republik yang baru berdiri. Penentangan ini membuat hubungan dirinya dengan Soekarno-Hatta dan pemimpin RI lainnya memburuk, bahkan Tan Malah sempat ditahan selama 2,5 tahun.

Selepas dari penjara, Tan Malaka menerima anjuran untuk mengungsi ke Kediri di bawah perlindungan seorang komandan batalyon bernama Sabaruddin. Tindakan ini menurut Harry A. Poeze sulit dimengerti karena mengingat rekam jejak Sabaruddin yang jelek. “Sampai saat ini saya masih belum menemukan informasi mengapa Tan Malaka mau menerima ajakan bergabung dengan Sabaruddin,” ujarnya.

Dalam masa pengungsian di Kediri ini dirinya masih sempat menulis mengenai Gerilja, Politik dan Ekonomi (Gerpolek). Pada tahun 1948 Belanda melaksanakan Agresi Militer II yang membuat Soekarno-Hatta ditangkap. Tan Malaka kemudian mengkritik para komandan militer saat itu yang menurutnya takut menghadapi Belanda. Dirinya juga mulai mengorganisasikan diri bersama Sabaruddin untuk membuat gerakan perlawanan terhadap Belanda yang masuk kembali ke Indonesia.

Kritikan dan gerakan Tan Malaka Cs ini membuat pemimpin militer di Jawa Timur memerintahkan penangkapan atas dirinya. Akhirnya Tan Malaka ditangkap dan ditembak mati pada  tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Jenazahnya sempat dimakamkan sementara di dekat markas Letda. Soekotjo, untuk kemudian dipindahkan di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. (iim)

Leave us a Comment