Fakultas Ekonomi dan Bisnis Gelar Seminar Kearifan Lokal Sebagai Keunggulan Kompetitif

Jember, 19 Desember 2016

Dinamika global ditandai dengan perubahan selalu terjadi, hal ini menuntut pelaku usaha dan pemerintah untuk mengevaluasi posisi daya saing dengan melakukan upaya rebranding kemampuan bersaing dengan memanfaatkan potensi lokal. Guna membahas pentingnya, kearifan lokal sebagai modal bersaing, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember menggelar seminar bertema Rebranding Keunggulan Kompetitif Berbasis Kearifan Lokal yang dilaksanakan di Gedung pascasarjana FEB (17/12).

Seminar menghadirkan empat pembicara utama yang merepresentasikan unsur akademisi, bisnis dan pemerintahan, yang menjadi pilar utama bisnis. Mereka adalah Agus siswanto Kepala Bappeda Banyuwangi (mewakili Bupati Banyuwangi), Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, SE., MM (founder Pita Maha Ubud Bali dan Dosen Universitas Udayana), Ir. Guntaryo Tri Indarto (Direktur Utama PT. Mitratani Dua Tujuh, Jember), dan Prof. Dr. Sucherly, MS (Guru Besar Universitas Padjajaran dan Penasehat Forum Manajemen Indonesia).

Hadi Paramu, selaku ketua panitia menjelaskan jika pihaknya sengaja mengambil tema mengenai kearifan lokal dengan tujuan menyelaraskan antara trend dinamika persaingan global dan potensi lokal yang bisa dijadikan sebagai unggulan untuk berkompetisi di tingkat global. “Selain menghadirkan pembicara utama, dibahas pula 75 artikel yang merupakan hasil pemikiran dan penelitian dosen serta mahasiswa dari 8 provinsi di Indonesia. Harapannya para peserta dapat bertukar ide mengenai kearifan lokal di masing-masing daerah,” katanya.

Pendapat Hadi Paramu didukung oleh Dekan FEB Universitas Jember, Muhammad Miqdad, seperti yang dipaparkan dalam sambutannya. “Fenomena perdagangan internasional menunjukkan  bahwa pemanfaatan potensi lokal bisa mengangkat eksistensi dan daya saing usaha produk di level Internasional. Harapannya dengan diadakannya seminar nasional ini dapat bertukar pikiran dan ide serta pengalaman baik dari sektor yang relevan, kalangan pemerintah, dan masyarakat agar perlu dilakukan upaya untuk melakukan rebranding kemampuan bersiang berbasis kearifan lokal yang dapat dilakukan dengan pendekatan yang terintegrasi,” jelasnya.

Dalam presentasinya, Kepala Bappeda Banyuwangi menjelaskan keberhasilan Pemkab Banyuwangi menjadikan kearifan lokal sebagai unggulan, khususnya di sektor pariwasata. “Banyuwangi kini memiliki 70 desa wisata yang memiliki kearifan lokal sebagai pilot project. Keberadaan desa wisata ini didukung dengan berbagai kegiatan yang diharapkan menarik para wisatawan, baik asing maupun nusantara. Kami juga memberikan pelatihan bagi warga desa untuk membuka usaha di rumahnya sendiri seperti halnya Pulau Merah,” jelas Agus Siswanto.

Sementara itu Wakil Rektor I Universitas Jember, Zulfikar, mendukung penuh kegiatan seperti ini, pasalnya tema yang diangkat sangat unik yaitu kearifal local. “Saya yakin setiap daerah pasti memiliki satu unit produk yang orisinal, dan jika kita bisa mengolahnya pasti akan  akan mempunyai nilai ekonomis. Oleh karena itu, kerjasama dan sinergi antara kalangan akademisi, bisnis, dan pemerintah perlu diperkuat,” kata Zulfikar.  Dirinya juga berharap seminar nasional ini tidak menjadi yang terakhir, namun justru harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata.

Sebanyak 200 orang peserta yang hadir merupakan mahasiswa, dosen dan peneliti  yang berasal dari Manado, Palu, Balikpapan, Banjarmasin, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, dan perguruan tinggi di sekitar Besuki Raya. Seminar kali ini terlaksana berkat kerjasama antara FEB Universitas Jember dengan enam co-host, yaitu STIE Mandala Jember, STIE Widya Gama Lumajang, Universitas Airlangga PDD Banyuwangi, Universitas Panca Marga Probolinggo, Program Pascasarjana Politeknik Negeri Jember, dan Universitas Abdurrahman Saleh Situbondo. (nis/del)

Leave us a Comment