Dewan Kakao Indonesia: Indonesia Defisit Kakao

DSC_9270-768×511

Jember, 2 November 2018

Prof. Yuli Hariyati peneliti Universitas Jember yang memberikan perhatian pada bidang penelitian Kakao mengaku prihatin dengan kondisi petani Kakao Rakyat. Berdasarkan penelitian yang dia lakukan bersama team Cocoa Inovations and Development Research Group (COINDEV) Universitas Jember, para petani kakao rakyat masih jauh dari hidup sejahtera. Padahal menurutnya biji Kakao merupakan salah satu komoditas eksport dunia.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh para petani kakao rakyat. Karena menurut saya mereka adalah salah satu pejuang devisa yang sesungguhnya. Namun sayangnya mereka justeru belum begitu menikmati apa yang mereka usahakan. Bahkan mereka banyak yang belum pernah minum coklat ataupun mengkonsumsi produk olahan Kakao lainnya seperti coklat yang sering kita nikmati,” kata Prof. Yuli Hariyati dalam acara Cocoa Inovation Gathering di Gedung Kantor Pusat Universitas Jemberm, (2/11).

Dalam acara yang dihadiri oleh para pegiat Kako, peneliti, pemerintah dan petani ini Yuli mengatakan, selama ini COINDEV terus melakukan pendampingan kepada para petani Kakao rakyat. Karena menurutnya, perlu dilakukan pembinaan yang serius agar Kakao yang mereka tanam bisa memberikan peningkakan kesejahteraan ekonomi para petani.

“Bisa jadi ini karena proses dalam perawatan tanaman yang salah sehingga buah yang dihasilkan tidak begitu banyak. Atau bisa juga karena proses pengolahan biji kakao tidak ditangani secara serius sehingga harganya tidak begitu bagus karena kualitas yang rendah. Oleh karena itu kami perlu berikan pendampingan kepada mereka mulai proses tanam hingga proses pemasaran,” lanjut Yuli.

Sementara itu Dr. Ir. Soetanto Abdullah Director of Indonesian Cocoa Board mengatakan, potensi ekonomi Kakao sangat besar. Menurut Tanto, pertumbuhan permintaan terhadap bahan baku berupa biji Kakao berbanding terbalik dengan ketersedian biji Kakao yang diahasilkan oleh petani.

“Setiap tahun di Indonesia terjadi defisit biji Kakao. Pada periode 2015 kapasitas produksi sebanyak 320 ton namun kebutuhannya mencapai 382 ton. Tahun 2016 kapasitas produksi Kakao Indonesia menurun menjadi 290 ton namun kebutuhan biji naik menjadi 455 ton dan pada tahun 2017 lalu hanya dihasilkan 260 ton sedangkan kebutuhan mencapai 476 ton,” papar Tanto.

Lebih jauh Tanto menjelaskan, terjadinya penurunan produksi kakao di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah terjadinya degradasi kesuburan tanah pada lahan Kakao. Usia tanaman Kakao yang ada saat ini pun sudah cukup tua.

“Usia tanaman Kakao kita sudah mencapai 30 tahunan padahal usia produsktifnya hanya kisaran 20-25 tahun saja. Sayangnya hingga saat ini belum ada upaya yang kuat yang dilakukan pemerinta untuk meningkatkan luasan lahan pertanian kakao yang setiap tahun terus mengalami penurunan,” jelas Tanto.

Oleh karena itu menurut Tanto, untuk memenuhi kebutuhan biji Kakao yang setiap tahun semakin meningkat harus melalui mekanisme import. Oleh karena itu menurutnya, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan luasan lahan kakao rakyat.

“Namun walaupun peotensi ekonominya besar tantangannya adalah saat ini terjadi perubahan iklim yang tentunya dapat mengganggu produktifitas tanaman,   suhu semakin naik curah hujan semakin sedikit. hama dan penyakit juga menjadi ancaman bagi petani,” pungkas Tanto.(moen)