H. Andi Alamsyah, CEO Shafira Tour and Travel : Fokus Jaga dan Besarkan Nama Shafira

Shafira-_UNEJ_2-700×426 (1)

Jember, 2 April 2018

Peristiwa gagal berangkatnya jamaah umroh oleh beberapa biro penyelenggara umroh membuat banyak pihak prihatin, bahkan kasusnya berlanjut ke meja hijau. Kejadian ini membuat konsumen dituntut untuk lebih berhati-hati dalam memilih biro penyelenggara umroh agar tidak berakhir dengan nestapa. Di saat biro penyelenggara umroh lain mungkin masih sibuk mencari konsumen, maka berbeda dengan biro penyelenggara umroh Shafira Tour and Travel yang justru dalam tiga minggu saja mampu memenuhi target peserta, dan pasti akan memberangkatkan jamaahnya. Nama Shafira Tour and Travel sudah menjadi jaminan bakal berangkat, dan lancarnya ibadah di tanah suci.

Kesuksesan ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat atas brand Shafira Tour and Travel, yang memang benar-benar dijaga dan dibesarkan oleh sang CEO, H. Andi Alamsyah, yang berkesempatan membeberkan resep suksesnya di hadapan para wisudawan periode V tahun akademik 2017/2018 di Gedung Soetardjo (31/3). “Walaupun saya memiliki beberapa unit usaha, namun hidup saya 24 jam fokus kepada Shafira saja, biarlah unit usaha yang lain ditangani para profesional,” tutur H. Andi Alamsyah yang hadir dalam kapasitas alumnus berprestasi ini. Selain menjalankan usaha biro penyelenggara umroh dan haji, alumnus program studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember angkatan tahun 1983 ini memiliki usaha properti, hotel dan retail.

H. Andi Alamsyah lantas menceritakan kisahnya hingga sukses menjadi pengusaha. “Dulu saya bekerja di sebuah bank, meniti karir dari posisi terendah hingga dipercaya masuk level manajer karena dinilai berprestasi. Namun di saat tahun 1997 krisis moneter menerpa Indonesia, membuat bank tempat saya bekerja tutup dan saya di-PHK,” kenangnya. Tak mau terpuruk, dirinya lantas banting setir menjadi pengusaha, dan bidang yang dipilihnya adalah biro penyelenggara umroh dan haji. “Saya melihat orang Islam mau yang kaya, atau miskin, dalam kondisi susah ataupun senang pasti ingin berumroh atau berhaji. Ini bisnis yang tidak ada matinya,” katanya lagi.

Pilihan bisnisnya ternyata tidak salah. Dengan didasari keuletan, pandai membaca peluang dan hemat, bisnisnya berkembang hingga kini, bahkan merambah bidang lainnya, termasuk pembangunan properti di Surabaya senilai 500 milyar rupiah. “Pesan saya bagi wisudawan Universitas Jember yang ingin jadi pengusaha, ingat lah agar selalu ulet, pandai membaca peluang dan hemat. Jangan membuka bisnis hanya karena ikut-ikutan saja, harus fokus. Sementara bagi yang akan memilih meniti karir, jangan pilih-pilih pekerjaan karena Anda butuh pengalaman. Yakin lah suatu saat akan ada titik balik dimana anda bakal fokus pada satu bidang untuk ditekuni,” pesan alumnus Universitas Jember yang kembali menginjakkan kaki ke gedung Soetardjo setelah 30 tahun meninggalkan Kampus Tegalboto ini. (iim)