Diare Masih Marak, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember Adakan Semarak

Jember, 8 Juni 2016.

Ternyata penyakit diare masih tergolong penyakit yang marak di Indonesia, bahkan penyakit diare menjadi salah satu penyumbang angka kematian anak di Indonesia. Data dan fakta ini menggerakkan lima mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember untuk turun tangan langsung, turut mencegah penyakit diare di kalangan anak-anak. “Data tahun 2013 dari Unicef menyatakan ada 400 anak-anak di Indonesia, khususnya yang berusia dibawah lima tahun yang meninggal per harinya karena penyakit yang semestinya mudah dicegah, seperti penyakit diare. Terutama anak-anak dari golongan masyarakat miskin,” kata Sarah Marsa Tamimi menceritakan kegiatannya bersama kolega sesama mahasiswa FK Universitas Jember, di sela-sela perkuliahan (8/6).

“Sebenarnya diare itu penyakit yang gampang dicegah, semua orang bisa melakukannya asal tahu caranya,” ujar Rosi Tri Wulandari menimpali diskusi. Oleh karena itu Rosi dan Sarah bersama tiga kawan yang lain Anisa Sarfina Junaedi, Maria Ulfa, dan Waskito Septi Aji memfokuskan pada sisi edukasi. Kelimanya menggagas ide Sekolah Menara Kesehatan atau Semarak yang memberikan pendidikan dan pelatihan bagaimana mencegah penyakit diare. “Kami fokus kepada siswa di sekolah dasar, dengan harapan pengetahuan yang mereka terima bisa diingat seterusnya hingga dewasa,” tambah Anisa. Dan kemudian mereka berlima sepakat mendirikan Semarak di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Arrahmah Desa Bangeran, Kecamatan Sukorambi.

Pemilihan MI Arrahmah dilandasi fakta dari keseluruhan siswa yang tidak masuk karena sakit dalam setahun, ternyata 12 persen gara-gara terkena diare. Setelah diteliti, kondisi ini terjadi karena kebanyakan masyarakat Desa Bangeran masih melakukan kegiatan mandi cuci kakus (MCK) di sungai. Hal ini terjadi karena kebanyakan masyarakatnya secara ekonomi tergolong menengah ke bawah, sementara pengetahuan akan sanitasi lingkungan dan hidup sehat masyarakat sekitar masih minim. Masih ditambah dengan akses menuju Desa Bangeran yang sulit, padahal Puskesmas terdekat yakni Puskesmas Sukorambi jaraknya cukup jauh, sekitar 10 kilometer. “Jika ada warga yang sakit, cenderung dibiarkan dengan alasan keterbatasan dana,” tutur Sarah yang mengetahui kondisi Desa Bangeran dari kawan-kawannya di Universitas Jember Mengajar (UJAR). Kebetulan MI Arrahmah adalah salah satu sekolah binaan UJAR.

Selama kegiatan Semarak yang dilaksanakan dari bulan April hingga Mei 2016, Sarah dan kawan-kawan memberikan tiga macam edukasi terkait penyakit diare, pencegahan, penanganan awal dan kesadaran kesehatan lingkungan. Edukasi mengenai pencegahan diantaranya bagaimana menjaga kesehatan badan serta organ pencernaan, perawatan gigi dan pengetahuan akan makanan bergizi. Sementara untuk pencegahan, siswa diajarkan bagaimana membuat oralit sebagai tindakan pengobatan awal terhadap penyakit diare. Kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian, dengan cara mengajarkan siswa untuk menjaga kebersihan rumah dan kelas, terutama menghindari melakukan kegiatan MCK di sungai. “Semua materi kami berikan dengan cara interaktif semisal dengan permainan ular tangga agar mereka tidak jenuh, bahkan kami menciptakan lagu yang isinya bagaimana cuci tangan dan gosok gigi yang benar,” kata Maria Ulfa.

Selama dua bulan pelaksanaan Semarak, banyak pengalaman menarik yang mereka rasakan. Terutama berkaitan dengan akses jalan yang buruk menuju Desa Bangeran. “Apalagi saat hujan, wah perjalanan makin sulit karena jalanan jadi licin. Kami semua pernah jatuh dari motor,” kenang Waskito, satu-satunya pria dalam kelompok. Dalam melaksanakan program-programnya, Semarak mendapatkan bantuan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat sebesar 7,5 juta rupiah, dan bantuan dari Universitas Jember sebesar 1,5 juta rupiah. Tidak hanya menyasar siswa, Semarak juga memberikan sosialisasi mengenai pencegahan penyakit diare kepada warga sekitar, terutama orang tua siswa. (iim)

Leave us a Comment