Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember Gelar Diskusi Politik Kebangsaan di London

Jember, 6 Maret 2014

Al Khanif dosen Fakultas Hukum Universitas Jember yang saat ini menjadi mahasiswa doktoral hukum di SOAS University of London gelar diskusi tentang Politik Kebangsaan Indonesia, (1/3). Acara diselenggarakan di Wisma Siswa Merdeka London yang juga dikenal dengan sebutan Wisma Anti Korupsi yang berlokasi di London.

Acara ini diikuti oleh perwakilan dari pengurus NU Inggris dan beberapa mahasiswa Indonesia di London yang sedang menempuh program doktor dan magister. Dr. Ahmad Suaedy selaku koordinator Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith and Peace, Romo Beny Susetyo dari Setara Institute, Juru Bicara Ahmadiyah Indonesia Ahmad Mubarak, serta Sekjend Ahlul Bait Indonesia Ahmad Hidayat, juga turut hadir pembicara. Beberapa delegasi dari Indonesia juga ikut hadir dalam diskusi kebangsaan tersebut.

Dalam kesempatan itu Dr. Suaedy menjelaskan bahwa permasalahan demokrasi di Indonesia adalah adanya korupsi yang merajalela.  Kondisi tersebut mengakibatkan munculnya informal government, dimana keputusan diambil dibawah meja karena pemerintahan tersandera oleh kepentingan dari berbagai pihak termasuk partai politik, pelaku usaha dan kelompok lain yang dianggap berperan dalam mempertahankan status quo.

Romo Beny Susetyo lebih jauh menjelaskan bahwa di era millennium ini ternyata Indonesia belum mampu keluar dari pengaruh feodalisme. Hal ini tercermin dari perilaku para pemimpin yang ingin dilayani dan belum mampu berlaku adil. Romo Beny berpendapat bahwa pemimpin saat ini belum layak disebut pemimpin. Hal itu dikarenakan banyaknya jabatan pimpinan yang diperoleh  melalui cara transaksional.

Menurut Beny, diperlukan adanya penguatan civil society untuk mendukung tokoh-tokoh muda alternatif masuk dalam lingkaran kekuasaan. Penguatan masyarakat sipil ini dimaksudkan agar peristiwa jatuhnya Gus Dur tidak terulang ketika tokoh-tokoh pilihan yang nanti masuk ke pemerintahan.

Acara semakin menarik saat sesi Tanya jawab. Sony Rustiadi yang sedang menempuh program Doktoral Ekonomi di Goldsmith University misalnya mengkritisi bagaimana politik di Indonesia masih belum bisa dilepaskan dari sosok seorang tokoh. Menurutnya sistem tersebut menjadi anomali politik karena bisa berpengaruh terhadap tingkat pemilih dalam pemilu legislatif dimana para calon anggota DPR cenderung kurang dikenal luas oleh masyarakat.

Ahmad Rifai penerima beasiswa Chevening juga turut mengkritisi politik ketokohan. Menurutnya pemimpin yang menjadi media darling seperti Jokowi belum tentu terbebas 100% dari praktik korupsi. Namun yang bagus dari Jokowi adalah dia mampu memunculkan harapan publik. Selain itu, Dr. Ahmad Suaedy dan Romo Beny juga menambahkan bahwa yang baik dari kepemimpinan Jakarta di era sekarang adalah transparansi keuangan, kebijakan yang merakyat dan berani melibatkan civil society dalam setiap kebijakan besar yang akan diambil. (Al Khanif-Mj)

Leave us a Comment