Dirjen PPI : Hutan Lestari, Rakyat Sejahtera

DirjenPPI-1_UNEJ

Jember, 2 Agustus 2017

Kampus Tegalboto mendapatkan kunjungan dari Dr. Nur Masripatin, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (31/7-1/8). Selain menjadi pembicara utama dalam konferensi internasional bertajuk Building of Food Sovereignity through a Sustainable Agriculture (FoSSA) 2017, Dirjen PPI menyempatkan diri mengunjungi Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember, desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) tempat dimana Universitas Jember melaksanakan program rehabilitasi hutan di resort Wonoasri. Program ini mendapatkan dukungan dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID serta TNMB. Ada kesimpulan yang dapat ditarik dari kegiatan kali ini, bagaimana mewujudkan hutan yang lestari, sekaligus menyejahterakan rakyat sekitar.

DirjenPPI-1_UNEJ

Dalam kunjungannya ke Desa Wonoasri (1/8), Nur Masripatin bertemu langsung dengan Kepala Desa Wonoasri beserta perangkat desa, para petani penggarap lahan, serta pihak TNMB yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu, yang membawahi wilayah hutan termasuk yang berbatasan dengan Desa Wonoasri. “Kunjungan Dirjen PPI ini kesempatan berharga, dimana para petani penggarap hutan bisa menyampaikan uneg-uneg-nya, pihak TNMB juga bisa menjelaskan masalahnya sehingga kawan-kawan di Jakarta mendapatkan banyak masukan,” ujar Hari Sulistyoningsih, salah seorang anggota tim program rehabilitasi hutan Universitas Jember yang siang itu menemani kunjungan sekaligus memandu acara.

Dalam sesi diskusi, terungkap masalah yang dialami para petani Desa Wonoasri yang menggarap lahan hutan TNMB.  Mereka mengeluhkan tidak bisa memanfaatkan hasil hutan karena pohon yang ada ternyata tidak berbuah secara maksimal. “Misalnya banyak pohon Kedawung yang tidak berbuah, kalau pun ada jumlahnya sedikit sehingga penghasilan kami berkurang,” keluh Dwi Hadi yang menggarap lahan di lokasi Bonangan VII. Untuk diketahui, para petani penggarap lahan hutan TNMB selama ini diperbolehkan mengambil hasil hutan misalnya berupa buah, namun diwajibkan menjaga pohonnya. Keluhan Dwi Hadi disambung oleh rekannya, Sunyoto, yang mengharapkan agar pohon yang ditanam di lahan garapan adalah pohon yang memiliki nilai ekonomis tinggi. “Kami ingin pohon yang ditanam seperti pohon pete, jengkol atau durian yang memiliki nilai jual tinggi,” ujar penggarap di lahan Bonangan IV ini.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Dasar Wikanto, petani yang juga pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan Konservasi (LMDHK) Wonomulyo. Menurutnya, para petani penggarap hutan sadar jika kelestarian hutan wajib dijaga, namun di sisi lain pemenuhan kebutuhan petani juga tidak bisa menunggu. Oleh karena itu Dasar Wikanto berharap ada kesepakatan baru bersama antara petani dengan TNMB dalam hal pemanfaatan hutan. “Kami ingin agar tanaman yang ditanam di lahan rehabilitasi menyesuaikan dengan kebutuhan petani, selain itu kami mohon bimbingan berupa alternatif teknologi tepat guna dalam memanfaatkan potensi yang ada agar tidak bergantung sepenuhnya kepada hutan,” tuturnya.

Menanggapi permasalahan ini, Nur Masripatin berjanji akan menelisik mengapa banyak pohon yang ditanam di lahan rehabilitasi di TNMB tidak berbuah maksimal. Menurutnya, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan produktivitas pohon tadi menurun. “Bisa saja karena bibitnya kurang bagus, atau karena perawatan yang minim, faktor cuaca seperti kekeringan juga bisa berkontribusi. Namun saya minta agar pohon Kedawung tadi tetap dijaga mengingat sudah besar. Usulan untuk menanam pohon yang secara ekonomis menguntungkan akan kita pertimbangkan,” jelasnya. Namun Dirjen PPI mengingatkan, bahwa secara alami sebuah hutan terdiri dari beragam pohon sehingga menanam satu atau dua jenis pohon tertentu saja bakal menghilangkan ciri khas sebuah hutan. Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam melaksanakan program rehabilitasi hutan. “Prinsipnya hutan wajib kita lestarikan, dan masyarakat sekitar sejahtera,” kata Nur Masripatin.

Seusai berdiskusi, Nur Masripatin menjelaskan jika Direktorat Jenderal yang dipimpinnya memiliki keterikatan erat dengan usaha pelestarian hutan, pasalnya luas hutan di Indonesia makin berkurang. “Hutan menyerap karbondioksida salah satu penyebab perubahan iklim, sekaligus memproduksi oksigen. Untuk itu kami melaksanakan dua program pengendalian perubahan iklim, yakni program mitigasi dan adaptasi,” ungkapnya. Program mitigasi meliputi pengurangan emisi gas kaca, mencegah kerusakan hutan, pegembangan energi terbaharukan serta pengolahan limbah. Sementara program adaptasi difokuskan pada bidang ekonomi dengan menyelaraskan antara  pembangunan ekonomi dengan pelestarian alam. Di bidang sosial, dengan usaha bagaimana agar masyarakat semakin adaptif terhadap perubahan iklim. “Sementara di bidang ekosistem, kita berusaha agar alam tetap lestari dan masyarakat sejahtera,” imbuh Nur Masripatin.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi lahan rehabilitasi di lokasi Bonangan. Sambil melihat dari dekat lahan rehabilitasi, Dirjen PPI mendapatkan penjelasan langsung dari Agus Setiabudi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu. “Problem yang kami hadapi, masih banyak masyarakat yang belum sadar menjaga kelestarian hutan, misalnya saja mengambil daun untuk pakan ternak atau supaya tanaman di bawahnya mendapatkan lebih banyak sinar matahari. Memang pohonnya tidak langsung mati namun tentu saja jadi sulit berkembang,” ujar Agus Setiabudi sambil menunjukkan beberapa pohon yang akarnya tampak sengaja dilukai.

Sambil mengamati kondisi lahan rehabilitasi Bonangan, Nur Masripatin menegaskan bahwa dalam mewujudkan pengendalian perubahan iklim Direktorat Jenderal PPI tidak bisa bekerja seorang diri. “Kami membutuhkan dukungan semua pihak termasuk diantaranya dari kalangan perguruan tinggi seperti Universitas Jember. Kami berharap program rehabilitasi lahan di TNMB yang dilakukan oleh Universitas Jember bakal diikuti oleh kerjasama lain seperti riset, usaha mengarusutamakan perubahan iklim kepada masyarakat serta pemberian pelatihan dan teknologi tepat guna bagi masyarakat sekitar hutan,” kata lulusan University Canterbury, Selandia Baru ini.

Permintaan Nur Masripatin disambut oleh Wachju Subchan, ketua tim peneliti Universitas Jember untuk rehabilitasi hutan TNMB. “Dalam program yang tengah kami jalankan ini, terdapat enam program yang ditujukan untuk merehabilitasi hutan dan memberdayakan masyarakat, harapannya tujuan agar hutan lestari dan masyarakat sejahtera dapat dicapai. Tentu saja kami terbuka dengan kerjasama dalam bidang pengendalian iklim dan rehabilitasi hutan, apalagi kampus Tegalboto ada di daerah Besuki Raya yang memiliki beberapa taman nasional. Universitas Jember juga melaksanakan program KKN yang melibatkan mahasiswa, jadi terbuka kemungkinan untuk mensosialisasikan masalah perubahan iklim melalui KKN tematik,” ungkap Wachju Subchan yang juga Wakil Rektor II Universitas Jember ini. Sebelumnya, Dirjen PPI juga mengikuti kegiatan round table discussion bertema “Resiliensi Perubahan Iklim” bersama para akademisi kampus Tegalboto, terutama yang memiliki kepedulian terhadap perubahan iklim. (iim)

Blog Attachment