Exchange Story (Part.1)* Aiesec Genesis Project New Delhi, 13 Juni-31 Juli 2015 Jember, 27 Agustus 2015

Jember, 27 Agustus 2015

            Pada bulan Juni-Juli 2015, saya mengikuti program summer AIESEC di New Delhi, India. Kurang lebih 7 minggu saya tinggal dan hidup bersama peserta AIESEC lainnya yang berasal dari neegara berbeda seperti Meksiko, Brazil, Vietnam, China, Malaysia, Taiwan, dan Latvia. Begitu banyak pengalaman dan ilmu baru yang saya dapatkan selama hidup dan menjalankan program AIESEC. Salah satu pengalaman yang menarik bagi saya dan akan saya bagikan kepada para pembaca yakni pengalaman saya memberikan penyuluhan kepada pelajar di Delhi.

            Sesuai dengan project yang saya pilih yakni GENESIS dimana project ini fokus terhadap pemberian pelayanan kesehatan. Bekerjasama dengan NGO bernama Care Promise Welfare Society (CPWS), saya beserta peserta AIESEC lainnya menyusun rencana kegiatan rutin untuk meningkatkan pengetahuan pelajar di New Delhi, India akan kesehatan khususnya penyakit menular seperti HIV/AIDS, kanker, dan hepatitis. Setelah berdiskusi secara matang akan konsep kegiatan, saatnya kami mengeksekusi kegiatan pada tanggal 3 Juli 2015. Pelaksanaan kegiatan kami terpaksa mundur dari rencana awal dikarenakan pada bulan Juni para pelajar di seluruh India masih dalam masa liburan musim panas. Oleh karena itu, pada awal Juli kami baru dapat menjalankan program.

            Dihadapan lebih kurang 800 pelajar Kendriya Vidyalaya Delhi, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, kami memberikan penyuluhan kesehatan. Informasi mengenai kesehatan kami sampaikan melalui presentasi yang dilakukan di halaman sekolah dengan dilengkapi media berupa banner, poster, dan leaflet. Bahasa pengantar yang kami gunakan adalah bahasa Inggris dimana bahasa ini menjadi bahasa kedua yang digunakan oleh masyarakat India. Lebih kurang 30 menit kami menyampaikan informasi beserta sesi tanya jawab interaktif.

            Setelah kegiatan penyuluhan tersebut, saya bersama tim dari NGO CPWS berkeliling dari satu kelas ke kelas lainnya untuk melakukan fund raising atau pengumpulan dana donasi. Selain fokus untuk meningkatkan pengetahuan pelajar akan pentingnya kesehatan, kami juga melakukan kegiatan penggalangan dana yang nantinya akan didistribusikan kepada pasien yang menderita penyakit HIV/AIDS, kanker, hepatitis, dan penyakit menular lainnya.

            Pada saat kami melakukan fund raising inilah, suatu kejadian menarik terjadi padaku. Semua tatapan mata dari pelajar tertuju pada saya beserta teman AIESEC saya yang berasal dari China, Davin namanya. Melihat dan mengetahui kami berasal dari negara yang berbeda, para pelajar berdatangan menghampiri kami dan mengerumuni kami. Dengan bermodalkan buku, selembar kertas, serta pena, para pelajar mendorong dan menarik kami sambil mengatakan, “Mam, may I have your authograph? (Bu, bolehkah saya mendapat tanda tanganmu?)”. Bukan hanya 1-2 pelajar yang mendatangi kami, namun hampir sekitar 50 pelajar baik itu laki-laki hingga perempuan. Mereka tak segan menarik baju kami jika giliran untuk mendapatkan biodata kami masih lama dibandingkan teman-teman mereka yang lainnya. Kondisi semakin menggila tak kala saya tidak bisa bergerak karena terhimpit kerumunan pelajar hingga seorang guru mengatakan, “Sorry Mam, you gonna be die today (Maaf Bu, sepertinya kamu akan mati hari ini)” sambil melihat kerumunan muridnya menghimpit saya yang bertubuh kurus ini. Hehehe

            Tak hanya sampai disitu, ajakan foto bersama juga mereka lakukan. Mereka tidak segan ataupun malu untuk berinteraksi dengan saya yang notabene orang baru atau bisa dikatakan orang asing bagi mereka. Segala pertanyaan mereka lontarkan, mulai permintaan untuk menceritakan negara asal saya, makanan favorit saya, mengapa saya datang ke India, hingga dimana penginapan saya selama berada di India. Rasa ingin tahu mereka sangat tinggi, hingga saya keluar dari sekolah Kendriya Vidyalaya Delhi, saya dan para pelajar dari sana tetap berkomunikasi melalui telepon dan media sosial. Hingga saya menuliskan kisah ini, mereka tidak hentinya menghubungi saya walau hanya sekedar menanyakan kabar dan aktivitas saya.

            Sungguh pengalaman yang menarik. Menjadi layaknya artis dadakan yang diburu dan dihimpit oleh kerumunan orang banyak. Dijejali dengan beragam pertanyaan. Tapi sungguh bukan ketakutan yang saya rasakan, namun suatu perasaan senang dan kagum karena sifat lugu dan penuh semangat yang terpancar dari wajah teman-teman di sekolah. Hal ini lah yang membuat saya selalu bersemangat melangkahkan kaki untuk menyebarkan secuil ilmu tentang kesehatan yang saya miliki kepada pelajar di Delhi, meskipun jarak tempuhnya bisa mencapai 1-2 jam dengan menggunakan kendaraan umum. Letih dan lelah terasa sirna saat melihat senyum dan tawa canda mereka, pelajar India. (ANW/Mj)

 

*Amelia Nandya Widiasri

Mahasiswi FKM Angk.2011

2 Comments

  • zaenal
    Reply

    mantap

    • Dian Novanto
      Reply

      Siip di like FB dan yg lain juga yaa… 🙂

Leave us a Comment