Bulan Juni Hingga Desember, Waktu Yang Paling Baik Buat Sapi Kawin

SarasehanPeternakanUNEJ-1-768×512

Bondowoso, 28 Juli 2018

            Dunia peternakan Indonesia, khususnya peternakan sapi menghadapi dua permasalahan utama, yakni rendahnya angka reproduksi, dan rendahnya bobot sapi yang dihasilkan. Untuk mengatasi problema rendahnya angka reproduksi, Prof. Dennis Poppi, guru besar peternakan asal Queensland University, Australia, menawarkan solusi mengatur masa kawin sapi pada bulan Juni hingga Desember di tiap tahunnya. Dengan mengatur masa kawin sapi di bulan Juni hingga Desember, maka diperkirakan anak sapi bakal lahir di sekitar bulan Maret hingga Agustus. Saran ini disampaikan saat Prof. Dennis Poppi menjadi pemateri dalam kegiatan sarasehan peternakan dengan tema Meningkatkan Produktivitas Ternak Yang Berkelanjutan Dalam Rangka Mendukung Ketersediaan Protein Hewani dan Kedaulatan Ternak, di Universitas Jember kampus Bondowoso (28/7).

            “Dengan pengaturan masa kawin sapi, maka diharapkan induk sapi akan mampu melahirkan sapi tiap tahunnya. Pasalnya ada waktu bagi induk sapi untuk memulihkan diri karena anak sapi sudah siap disapih. Apalagi selepas bulan Agustus sudah mulai memasuki musim hujan dimana pakan lebih mudah diperoleh, sehingga induk dan anakan sapi mendapatkan pakan yang baik,” ujar guru besar di School of Veterinary Science, Queensland University ini. Kegiatan sarasehan digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember, bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso. Selain menggelar sarasehan, panitia juga mengadakan Kontes Sapi bertajuk Festival Ternak Poncogati yang diadakan selama dua hari, 28 dan 29 Juli 2018 di Universitas Jember kampus Bondowoso.

          Sementara untuk meningkatkan bobot sapi, Prof. Dennis Poppi menganjurkan pemberian pakan tambahan selain pakan utama berupa rumput. “Indonesia memiliki banyak pakan alternatif yang mampu meningkatkan bobot sapi, antara lain lamtoro, turi hingga singkong. Jadi tidak perlu pakan tambahan yang harganya mahal apalagi impor,” ujar pakar peternakan yang kerap melakukan kerjasama penelitian dengan koleganya di Indonesia ini. Dari penelitian yang dilakukannya, sapi yang hanya diberi rumput hanya bertambah bobotnya 193 gram perhari. Sementara sapi yang diberi pakan rumput dan lamtoro bobotnya bertambah 336 gram perhari, bahkan jika sapi diberi pakan rumput, lamtoro, dan bungkil kelapa atau singkong akan bertambah beratnya 558 gram perhari.

“Saat ini saya sudah melakukan penelitian dengan Prof. Achmad Subagio yang pakar singkong, dan Tanda Panjaitan dari Badan Penelitian Teknologi Peternakan Kementerian Pertanian, Nusa Tenggara Barat, untuk mencari formula komposisi pakan sapi yang ideal agar bobot sapi dapat maksimal. Salah satu hasilnya adalah pemberian singkong dalam bentuk gaplek idealnya 40 persen dari keseluruhan pakan sapi. Jika umumnya sapi siap dijual pada usia tiga setengah tahun, harapannya dengan pemberian pakan alternatif maka sapi akan siap dijual pada usia dua setengah tahun saja,” jelas Prof. Dennis Poppi. Hadir pula dalam sarasehan, Tanda Panjaitan yang memaparkan potensi lamtoro sebagai pakan tambahan bagi sapi. Sementara Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso diwakili oleh drh. Irwan Sandy, Kepala Bidang Kesehatan Hewan.

Sebelumnya dalam sambutan pembukaannya Prof. Achmad Subagio, Ketua LP2M Universitas Jember menyampaikan, kegiatan sarasehan bertujuan mensosialisasikan hasil-hasil penelitian yang dihasilkan, khususnya di bidang peternakan kepada pemangku kebijakan dan peternak di Bondowoso khususnya, serta wilayah Besuki Raya pada umumnya. “Kita pilih di Bondowoso mengingat sapi adalah satu potensi unggul yang ada di sini, Bondowoso adalah barometer ternak sapi di Indonesia. Harapannya, manfaat penelitian akan dirasakan nyata oleh Pemkab Bondowoso dan para peternak. Selain tentu saja mempopulerkan keberadaan Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember yang berkampus di Bondowoso,” pungkas pakar tepung singkong ini. (iim)