CHRM2 Universitas Jember Aktif Gelar Berbagai Diskusi Masalah HAM dan Hukum Tata Negara

CHRM2_2_UNEJ

Jember, 4 April 2019

The Center for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember aktif menggelar berbagai diskusi terkait permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum tata negara. Tidak hanya mengundang pembicara kompeten dari dalam negeri, CHRM2 juga menghadirkan pembicara dari luar negeri. Di bulan Maret 2019 lalu, CHRM2 menggelar tiga kegiatan diskusi dengan beragam topik. Mulai dari yang membahas hukum tata negara di Australia, kaitan antara keberadaan perusahaan multi nasional dengan HAM, hingga masalah LGBT.

Menurut Al Khanif, ketua CHRM2 Universitas Jember, kegiatan diskusi rutin ini digelar dalam rangka menggali informasi dan menambah khazanah pemahaman peneliti di CHRM2 beserta para dosen dan mahasiswa pemerhati masalah HAM dan hukum tata negara di Kampus Tegalboto. “Kami menghadirkan pakar hukum Australia, Elizabeth Kramer dari University of Sidney, Stefanus Mere dari Nanzan University Nagoya Jepang, serta aktivis Ogawa,” tutur Al Khanif. Berikut beberapa diskusi yang telah digelar oleh CHRM2.

Pada hari Selasa pagi, 12 Maret, CHRM2, Universitas Jember, dan fakultas hukum menyambut Dr. Elisabeth Kramer dari Sydney Southeast Asia Centre at the University of Sydney di Australia. Dr. Kramer bergabung dengan kelas Hukum Konstitusi Muhammad Bahrul Ulum dan mempresentasikan tentang Konstitusi Australia, Politik, dan Proses Pemilihan. Mahasiswa sarjana dan dosen dari berbagai fakultas akademik menghadiri acara tersebut. Selama presentasinya, Dr. Kramer mendorong diskusi yang bermanfaat sambil menjawab pertanyaan tentang isu-isu yang berkaitan dengan topik seperti, kesetaraan gender, kebijakan pajak, dan hak-hak minoritas. Peserta belajar dan berbagi sambil membandingkan sistem politik Australia dan Indonesia, masalah topikal, dan pemilihan umum yang akan datang. Setelah ceramah, Dr. Kramer dan ayahnya disambut di kantor CHRM2 dengan camilan dan makan siang tradisional Indonesia. Kemudian, mereka menghadiri museum tembakau Jember.

Pada tanggal 19 Maret, The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) bermitra dengan Pluralism and Asian Legal Studies (PALS), sebuah pusat penelitian di bawah Fakultas Hukum Universitas Jember. Kedua pusat penelitian bersama-sama menyelenggarakan seminar tentang Corporate Due Diligent dan Complicity dengan Dr. Stefanus Mere di Fakultas Hukum Universitas Jember. Stefan adalah dosen dan peneliti di Universitas Nanzan di Jepang.

                Stefan menjelaskan pentingnya prinsip uji tuntas dan keterlibatan bagi perusahaan besar ketika melakukan bisnis. Kedua prinsip tersebut terdiri dari mekanisme yang mengharuskan korporasi untuk menghormati hak asasi manusia terutama bagi orang-orang yang terlibat dengan bisnis mereka dan juga orang yang bekerja dengan mereka. Meskipun prinsip-prinsip ini tidak mengikat secara hukum, korporasi harus mematuhinya untuk menghormati hak asasi manusia dan melakukan bisnis perdagangan yang adil. Di banyak negara maju, seperti Eropa Barat dan Amerika Utara, beberapa orang sudah tahu bagaimana “dirty business and sweating factories” memperlakukan karyawan mereka. Orang biasanya memprotes praktik ini dengan memboikot produk. Misalnya, Perusahaan Caterpillar AS, yang memproduksi mesin-mesin berat, diboikot oleh sebagian besar organisasi hak asasi manusia karena perusahaan itu menjual buldoser ke Israel dan membunuh Rachel Corrie, seorang warga negara hak asasi manusia AS yang memprotes penghancuran sebuah rumah di wilayah Palestina.

CHRM2 dan PALS berharap bahwa semua mahasiswa yang menghadiri seminar sekarang akan memiliki inisiatif untuk bekerja pada aktivisme hak asasi manusia secara lokal di Jember. Sebagai contoh, mahasiswa Universitas Jember diharapkan menjadi pelanggan yang baik dan menyadari produk yang memenuhi standar hak asasi manusia selama produksi.