Dana-Dani, Si Kembar Yang Diwisuda Bareng

Kembar_UNEJ

Jember, 23 Mei 2017

Ada yang menarik di saat upacara wisuda Universitas Jember periode V tahun akademik 2016/2017 yang digelar hari Sabtu (20/5) di Gedung Soetardjo kampus Tegalboto. Pada saat Master of Ceremony (Mc) bersiap-siap memanggil nama wisudawan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk dikukuhkan oleh rektor, ternyata dalam daftar ada dua nama yang hampir sama, Febriyana Laksmi Kusuma Wardhana di nomor 38, dan Febriyani Laksmi Kusuma Wardhani yang duduk di nomor 39. Takut terjadi salah terima ijazah, panitia lantas memeriksa langsung deretan para wisudawan FKIP. Dan ternyata, bukan salah ketik nama, yang ada malahan wisudawan kembar. Yah baru kali pertama ini dalam sejarah wisuda Universitas Jember ada wisudawan kembar.

“Sejak TK hingga SMA kami selalu satu sekolah, bahkan saat memilih kuliah pun kami memilih program studi yang sama, yakni Program Studi Pendidikan Luar Sekolah FKIP Universitas Jember,” ungkap Febriyana Laksmi Kusuma Wardhana, yang biasa dipanggil Dana sambil diiyakan sang adik, Febriyani Laksmi Kusuma Wardhani atau Dani. Menariknya lagi, keduanya berhasil lulus dalam jangka waktu yang hampir bersamaan sehingga diwisuda pada periode yang sama. “Alhamdulillah kami bisa diwisuda bersama-sama,” timpal Dani yang lahir lima belas menit lebih lambat dari sang kakak.

Putri ketiga dan keempat pasangan Sunaryo dan Suwartiningsih ini lantas menceritakan suka dukanya menjadi pasangan kembar yang berkuliah di jurusan yang sama. “Kadang-kadang dosen suka bingung membedakan kami, begitu pula kawan-kawan yang baru kenal. Dukanya jika berjalan berdua, kami suka diperhatikan secara berlebihan, malah jadi risih,” tutur Dana yang siang itu memakai jilbab warna kuning, sementara sang adik memakai jilbab warna merah. Kebetulan kembar asal Nganjuk ini memiliki hobi jalan-jalan dan belanja. “Tapi kalau pacar kami masing-masing tentu bisa membedakan kami lho,” seloroh Dani menimpali cerita sang kakak.

Sebagai pasangan kembar, keduanya memang seperti ditakdirkan terhubung secara batin dan fisik. “Jika saya sakit, biasanya tiga hari kemudian Dani bakal sakit juga. Begitu juga sebaliknya. Kami pun selalu saling membantu termasuk saat mengerjakan tugas kuliah dan skripsi,” kata Dana yang meraih IPK 3,41 dengan skripsi tentang manajemen kegiatan Kejar Paket C, sementara Dani yang menggarap skripsi bertema pemberdayaan perempuan mencetak IPK 3,45. Keduanya mengambil lokasi penelitian di Nganjuk. “Sekarang konsentrasi kami selepas lulus sama-sama ingin mencari kerja,” pungkas Dana dan Dani ketika ditanya rencana selepas lulus. (iim)