Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Rintis Produksi Kapsul Albumin Ikan Kutuk

pak isa_fkm_unej

Jember, 14 Maret 2016

Tidak jarang kita mendengar ada nasihat bagi mereka yang sedang sakit agar mengkonsumsi ikan kutuk atau ikan gabus, untuk mempercepat penyembuhan. Nasehat ini benar adanya, menurut penelitian, ikan kutuk atau ikan gabus ternyata memiliki kandungan albumin yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan ikan jenis lainnya. Harga ikan kutuk juga lebih murah jika dibandingkan dengan albumin produksi perusahaan farmasi. Sayangnya tidak semua orang suka makan ikan kutuk. Mencari ikan yang mirip ikan lele ini di pasaran juga belum tentu ada setiap harinya. Melihat kondisi ini, Dr. Isa  Ma’rufi, SKM., M.Kes, dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember merintis produksi kapsul albumin ikan kutuk.       

“Albumin adalah salah atu jenis protein, manfaat dari albumin adalah membantu membentuk jaringan sel baru. Dalam ilmu kesehatan, albumin digunakan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang telah rusak. Albumin juga berperan mengikat obat-obatan serta logam berat yang tidak mudah larut dalam darah. Selain itu, albumin juga berperan penting dalam mengatur tekanan osmotis didalam darah. Secara umum, albumin membantu proses metabolisme di dalam tubuh manusia,” ungkap Dr. Isa Ma’rufi memulai penjelasannya.

Ikan gabus atau yang biasa disebut ikan kutuk di kalangan masyarakat Jawa, selama ini tidak termasuk dalam lauk favorit kebanyakan orang, ternyata memiliki kandungan albumin yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan-ikan sejenisnya. “Dari hasil penelitian kandungan protein terbesar biasanya terdapat pada jenis ikan. Dan ikan kutuk ini, memiliki kandungan albumin yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan ikan-ikan sejenisnya seperti lele dan nila. Bahkan telur dan daging yang dikenal dengan kandungan protein yang tinggi pun kalah dengan kandungan albumin dalam ikan gabus,” lanjut Dr. Isa Ma’rufi saat ditemui di sela-sela kesibukannya memberikan kuliah di Program Pascasarjana Universitas Jember.

Awal mula ide membuat kapsul albumin dari ikan kutuk berasal dari skripsi seorang mahasiswa bimbingan Dr. Isa Ma’rufi, yang meneliti efek pemberian ikan kutuk bagi pasien di RS Paru Jember. Ternyata pemberian ekstrak ikan kutuk mampu mempercepat penyembuhan pasien bahkan mampu menambah berat badan. “Dari skripsi tersebut, akhirnya muncul ide memproduksi kapsul albumin dari ikan kutuk sebagai salah satu produk kesehatan,” ujar Isa lagi.

Kini setiap bulannya, Isa mampu memproduksi kapsul albumin ikan kutuk sebanyak 2000 sampai dengan 3000 kapsul di workshop-nya yang berada di daerah Kaliwates. “Dari satu kilogram daging ikan kutuk pilihan, bisa menghasilkan 1000 kapsul. Produksinya pun menggunakan sistem pengasapan dengan asap cair sehingga kandungan albuminnya tidak berkurang. Jika menggunakan sistem pemanasan manual, maka albuminnya bisa berkurang hingga 30 persen,” ujar Isa lagi.

Tidak sekedar membuat, Dr. Isa Ma’rufi melakukan penelitian lebih lanjut terkait  kapsul albumin ikan kutuk produksinya yang diberi merk Channaliq Plus. Penelitian tersebut dilakukan Isa dengan melakukan uji coba pada 200 orang pasien penderita TBC di RS Paru Jember yang tengah menjalani perawatan. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa 100 orang pasien yang diberi kapsul albumin ikan kutuk selama sebulan, 100 persen negatif TBC. Sedangkan 100 pasien yang tidak mengkonsumsi kapsul albumin ikan kutuk gabus hanya 10-15 persen saja yang negatif TBC. “Tidak hanya berguna bagi pasien TBC saja, dari hasil penelitian lain yang saya baca, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit seperti hepatitis, typus, diabetes, patah tulang, gastritis, stroke, gizi buruk, HIV, serta luka pasca operasi kondisinya membaik setelah mengkonsumsi kapsul ikan gabus tersebut,” kata pria asal Lamongan ini.

Gara-gara produksi kapsul albumin ikan kutuk, kini Dr. Isa Ma’rufi mendapatkan bantuan dari LIPI untuk pembudidayaan ikan kutuk. Pasalnya ikan kutuk termasuk ikan yang susah dibudidayakan. Selama ini Isa mendapatkan pasokan ikan kutuk dari Jember dan berbagai daerah lain hingga pulau Kalimantan. “Harapannya, kami bisa membentuk kelompok peternak ikan kutuk sehingga pasokan bahan dapat lebih terjamin,” pungkas Dr. Isa Ma’rufi yang juga tengah melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan albumin yang terdapat pada berbagai jenis ikan gabus. (lida/mun)

1 Comment

  • Iswahyudi
    Reply

    Luar Biasa

Leave us a Comment