Garin Nugroho : PSTF Universitas Jember Harus Punya Kiblat !

Jember, 31 Oktober 2014

Sutradara kawakan sekaligus budayawan Garin Nugroho mengingatkan agar Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Universitas Jember memiliki kiblat sendiri agar mampu berbicara dalam percaturan dunia televisi dan film di Indonesia. Pendapat ini disampaikan Garin pada saat acara seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan Perfilman Indonesia Sebagai Industri Kreatif di Era Digital dan pengaruh Kapitalisme Global” yang digelar oleh PSTF Fakultas Sastra Universitas Jember (30/10).

Menurut Garin, kiblat ini nantinya akan menjadi ciri khas yang akan membedakan antara PSTF Universitas Jember dengan institusi pendidikan televisi dan film yang lain. Garin lantas mencontohkan perguruan tinggi seperti Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memiliki ciri khas urban, karena posisinya yang ada di Jakarta sebagai ibukota Indonesia tempat kaum urban berada. Maka begitu pula dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Solo memiliki kekhasan tersendiri. “Kiblat itu bisa dicapai melalui kepekaan atau daya sensivitas terhadap fenomena yang terjadi dalam masyarakat Jember dan sekitarnya. Jember dengan ciri pertemuan budaya Jawa dan Madura serta sejarah perkebunannya bisa jadi modal,” jelas Garin.

Sutradara yang tengah menyiapkan film mengenai tokoh pergerakan nasional HOS  Tjokroaminoto ini menegaskan, berangkat dari kepekaan atas fenomena sosial yang ada di masyarakat Jember,  maka PSTF Universitas Jember akan memiliki kiblat yang akan menjadi ciri khasnya. “Di era digital, maka kesempatan berkreasi terbuka lebar, kesempatan mereka yang di Jakarta sama dengan yang di daerah. Asal kreatif,” tutur Garin.

Namun Garin juga mengakui jika keberadaan PSTF Universitas Jember yang ada di daerah memiliki tantangan. Tantangan itu pertama adalah kenyataan jika desentralisasi politik ternyata belum diikuti oleh desentralisasi ekonomi, sehingga perputaran uang masih di Jakarta saja. Kedua, masyarakat kita sudah terbiasa dengan model program televisi dan film yang Jakarta sentris. Ketiga, kualitas sumber daya manusia dalam bidang televisi dan film yang memang masih harus ditingkatkan. “Maka perlu dibangun jejaring dengan banyak pihak agar PSTF Universitas Jember mampu bersinergi dengan banyak pihak,”  kata Garin lagi.

Setelah memberikan materi dalam seminar, Garin Nugroho juga menyempatkan berdiskusi bersama komunitas pegiat seni dan film dari Fakultas Sastra Universitas Jember serta komunitas seni Jember dalam kegiatan Forum Kemisan pada hari Kamis malam (30/10) di halaman Fakultas Sastra Kampus Tegalboto. Selain menampilkan pembicara sutradara Garin Nugroho, tampil akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. PM. Laksono, MA yang memberikan ulasan mengenai televisi dan  film dari sisi filosofis. Kegiatan seminar dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Jember, Dr. Khairus Salikin, MED. (iim)

Leave us a Comment