Exchange Participant-Global Citizen AIESEC (2)

Fetty, Sempat Khawatir di Davao

Jember, 28 Oktober 2016

Perasaan khawatir sempat tersirat dalam pikiran Fetty Ghaessani, mahasiswi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yang mengikuti Exchange Participant dalam rangka program Global Citizen 2016 yang diselenggarakan oleh AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales). Betapa tidak, Fetty, ditempatkan di kota Davao City Filipina, kota yang sering disebut dalam berita mengenai penculikan warga negara Indonesia beberapa saat lalu. Namun dengan tekad dan kesungguhan, Fetty berhasil menepis rasa khawatir itu, bahkan menikmati kerja voluntirnya di kota yang pernah dipimpin oleh Rodrigo Duterte, yang kini menjadi presiden Filipina.Berikut pengalamn dan kesannya selama di Davao City mengikuti mengikuti Exchange Participant dalam rangka program Global Citizen 2016 yang diselenggarakan oleh AIESEC.

Berkeliling dunia sudah menjadi  impian saya sejak kecil. Pada liburan semester yang lalu, saya memberanikan diri saya untuk mengikuti program Global Citizen yang di selenggarakan AIESEC. Saya ingin membuat liburan saya menjadi lebih menantang dan bermanfaat bagi orang lain.

Negara tujuan saya adalah Filipina. Ini merupakan pengalaman pertama saya pergi keluar negeri sendiri. Sejujurnya saya sendiri tak tahu akan tantangan dan masalah yang menunggu saya disana.

Saya memulai perjalanan saya pada 23 Juli 2016. Saya sangat bersemangat, tapi saya juga merasa takut. Saya mengambil empat kali penerbangan dengan lama waktu  dua hari dari Jember berasal menuju ke kota tujuan saya, Davao City, Filipina. Orang Filipina yang saya temui pertama kali adalah David dan Ralph. Mereka menjemput saya di bandara dan mengantar saya ke salah satu apartement di di kawasan pecinan Davao City, Wee Siu Yen.

AIESEC Davao City menyediakan dua apartemen bagi peserta EP (Exchange Participant), yakni Wee Siu Yeen dan Dedengs Place. Disana saya menjumpai banyak peserta EP dari berbagai negara. Mereka semua sangat baik dan ramah terhadap saya. Mereka berasal dari Turki, China, Vietnam, Sri Lanka, Mesir, Meksiko, Korea Selatan, Jepang dan banyak lagi. Saya tinggal di ruang 206 bersama enam peserta EP lainnya. Tiga peserta dari Vietnam dan sisanya dari Indonesia sama seperti saya. Hanya dalam tiga hari kami sudah menjadi akrab karena kami menghabiskan waktu bersama.

aesec3Davao City adalah kota yang sangat aman, berbeda dengan apa yang saya baca, dengar dan lihat melalui media massa. Sekarang Davao City adalah kota teraman di Filipina dan kota teraman ke-empat di dunia. Di setiap tempat yang saya kunjungi selalu tersedia pendeteksi metal dan banyak satpam penjaga disana. Tidak hanya kota yang paling aman, tapi informasi dari teman Filipina saya, konon saluran air keran di Davao City adalah yang paling bersih di Filipina, sehingga kita bisa langsung meminum air yang berasal dari keran tanpa khawatir bakal sakit. Awalnya saya merasa aneh ketika melihat teman saya meminum air langsung dari keran, ketika saya tanya mengapa melakukan hal itu, mereka berkata hal itu benar-benar aman. Tidak heran jika di semua restoran atau tempat makan selalu menyediakan air minum gratis jadi kita tak perlu membeli minuman lagi. Tentu kebijakan ini tidak lepas dari peran Walikota saat itu, Rodrigo Duterte yang kini menjadi Presiden Filipina.

Pada tanggal 27 Juli 2016, kami mengadakan acara Global Village di Ateneo De Davao University. Kegiatan Global Village adalah acara budaya terbesar yang yang di isi oleh para peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia. Setiap peserta berusaha memperkenalkan negaranya lewat nyanyian, tarian, makanan, pakaian musik dan lain-lain. Pastinya, saya dan kawan-kawan dari Indonesia juga mengenalkan Indonesia.

Untuk kegiatan Global Village kami menyiapakan berbagai pernak pernik khas Indonesia. Kami membawa wayang kulit dan enggrang dari indonesia. Tidak lupa kami juga membawa bendera Indonesia dan souvenir lainnya, bahkan ada teman saya juga membawa Maicih, makanan kecil dari Indonesia. Sayangnya tak ada di antara kami yang dapat menarikan tarian indonesia, jadi kami hanya mengenalkan Indonesia lewat booth kami.

Sebenarnya acara disana sangatlah spektakuler. Bayangkan, kita bertemu orang-orang dari berbagai negara di dunia dalam satu tempat. Semuanya mengenakan pakaian tradisional mereka yang mencerminkan negara tercinta mereka. Saya berkesempatan mencicipi makanan ringan dari Vietnam, minum teh dari China, mencoba coklat Swedia dan belajar kata-kata baru. Betapa indahnya perbedaan.

Tentang proyek yang saya jalani,  saya menjadi relawan dalam proyek Smileville. Ada lima orang di tim saya, saya dan Almira berasal dari Indonesia, Asser dari Mesir, Tuoi dari Vietnam dan Xandria dari China. Kami membuat komunitas berteman bagi anak-anak kecil agar mereka dapat lebih mudah menempatkan dirinya di kehidupan sosial. Kami bekerja di gereja, dan SPMC (Southern Philiphine Medical Center). Di gereja kami membantu menyiapkan makan siang untuk anak anak di wilayah rural. Di SPMC, kami bertugas mendatangi anak penderita kanker, menjalankan program, dan membuat aktivitas spesial untuk anak-anak tersebut. Harapannya, anak-anak tersebut akan menjadi generasi penerus, pembuat kebijakan, agen perubahan dan juga pemimpin masa depan.

Kami juga mempunyai pekan penggalangan dana. Pada pekan tersebut kita berusaha menggali dana sebanyak yang kita bisa untuk disalurkan kepada SPMC, khususnya untuk unit CCBDU (Children’s Cancer and Blood Disease Unit). Kami melakukan banyak cara untuk mendapatkan uang, seperti menjual tiket undian ,mendapatkan sponsor, penggalangan dana online, dan menjual makanan-makan di beberapa kegiatan. Kami menjual tiket undian dimana-mana, di universitas, mall, taman, apartemen, bahkan di jalan raya. Hahahaha. Kami menjual tiket undian seharga sepuluh peso. Pada akhir masa undian kami mengambil secara acak tiga tiket untuk para pemenang yang akan mendapatkan hadiah dari Smileville.

Saya sangat menikmati waktu saya di Davao. Kami mengeksplor hal-hal baru bersama seperti merasakan makanan khas Filipina yakni Balut, telur ayam atau bebek rebus yang sudah mengandung embrio. Halo-Halo, makanan penutup dari Filipina dan masih banyak lagi makanan unik lainnya yang biasanya kami temui di Roxas Night Market. Kami juga belajar istilah dan kata dalam bahasa Tagalog sebanyak yang kami bisa.

Sekitar seminggu sebelum kepulangan, kami mempunyai Global Village versi mini di kamar kami. Kami saling mencoba kebiasaan dan hal-hal khas masing-masing negara peserta EP. Saya lupa mengapa kami melakukannya, mungkin karena teman dari Vietnam ingin mencoba memakai hijab. Dan Oh ! mereka semua benar-benar terlihat sangat cantik ! Setelah mereka memakai hijab, kemudian adalah saatnya kami mencoba memakai baju tradisional Vietnam yaitu Ao Dai. Saya merasa beruntung memiliki kesempatan untuk mencobanya.

Pada hari kepulangan, kami berangkat ke bandara pada pukul 02.30 dini hari waktu setempat. Tidak ada seorangpun yang mengantar ke bandara kecuali teman sekamar dan Asuka. Saya maklum akan kondisi ini, siapa yang akan mengantar kami pada jam dua pagi ? Tapi saya bersyukur, karena saya memiliki waktu lebih untuk menghabiskan waktu hanya dengan teman-teman terdekat saya.

aesec2Saya kembali mengingat-ingat hari-hari selama di Davao City Filipina, sungguh saya bersyukur untuk setiap pengalaman yang saya jalani. Enam minggu masa kesukarelawanan saya. Terbayang mereka yang membantu saya, kawan-kawan di rumah sakit, kawan-kawan di kota Davao City, pemerintahnya, alamnya, pasir putih pantainya, segalanya yang ada di kota Davao City tak mungkin terlupakan.

Melalui kegiatan Exchange Participant Global Citizen 2016 yang diselenggarakan oleh AIESEC, saya bisa melihat dunia dalam gambaran yang besar. Saya banyak menghadapi masalah yang menuntut pemecahan, saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang tidak akan pernah saya dapatkan hanya dari membaca buku atau internet. Saya mencoba untuk lebih membuka pikiran dan menghargai perbedaan.

Pelajaran penting yang saya dapatkan, semua terlihat tidak mungkin sampai semua ini berakhir. Pada saat bertolak ke Filipina, terbersit keraguan, namun setelah saya jalani ternyata semuanya berjalan dengan baik. Mungkin keputusan mengikuti Exchange Participant Global Citizen 2016 yang diselenggarakan oleh AIESEC adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Sampai sekarang saya masih tidak dapat meyakinkan diri saya untuk pergi dari zona nyaman saya. Terimakasih AIESEC Universitas Jember dan AIESEC Davao City untuk kenangan indah dan tak terlupakan ini. Salamat (artinya terimakasih dalam bahasa Tagalog).

Leave us a Comment