Demi Pendidikan Rela Tidak Pulang 12 Tahun

IMG_5639

Jember, 23 Februari 2019

Bagaimana rasanya 12 tahun terpisah dengan keluarga tercinta. Rasa rindu untuk segera bertemu mungkin tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Namun itulah yang dirasakan oleh Anes Kibka salah satu peserta dalam acara wisuda lulusan Program Pascasarjana, Program Sarjana, dan Program Diploma Universitas Jember Periode IV Tahun akademik 2018/2019 di Gedung Soetardjo, (23/02). Anes merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia program afirmasi di Universitas Jember yang berasal dari tanah Papua.

Perasaan senang dan sedih dirasakan oleh Anes. Betapa tidak disaat semua peserta wisudawan ditemani oleh orang tua atau kerabatnya Anes hanya bisa menitipkan kabar kelulusannya kepada keluarga yang saat ini berada di Kampung Kerabut salah satu desa kecil di pedalaman Pegunungan Bintang Papua tempat Anes lahir dan dibesarkan.

“Entahlah apakah kabar itu sampai kepada keluarga saya di Kerabuk atau tidak. Karena tidak ada alat komunikasi yang bisa saya jangkau kesana. Mudah-mudahan kabar kelulusan saya ini sampai pada mereka karena tentu ini akan menjadi kabar yang sangat menyenangkan,” ujar Anes

Walaupun terlahir di desa terpencil tidak membuat semangat, niat serta mimpi Anes untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik luntur. Oleh karena itu, sejak lulus SD dirinya memilih merantau ke Kota Oksibil, kota pusat pemerintahan (ibu kota) Kabupaten Pegunungan Bintang yang amat sangat jauh dari desa dia dibesarkan. Di Oksibil itulah Anes mempertaruhkan harapannya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

“Setelah lulus SD tahun 2007 saya ke Oksibil dan di sana saya ikut orang yang mau menyekolahkan saya. Saya bersyukur karena ada yang mau menerima saya dan menyekolahkan hingga tamat SMA. Walaupun diluar sekolah setiap hari saya harus bekerja di toko orang itu mulai dari menyiapkan barang, ambil barang di bandara dan mengantar barang pesanan orang. Istilahnya saya jadi karyawan namun hanya dibayar dengan makan dan disekolahkan gitu saja,” kenang Anes.

Anes bercerita sejak perantauan itu hingga saat ini dirinya masih belum pernah bertemu atau bercakap secara langsung dengan keluarga di rumah. Jarak yang sangat jauh dan medan yang begitu berat membuatnya memilih untuk tidak pulang. Saat masih di sekolah SMP dan SMA kabar mengenai orang tuanya hanya dia dapatkan dari kawan satu desanya yang kebetulan pulang ke desa.

“Biaya pulang sangat mahal mau bicara lewat telepon pun tidak bisa karena di sana tidak ada jaringan apapun. Saya hanya bisa titip salam pada teman sekolah yang kebetulan pulang kampung. Namun sejak kuliah di Jawa saya tidak pernah lagi mendengar kabar berita keluarga dirumah,” imbuh Anes.

Anes bercerita jika dirinya adalah saudara tertua dari 4 bersaudara. Adik pertamanya saat ini juga sedang menempuh pendidikan program sarjana di kampus lain melalui program yang sama (Afirmasi).

“Tetapi saya tidak tau lagi sekarang adik saya sudah nambah berapa orang. Bisa jadi sudah ada 2 adik baru saat saya pulang ke Papua nanti. Saya senang sekali karena adik pertama saya juga sedang kuliah mudah-mudahan adik yang lain melakukan hal yang sama” lanjut Anes sembari tertawa.

Menjadi seorang guru adalah cita-cita yang telah lama dia impikan. Mengingat kebutuhan tenaga guru di Papua masih sangat besar. Anes bertekad ingin membangun papua melalui jalur pendidikan.

“Bagaimana mungkin Papua mau maju jika dalam satu sekolah gurunya hanya 3 sampai 4 orang saja. Oleh karena itu saya berharap bisa berperan memajukan Papua melalui jalur pendidikan. Karena saya yakin pendidikan bisa merubah Papua,” lanjut Anes.

Untuk menjemput mimpi menjadi seorang guru, dirinya rela selama 12 tahun tidak melihat dan bercakap-cakap dengan keluarga. Harapan itu pun kini bukan sekedar mimpi lagi dan Anes merasa sangat bersyukur atas apa yang telah dia raih.

“Bersyukur sekali karena saya bisa lulus dengan baik. Saya berkeinginan setelah ini bisa lanjut pada jenjang Pascasarjana. Saya sudah menghadap pimpinan dan dijanjikan akan mendapatkan kemudahan dalam pembiayaan,” pungkas Anes.