Gempa Dan Kebakaran Melanda Kampus Tegalboto

Jember, 14 November 2016

Korrek1

Hari Senin (14/11) sekitar jam 10.08 WIB, kampus Tegalboto dilanda gempa bumi dengan kekuatan 7,2 skala richter. Gempa bumi ini mengakibatkan gedung rektorat terbakar, tepatnya di lantai dua. Gempa juga memakan korban, dua karyawan terluka sehingga membutuhkan evakuasi dari lantai dua. Kepanikan sempat melanda para karyawan, namun berkat kesigapan petugas Satuan Pengamanan (Satpam) yang bahu membahu dengan mahasiswa anggota Komunitas Relawan Kampus (Korrek), situasi dapat dikendalikan sehingga korban jiwa dapat diminimalkan.

Gempa dan kebakaran tersebut adalah skenario dalam rangka “Sosialisasi dan Simulasi Penyelamatan Bencana Alam Gempa Bumi dan Kebakaran Gedung” yang diadakan oleh Korrek bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan SAR Nasional (Basarnas), serta Pemadam Kebakaran Jember. Menurut Joko Mulyono, Pembina Korrek, kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana alam yang bisa terjadi kapan saja. “Untuk simulasi hari ini kami melibatkan 122 mahasiswa yang juga relawan Korrek. Mereka sudah mendapatkan berbagai pelatihan, dari evakuasi, kesehatan, hingga manajemen pengungsian,” jelas pria yang juga dosen di FISIP ini.

Korrek3

Dalam kegiatan tersebut, diawali dengan sosialisasi mengenai bencana dihadapan 200 peserta yang terdiri dari pimpinan dan karyawan Universitas Jember, khususnya yang bekerja di Gedung Rektorat dr. R. Achmad. Kegiatan diteruskan dengan simulasi bencana gempa bumi dan kebakaran, termasuk aksi evakuasi korban dari lantai dua Gedung Rektorat. “Kami merencanakan untuk membentuk Unit Reaksi Cepat Bencana yang terdiri dari relawan Korrek, Satpam, Humas dan UNEJ Medical Center sebagai tulang punggung penanganan bencana di lingkungan kampus Tegalboto,” tambah Joko Mulyono.

Sementara itu Rektor Universitas Jember, mengapresiasi kegiatan yang dimotori oleh Korrek. Pasalnya selama ini kegiatan simulasi yang dapat membangkitkan kewaspadaan terhadap bahaya bencana alam masih minim. “Universitas Jember memiliki banyak gedung tinggi, bahkan tahun depan kita membangun lima gedung berlantai enam. Kesemuanya wajib diimbangi dengan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja,” kata Moh. Hasan.

Harapannya, kegiatan simulasi seperti ini bakal diadakan secara rutin guna meningkatkan kewaspadaan sekaligus mengasah kepekaan terhadap bencana alam. “Karena ini kali pertama dilakukan, maka wajar di sana sini masih banyak kekurangan. Termasuk banyak karyawan yang belum terlibat secara langsung, apalagi pengumuman simulasi memang sudah beredar beberapa hari sebelumnya sehingga unsur surprise-nya kurang. Bukan tidak mungkin nanti simulasi dilakukan tanpa ada pemberitahuan lebih dahulu agar mendekati kenyataan, agar kita waspada dan siap selalu menghadapi bencana alam,” tutur Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember menambahkan. (iim)

Leave us a Comment