Global Citizen AIESEC (1) Rizki Warda, Digigit Pasien Di Manila

Global Citizen AIESEC (1)

Rizki Warda, Digigit Pasien Di Manila

 Enam mahasiswa Universitas Jember terpilih untuk mengikuti program Global Citizen yang diselenggarakan oleh AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales). Program Global Citizen adalah program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa, untuk melakukan suatu proyek sosial yang memiliki cakupan Internasional. Dalam program ini, peserta akan menjadi seorang relawan/volunteer selama kurang lebih 6-8 minggu di salah satu dari 126 negara yang tergabung dalam AIESEC.

 Global Citizen sendiri adalah proyek yang bertujuan untuk memberikan sebuah dampak langsung pada masyarakat melalui proyek sosial ini. Global Citizen berfokus pada beberapa isus-isu di dunia seperti kesehatan, pendidikan, budaya, lingkungan, dan kewirausahaan. Mahasiswa yang ambil bagian akan mendapatkan banyak manfaat seperti International Networking, personal development, ataupun menjadi duta dari Indonesia.

 Untuk diketahui AIESEC adalah organisasi internasional untuk para pemuda yang membantu mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. AIESEC merupakan organisasi terbesar di dunia. Organisasi yang berdiri sejak tahun 1948 ini berfokus pada pengembangan kepemimpinan para pemuda, pengembangan kepemimpinan, pengalaman kepemimpinan, hingga partisipasi di Global Learning Environment. Saat ini  AIESEC berpusat di Rotterdam, Belanda.

 Berikut pengalaman para mahasiswa Tegalboto yang menjalani Golbal Citizen, yang dituliskan dalam seri Global Citizen AIESEC.

Rizki Warda, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Jember memilih Filipina sebagai tempat menjalani program Global Citizen AIESEC. Di negara asal petinju Manny Pacquiao ini, Rizki Warda bergabung dalam sebuah proyek sosial kesehatan bertajuk Stepping Stone. “Proyek Stepping Stone adalah proyek sosial kesehatan yang dijalankan oleh universitas wanita terbesar di Filipina, Mirriam College. Proyek ini berfokus pada penanganan anak-anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak-anak penderita autis,” ujar gadis yang akrab dipanggil Warda ini memulai kisahnya dua bulan di Manila semenjak bulan Januari 2016.

“Selama di Manila, saya bergabung dengan kawan-kawan dari Malaysia, China, Vietnam dan Brazil untuk mengkampanyekan mengenai bagaimana penanganan anak-anak yang menderita autis, termasuk bagaimana menjaga asupan makanan bagi anak-anak penderita autis yang harus menghindari kandungan gluten dalam makanannya. Kami bikin tema kampanye Autism versus Gluten,” jelas Warda yang tertarik menjadi dokter spesialis anak selepas lulus nanti.

Tidak hanya memberikan sosialisasi mengenai makanan yang cocok bagi anak-anak penderita autis kepada masyarakat Manila, Warda juga terjun langsung memberikan terapi bagi anak-anak penderita autis. “Sekali waktu pernah saya memeriksa anak penderita autis, eh si bocah mengamuk atau dalam bahasa ilmu kedokterannya mengalami eksaserbasi. Wah saya ditendang, dicakar bahkan digigit hingga tangan saya berdarah,” tutur Warda.

Namun pengalaman tadi tidak membuat Warda menjadi jera apalagi trauma, justru membuatnya semakin penasaran dan ingin mempelajari lebih dalam mengenai autisme. Salah satunya dengan sering berdiskusi bersama dengan mahasiswa kedokteran di Filipna, misalnya dari Ateneo University serta University of Makati. “Ini kan sudah jamannya Masyarakat Ekonomi ASEAN, saya juga ingin tahu dong bagaimana persiapan mereka. Ternyata seru diskusi bareng mereka, kebetulan beberapa buku-buku referensi yang saya pakai ada yang sama dengan yang mereka gunakan. Itung-itung belajar bahasa Tagalog,” kata mahasiswi berjilbab ini.

Selain mendapatkan banyak pengalaman terkait ilmu kedokteran dalam proyek sosial kesehatan Stepping Stone, Warda juga memiliki banyak kisah seru selama di Filipina. Salah satunya saat Warda pertama kali menginjakkan kaki di Quezon City, pasalnya tidak ada kawan yang menjemputnya, sementara warga sekitar memandangnya dengan penuh curiga. “Waktu pertama kali datang sambil menurunkan koper dan barang-barang, saya dihujani pertanyaan, kamu bagian dari ISIS ya ? Yang tetoris itu ? Mungkin karena saya pakai jilbab ya, bener-bener bikin nervous,” kisahnya.

Untungnya pandangan curiga dari warga sekitar berangsur-angsur reda setelah Warda menjelaskan niatnya datang ke Filipina. “Saya sempatkan bertamu ke beberapa tetangga asrama, Alhamdulillah mereka menyambut dengan baik. Bahkan membantu saya dalam banyak hal, termasuk menunjukkan warung atau restoran yang halal atau bebas daging babi,” tambah Warda tertawa.

Gadis lincah ini mengaku banyak sekali mendapatkan manfaat selama hidup bersama penduduk asli Filipina. Selain mendapatkan banyak teman, Warda jadi mengerti dan mendalami adat kebiasaan penduduk asli Filipina. “Filipina itu memiliki kemiripan dengan Indonesia, terdiri dari banyak pulau yang memiliki masing-masing adat kebudayaan. Kebetulan teman-teman di asrama berasal dari beberapa daerah dari pulau-pulau yang tersebar di Filipina, demi pekerjaan mereka harus menetap di Manila,” tukas gadis berzodiak scorpio ini mengingat kawan seasrama yang mengajarinya banyak hal tentang Filipina. Dari bahasa, mode, artis favorit, politik hingga  bagaimana menjadi wanita idaman pria Filipina.

Selain fokus pada kegiatan dalam rangka kampanye program Stepping Stone, Warda berkesempatan menghadiri Global Youth Summit 2016 di Manila, tepatnya di aula Mall of Asia. Dalam konferensi ini, Warda berkesempatan bertemu banyak inspirator dan motivator. “Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bergabung dan bertemu banyak orang hebat, salah satunya adalah mantan duta besar Chile untuk Filipina, Roberto Mayorga. Beliau ini penulis buku Calidad Humana Book 1: Sharing the Filipino Spirit yang mendapatkan tanggapan hangat di Filipina,” tukas Warda.

Warda mengaku bersyukur mendapatkan pengalaman yang berguna dalam menjalani langkahnya sebagai seorang dokter muda. Yang lebih penting lagi, Warda mendapatkan banyak pelajaran dari koleganya sesama peserta Global Citizen AIESEC yang berasal dari berbagai negara. Warda juga yakin jika lulusan Universitas Jember, mampu bersaing di lingkup global seperti era Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Ada pesan yang menancap di hati saya, Never put any limitation since you want to start something, but if you done you know your limitation, be brave and always be a dive. Lets rock the world guys! Sige na!” ucap Warda menutup cerita pengalamannya dengan ungkapan Tagalog. (warda/iim)

aiesec2_unej

Leave us a Comment