Food Culturing: Sebuah Agenda Baru Dalam Seminar International Di Indonesia

Jember, 9 September 2015

International Conference on Food, Agriculture and Natural Resources (IC-FANRes) bukan hanya sekedar menyajikan agenda yang bernuansa scientific, tetapi juga menyajikan segmen acara lain yang bersifat rekreatif dan inovatif yang tidak kalah menariknya. Panitia menyebutnya sebagai Food Culturing.

Menurut Lailatul Azkiyah, S.TP., MP. yang merupakan salah key person yang berperan dalam mengorganisir acara tersebut menuturkan “bahwa food culturing tidak sekedar menjadi pelengkap kegiatan scientifc dari International Conference, tetapi juga mengenalkan dan mensosialisasikan lebih jauh makanan-makanan khas / tradisional dari beberapa negara delegasi, seperti Ingkung dari Indonesia, Tom Yam dari Thailand, Susi yang merupakan makanan khas Jepang, Kimci kebanggan masyarakat Korea dan Kare Ayam dari Malaysia”.

Food culturing dikemas sangat atraktif dan komunikatif dengan para audiens di selah-selah acara welcome party dari IC-FANRes. Para perwakilan universitas delegasi mempresentasikan dengan penuh antusias makanan khas negara masing-masing dari mulai sejarah, keunggulan dan manfaatnya, serta bahan dan cara memprosesnya termasuk teknik penyajiannya. Dari beberapa delagasi bahkan ada yang mendomonstrasikan cara membuat dan menyajikannya seperti Ingkung (Indonesia), Tom Yam (Thailand), Kare (Malaysia) dan Kimci (Korea). Setelah makanan siap disajikan, spontan para audiens yang hadir dengan antusias mendekat dan berebut mencicipi makanan khas negara-negara delegasi. Tampak bagaimana Kimci paling diburu oleh para audiens.

                Dr. Jang Kyung Hee dkk telah mempersiapkannya cukup lama jauh hari sebelum berangkat ke Indonesia. “Saya ingin menunjukkan pada audiens dari IC-FANRes tentang keunggulan kimci, bahkan saya telah memilih bumbu kimci yang paling istimewa dari hasil fermentasi selama 3 tahun. Dan buktinya pencicip terbanyak adalah kimci yang saya sajikan”. Saat audiens dari Thailand bertanya, “sulitkah cara membuat Kimci ini dan bagaimana anda menyiapkan bahan baku seperti sayur dan lain-lain ?”, Dr. Jang menjawab “secara umum membuat Kimci tidak sulit, karena kuncinya ada pada bumbunya, kondisi dan waktu fermentasi bumbu Kimci sangat berpengaruh terhadap sifat sensori dari Kimci”.

Lebih lanjut Jang menambahkan “bahwa soal bahan baku seperti sayur tidak sulit, ini tadi sayur saya beli pada pasar swalayan di Jember, bahkan saya punya ide agar suatu saat Kimci juga bisa menjadi menu favorit wisata kuliner di Jember, bisa dikombinasi dengan makanan khas Indonesia” ujarnya. (Yl/Mj)

Leave us a Comment