Exchange Participant-Global Citizen AIESEC (3)

Sonnia Ganti Induk Semang Enam Kali,

Dan Bingung Cari Makan Di Guangzhou

Jember, 7 Desember 2016

Okzalina Sonnia, mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember berkesempatan mengikuti program Global Citizen 2016 yang diselenggarakan oleh AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales). Sonnia, begitu panggilan akrabnya, menjadi sukarelawan di sebuah pusat rehabilitasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Guangzhou, China. Tentu saja banyak pengalaman berharga didapatkan oleh Sonnia, dari keikutsertaannya di program ini. Simak kisah pengalaman Sonnia yang dituliskan dalam bentuk buku harian.

13 Juli 2016

Hari ini merupakan jadwal keberangkatan saya ke China namun sampai tanggal ini, saya  belum mendapatkan visa karena terkendala dengan dokumen-dokumen tertentu. Padahal penerbangan dengan nomor pesawat XT 8297 tujuan Kuala Lumpur siap terbang pukul 14.00 WIB. Puji syukur kepada Allah SWT, pukul 12.00 WIB saya mendapat telepon dari kantor visa bahwa visa saya telah selesai.

Menjelang pukul 14.00 WIB saya tiba di bandara Juanda Surabaya dan segera menuju pesawat dengan pesawat XT 8297 8297 tujuan Kuala Lumpur. Tiba di Kuala Lumpur pukul 17.35 waktu setempat, saya harus menunggu 12 jam untuk penerbangan selanjutnya yaitu pukul 05.30 waktu Kuala lumpur. Sungguh suatu keberuntungan, akhirnya saya dapat terbang hingga ke China.

 14 Juli 2016

            Pukul 09.35 waktu setempat saya tiba di Ghuangzhou, tepatnya di Baiyun International Airport. Di bandara, Dany yang merupakan anggota AIESEC di Universitas Jinan sudah siap menjemput dan menemani saya. Begitu tiba di bandara dan menyelesaikan proses imigrasi, Dany memandu saya menuju hotel di daerah Ganding, Guangzhou, Provinsi Guandong. Untuk sementara saya memang menginap di hotel, sebelum  tinggal bersama host family.

 15 Juli 2016

            Saya menuju Shang Xia Jiu pedestrian street untuk mengikuti kegiatan global village dalam Global Community Development Seminar. Shang Xia Jiu pedestrian street adalah sebuah tempat bersejarah, di sini merupakan tempat perdagangan masyarakat Guangzhou sejak bertahun-tahun yang lalu. Dalam global village, saya dapat bertemu seluruh EP (Exchange Participant) dari seluruh dunia yang berkegiatan di Ghuangzhou atau kota sekitar Guangzhou.

 17 Juli 2016

            Hari ini tepatnya pukul 15.00 waktu China diadakan welcome party. Acara ini bertujuan agar seluruh participant dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya. Seluruh participant wajib merperkenalkan diri mulai dari nama, negara asal, tempat sekolah atau bekerja, hobi hingga menampilkan hobi yang dimiliki. Saya menari petik kopi saat welcome party dan respon para participant yang lain sangat luar biasa. Para participant takjub dengan musik dan tarian yang saya bawakan. Tidak lupa saya menjelaskan bahwa Tari Petik Kopi adalah tari yang selalu ditampilkan dalam acara-acara di Universitas Jember sebagai tari penyambutan bagi tamu.

18 Juli 2016-23 Juli 2016

            Pada 18 Juli 2016 volunteer activity baru dimulai, dan untuk satu minggu kedepan seluruh participant wajib mengikuti pelatihan untuk mempersiapkan volunteer activity. Pada pelatihan ini akan dibahas tugas para partisipan selama lima minggu kedepan. Seluruh partisipan hanya libur pada hari Minggu. Pelatihan ini diakan di Universitas Jinan. Yang menggembirakan, mulai 20 Juli 2016, saya sudah boleh tinggal bersama host family yang ada di daerah  di Dashi.

            Induk semang kami selama di Guangzhou adalah Nyonya Judy, yang tinggal bersama suami dan putranya yang masih balita, Summe. Ada pula paman dan bibi Nyonya Judy, jadi kami tinggal bertujuh. Saya banyak belajar mengenai budaya dan tata krama masyarakat China dari keluarga Nyonya Judy, mulai dari  belajar mengenai makanan tradisional, dan terutama kebiasan-kebiasaan masyarakat Guangzhou.

Saya juga terbiasa membantu Nyonya Judy untuk menjaga si kecil Summe, terutama ketika kegiatan volunteer libur dan cuaca sedang buruk sehingga saya tidak bisa keluar rumah. Keluarga ini sangat baik, mereka sering mengajak saya jalan-jalan dan membelikan sesuatu serta sempat merawat saya ketika saya sakit.

            Musim panas di China membuat suhu di siang hari mencapai 40 hingga 45 derajat celcius ! Bahkan di malam hari pun tetap terasa panas sehingga membuat saya harus pandai menjaga kesehatan. Pada minggu-minggu pertama saya di Guangzhou, saya jatuh sakit. Gara-garanya saya memaksakan diri untuk mengunjungi suatu tempat dengan jalan kaki selama 30 menit ke terminal bis terdekat. Lantas lanjut menuju ke subway station. Perjalanan pulang pergi ternyata membuat badan saya kecapekan sehingga jatuh sakit.

25 Juli 2016-30 Juli 2016

            Hari ini minggu kedua untuk saya di China dan hari pertama bertugas di Autism Centre. Kegiatan volunteer dimulai pukul 9.50-17.30 waktu China. Selama bertugas mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, para partisipan dilarang untuk membawa gadget. Hal ini bertujuan agar para pendamping bisa fokus mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, belajar bersama serta untuk bersosialisasi.

Selama berkegiatan, kita wajib menggunakan rompi sebagai tanda bahwa kita adalah  volunteer, selain untuk membedakan dengan pengunjung lainnya, karena setiap anak autis selalu ditemani dengan satu pendamping. Umumnya orang tua, kakek, nenek, atau kerabat lainnya. Di hari pertama ini seluruh partisipan harus dapat  beradaptasi dengan keadaan anak autis, sekaligus  dengan keluarga mereka.

            Sungguh pengalaman yang luar biasa karena saya dipercaya oleh salah satu orang tua di tempa rehabilitasi tersebut untuk menjaga anaknya.  Anak yang saya jaga tersebut bernama Ting Xi. Ting Xi anak laki-laki yang sangat lucu dan juga pandai. Walaupun kemampuan bahasa Mandarin yang saya miliki terbatas, namun saya dan Ting Xi dapat cepat akrab. Saya pun selalu berusaha menjaga Ting Xi di setiap kelas yang dia ikuti. Kemampuan Ting Xi pun dari hari ke hari semakin meningkat, sehingga membuat saya semakin semangat untuk mengajarinya banyak hal.

 1 Agustus 2016-6 Agustus 2016

            Hari ini, saya tidak bertugas di Autism Centre. Pukul 08.00 saya sudah harus berada di Tiyu Xilu untuk mengikuti kegiatan komunitas. Kegiatan ini di adakan di pusat kota. Pada kegiatan ini, saya berkesempatan untuk meperkenalkan budaya Indonesia pada anak-anak namun kali ini pada anak normal. Saat saya mepresentasikan budaya Indonesia, saya membagikan permen jahe keada anak-anak dan seluruh special care participant dan ternyata mereka semua sangat senang bahkan, ada yang meminta permen kembali.

Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Seluruh partisipan saling bertukar pengalaman dengan anak-anak dalam sesi diskusi. Mereka sangat senang karena meraka dapat melatih kemampuan berbahasa Inggris dengan berkomunikasi dengan saya maupun partisipan yang lain. Di akhir kegiatan komunitas, kami menggelar masak bareng dan menampilkan pertunjukkan bersama anak-anak sebagai salam perpisahan pada anak-anak.

8 Agustus 2016-13 Agustus 2016

Pada minggu keempat ini saya harus berpindah ke host family yang baru karena keluarga Nyonya Judy akan pergi berlibur. Rumah induk semang saya yang baru berada di Shi Pa Qiao. Namun berbeda dengan keluarga Nyonya Judy, dalam keluarga baru saya, dari lima orang hanya sang Ibu yang dapat berbahasa Inggris. Masalah kedua, mereka kesulitan untuk menyiapkan makanan halal bagi saya. Akibatnya saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, selain untuk mencari makanan halal, saya meminimalisir waktu di rumah agar tidak menyulitkan anggota keluarga induk semang akibat kesulitan berkomunikasi dengan saya.

            Pada minggu ini seluruh partisipan kembali bertugas di Autism Centre. Saya sudah tidak lagi kesulitan untuk menjaga anak-anak, begitu pula dengan Ting Xi masih mengingat saya, sehingga saya melanjutkan untuk mendampinginya. Bulan Agustus ini adalah kelas regular terakhir untuk Ting Xi, terbersit rasa sedih karena harus berpisah dengannya.

15 Agustus 2016-20 Agustus 2016

            Pada minggu ini kegiatan yang dilakukan adalah Global Village dan Mountain Climbing. Global Village yang berupa pameran kebudayaan kali ini diadakan di sebuah pusat perbelanjaan di Guangzhou. Saat pameran budaya di mulai saya, mengajarkan para peserta yang merupakan penduduk Guangzhou untuk membuat bunga dengan hasduk Pramuka. Mereka tertarik untuk membuat bunga dan sangat senang ketika mereka berhasil membuatnya. Sementara untuk kegiatan Mountain Climbing diadakan di gunung Baiyun

 22 Agustus 2016-24 Agustus 2016

Minggu  ini merupakan minggu terakhir saya di China, saya merasa sedih namun juga senang. Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman di China dan berpisah dengan Ting Xi dan induk semang. Namun saya senang karena dapat kembali ke Indonesia dan bertemu dengan kelarga saya. Di minggu terakhir ini saya sudah berpindah host family sebanyak enam kali dan host family terakhir saya adalah orang tua Ting Xi. Hal ini sungguh berkesan bagi saya.

Banyak pengalaman yang tidak terlupakan yang saya alami selama di China, mulai dari handphone saya yang rusak sehingga tidak bisa menghubungi keluarga dan kawan-kawan lain. Kemudian laptop tidak bisa di buka, padahal seluruh partisipan harus menyiapkan materi untuk presentasi di kegiatan komunitas, tersesat di jalan karena salah naik bis, lantas sakit panas sehingga tidak bisa beraktivitas apapun.

Belum lagi dengan kesulitan mencari makanan halal, seringkali saya harus menolak undangan makan bersama karena takut makanan yang disajikan tidak halal. Memang jadi buah simalakama, menolak undangan nanti dianggap tidak sopan, tapi menerima undangan makan bersama namun tidak makan juga takut menyinggung tuan rumah. Akhirnya gerai makanan cepat saji merk  internasional berbahan ayam yang jadi andalan saya. Setiap kali makan, rata-rata saya  menghabiskan uang minimal 15 RMB atau setara Rp. 30.000. Untungnya China termasuk salah satu negara di benua Asia sehingga saya bisa cepat beradaptasi dengan budaya setempat.

Berkesempatan mengikuti Global Citizen di China mengajarkan saya untuk mandiri, salah satunya berpergian ke berbagai tempat dengan angkutan umum.  Saya selalu menggunakan bis dan kereta bawah tanah untuk berpergian kemanapun, karena biayanya murah. Tarif biaya yang di kenakan sesuai jarak tembuh dari tujuan saya, tarif paling murah untuk bis yaitu 2 RMB yang setara dengan Rp. 4000,00. Sementara untuk tarif kereta bawah tanah paling murah yaitu 3 RMB atau setara dengan Rp. 6000,00. Alat transportasi ini sangat efektif dan efisien. Kapan yah di Indonesia ?

Kegitan pada minggu ini yaitu city tour sehingga seluruh partisipan bebas untuk berkeliling Guangzhou. Saya bersama kawan-kawan yang lain dan local volunteer berkunjung ke berbagai tempat bersejarah, lokasi wisata tradisional, perpustakaan, rumah sakit, pulau Shamian, kota tua Foshan, dan lokasi lainnya. Pada malam 24 Agustus 2016, seluruh participant merayakan farewell party di sebuah cafe teh tarik.

26  Agustus 2016

            Ini adalah hari terakhir saya di Guangzhou, China. Pukul 06.30 saya check out dari hotel dan pergi kebandara Baiyun International Airport. Perjalanan menuju Indonesia dengan pesawat nomer penerbangan AK 113 pukul 10.20 tujuan Kuala Lumpur. Setibanya di Kuala Lumpur,  saya menumpang pesawat dengan nomer penerbangan XT 8298 pukul 19.25 tujuan Surabaya. Alhamdulillah saya tiba di Juanda International Airport  pukul 21.20.

AIESEC_unej

Bersama seluruh partisipan dari berbagai negara yang mengikuti program Global Citizen AIESEC di Guangzhou

AIESEC_3_unej

Kegiatan di Autism Center di Guangzhou

AIESEC_2_unej

Bersama Host Family di kota Guangzhou

Leave us a Comment