Exchange Story (Part.2)* Aiesec Genesis Project New Delhi, 13 Juni-31 Juli 2015

Jember, 28 Agustus 2015

Masih teringat jelas berita yang ditayangkan di televisi dan dimuat di surat kabar, “India mengalami Summer Melt”. Hampir ribuan masyarakat India meninggal akibat suhu tinggi udara yang mencapai 49oC sehingga mereka mengalami dehidrasi, kekeringan, dan lingkungan India tampak gersang. Saat kabar dunia menyatakan kondisi India sedang genting akan musim panas itu, saya dijadwalkan berangkat dari Indonesia menuju New Delhi, India untuk ikut serta dalam program AIESEC 2015.

Program yang akan saya ikuti ini bekerjasama dengan AIESEC Delhi IIT yang berada di New Delhi dan bekerjasama dengan suatu NGO dalam menjalankan project GENESIS. Sungguh suatu keputusan yang cukup berat, dikala kondisi negara yang akan dituju sedang dilanda bencana namun program harus tetap dijalankan. Dan dari keputusan bulat itulah, sejuta kisah tercipta selama saya berada di India. Kisah yang mengisahkan kondisi saya yang sedang bahagia, senang, tertawa, sedih, hingga rindu bercampur menjadi satu.

Negara India merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Selatan. Berbatasan langsung dengan negara Pakistan, Nepal, China, Bangladesh, dan Myanmar menjadikan India memiliki budaya yang beraneka ragam. Seperti film-film Bollywood yang pernah kita lihat di televisi, menampilkan betapa masyarakat India sangat senang bernyanyi dan menari di tempat umum terbuka seperti taman dengan pilar-pilar menjulang tinggi dan deretan pohon besar berdaun hijau. Ya, ini saya temukan juga saat saya tinggal di India selama lebih kurang 7 minggu lamanya.

Saat saya berkunjung ke tempat ibadah mereka (umat Hindu dan beberapa aliran kepercayaan di India), alunan musik nyaring terdengar hingga ke luar gedung. Para pengunjung larut dan hanyut dalam irama musik hingga kepala mengayun dari kanan ke kiri sambil meletakkan tangan menutup di depan dada. Adapula saat di tempat ibadah itu dilakukan pertunjukan tradisional India, maka irama musik yang lebih energik dan cepat membuat pengunjung turut serta menarik dalam melangkahkan kaki, menghentakkan kaki, dan mengayunkan tangan dan kepala sesuai irama. Wow.. benar-benar India banget, hehe.

Tidak hanya di tempat beribadah, di sekolah pun saya melihat hal serupa tatkala para siswa berbaris di halaman sekolah dan melakukan doa bersama. Mereka dengan khidmat berdoa, memejamkan mata, sambil mengayunkan badan dan kepala mereka ke kanan dan ke kiri. Namun ada pula kondisi yang tidak selamanya persis dengan film India. Salah satunya tentang kebersihan lingkungan. Keberadaan hewan seperti anjing, sapi, babi, dan kambing di pinggir jalan hingga tengah jalan tidak akan pernah lepas dari pandangan kita selama berada di India. Jangan kaget pula saat menemukan beberapa kotoran hewan tersebut berada di jalan dan membuat kondisi lingkungan menjadi kotor dan berbau tak sedap.

Sungguh sangat disayangkan bukan? Kebisingan di jalan pun akan kita rasakan setiap hari karena masyarakat India memiliki kebiasaan untuk membunyikan klakson selama berkendara bermotor, seperti mobil, motor, bus, truk, dan lain-lain. Meskipun kondisi jalan sedang tidak macet, mereka lebih senang membunyikan klakson dan menambah kecepatan saat berkendara. Namun dari sinilah, saya benar-benar belajar akan adanya perbedaan dan belajar bagaimana cara untuk saling bertoleransi akan perbedaan itu. Adaptasi jelas harus kita lakukan, setiap saat bahkan setiap waktu selama berada di negara orang. (ANW/Mj)

*Amelia Nandya Widiasri

Mahasiswa FKM Angk. 2011

Leave us a Comment