Exchange Participant-Global Citizen AIESEC (1)

Cholil Jalankan Program Light Starry Kids Di Shanghai

Jember, 20 Oktober 2016

Lima mahasiswa Universitas Jember terpilih menjadi Exchange Participant dalam rangka  program Global Citizen yang diselenggarakan oleh AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales). Global Citizen sendiri adalah proyek yang bertujuan untuk memberikan sebuah dampak langsung pada masyarakat melalui proyek sosial. Global Citizen berfokus pada beberapa isus-isu di dunia seperti kesehatan, pendidikan, budaya, lingkungan, dan kewirausahaan. Mahasiswa yang ambil bagian akan mendapatkan banyak manfaat seperti tergabung dalam International Networking, personal development, ataupun menjadi duta dari Indonesia.

Mereka adalah M. Cholilurrohman Hadi, Anggi Sulistyani dan Okzalina Sonnia dari Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK), Fetty Ghaessani dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), serta Sonia Alfiyana dari Fakultas Hukum. Trio PSIK, Cholilurrohman, Anggi, Okzalina serta Sonia Alfiyana kebetulan mendapatkan jatah menjadi sukarelawan di China, sementara Fetty di Filipina. Selama kurun waktu enam sampai delapan minggu, para wakil kampus Tegalboto melakukan proyek sosial yang memiliki cakupan Internasional.

Untuk diketahui AIESEC adalah organisasi internasional untuk para pemuda yang membantu mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. AIESEC merupakan organisasi kepemudaan terbesar di dunia. Organisasi yang berdiri sejak tahun 1948 ini berfokus pada pengembangan kepemimpinan, pengalaman kepemimpinan, hingga partisipasi di Global Learning Environment. Saat ini  AIESEC berpusat di Rotterdam, Belanda.

Berikut pengalaman para mahasiswa Tegalboto yang menjalani Global Citizen, yang dituliskan dalam seri Exchange Participant-Global Citizen AIESEC.

Hi, first of all let me introduce my self. Nama saya Muhammad Cholilurrohman Hadi. Saya adalah Exchange Participant yang berasal dari Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Jember. Saya telah berkesempatan melaksanakan sebuah proyek bernama Light Starry Kids Project di Shanghai International Studies University, Shanghai, China.

Let’s begin. Cerita ini dimulai ketika saya berangkat ke Shanghai melalui Bandar Udara Djuanda, Surabaya pada tanggal 29 Juli 2016. Terasa berat untuk melakukan pertukaran pelajar ini karena saya harus meninggalkan kehidupan saya di Indonesia dan berpisah antar jarak dan waktu dengan keluarga saya di Indonesia meskipun hanya sesaat. Perjalanan dari Bandar Udara Djuanda Surabaya menuju Pudong International Airport, Shanghai memakan waktu selama kurang lebih 6 jam lamanya. Saya bertugas menjalankan proyek kesehatan bernama Light Starry Kids di LC AIESEC Shanghai International Studies University selama 6 mingu lamanya.

aiesec2_unej

Proyek ini adalah proyek kesehatan yang berfokus mengenai pendidikan dan aktifitas sosial anak-anak autis, anak-anak disabilitas, dan anak-anak buruh migran di China. Seperti kita ketahui bersama, umumnya orang-orang awam menganggap anak-anak autis adalah anak-anak yang “aneh”. Menurut saya anggapan tersebut adalah salah karena sebenarnya anak-anak autis adalah anak spesial. Mereka layaknya anak-anak normal yang hanya memiliki keterbatasan dalam komunikasi, baik verbal maupun non verbal; mobilisasi; dan sosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Dengan proyek ini, kami berharap dapat membantu anak-anak tersebut agar dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat di seluruh dunia.

Di proyek ini, saya tidak hanya menjalankan proyek sendirian. Saya memiliki teman-teman dari berbagai negara seperti Malaysia, Mesir, dan Jepang. Kami bersama-sama menjalankan proyek ini dengan penuh semangat. Kami memiliki tugas untuk mengajar dan bermain dengan anak-anak tersebut di dua tempat yang berbeda, yaitu Shanghai Huaxin Recovery and Education Institution for Disabled Children dan Shanghai Xuhui District Clover Children Healthy Garden. Kami memiliki waktu empat hari dalam seminggu untuk bertugas di sekolah-sekolah tersebut.

Di sekolah Shanghai Xuhui District Clover Children Healthy Garden  kami bertugas hanya pada hari Jum’at. Kami memulai aktivitas untuk pergi ke sekolah tersebut dengan menggunakan mode transportasi umum subway. Kami berangkat pada jam 14.00 waktu setempat dan tiba di tempat pada jam 14.30. Di sekolah tersebut, kami tidak hanya mengajar namun juga bermain anak-anak autis. Kami mengajar dan bermain dengan mereka untuk melatih komunikasi dan mobilisasi serta berinteraksi dengan mereka.

Di sekolah Shanghai Huaxin Recovery and Education Institution for Disabled Children kami bertugas pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Inilah tempat yang sangat saya rindukan dari Shanghai. Di tempat ini kami tidak hanya menangani anak-anak autis saja, namun kami juga menangani anak-anak disabilitas. Kebanyakan anak-anak autis di sekolah ini berasal dari keluarga kurang mampu dari daerah lain di China dan akhirnya merantau ke Shanghai untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Namun anak-anak tersebut tidak hanya memiliki masalah itu saja, mereka juga memiliki masalah dengan komunikasi dan mobilisasi mereka. Seperti halnya dengan anak didik saya yang bernama Huo Tie, dia adalah seorang anak autis yang memiliki masalah dengan kekuatan otot-otonya, sehingga dia susah untuk berdiri, berjalan, berlari, dan lainnya. Namun, satu hal yang patut kita sadari adalah mereka tidak akan pernah berhenti untuk sekolah. Mereka tidak peduli dengan keadaan mereka karena mereka hanya ingin mendapatkan ilmu dan pengajaran yang baik serta mendapat respon positif dari masyarakat. Kita harus sadar bahwa mereka bukan anak aneh tetapi mereka adalah anak spesial.

Selain kegiatan tersebut, saya juga berkesempatan mempromosikan Indonesia di mata dunia. Hampir setiap hari memakai batik di Shanghai dan saya juga membawa beberapa merchandise khas Bondowoso, kota asal saya. Banyak lagi kisah yang saya alami disana yang tidak bisa saya tulis satu persatu. Dan akhirnya setelah enam minggu saya harus kembali ke Indonesia. Sedih rasanya harus meninggalkan keluarga kedua saya disana.

Saya tidak pernah menyesal melakukan pertukaran pelajar di proyek ini. Saya tidak pernah menyesal untuk membantu anak-anak spesial tersebut menjalani hari-harinya. Because they are not weird but they are special. If I can. I will go back there somewhene or I will do another project to help another people all over the world. I want to increase my caring too. And trust me, from AIESEC I found my real self, I found what I need, and I’ve gained my leadership. So blessed to be apart of this big world. I will share my experience to another people, I will help another people, and I will make impact for my life and for another peoples life also. Thank you so much AIESEC. Shanghai, I miss you. Study is a process of life. Never give up and study as long as possible. Bye.

Leave us a Comment