Budidaya Semut Rang-Rang Miliki Prospek Cerah

RangRang-1_UNEJ-435×280

Jember, 8 Januari 2017

Ternyata budidaya semut rang-rang atau semut angkrang (kroto) memiliki prospek yang cerah. Saat ini di Jember saja kebutuhan kroto atau telur semut angkrang untuk pakan burung berkicau ditaksir mencapai 250 kilogram perhari. Bahkan permintaan kroto ini makin besar di kota besar semisal Jakarta yang mencapai 1.500 kilogram perhari. Dengan harga rata-rata satu ons kroto mencapai 12 hingga 14 ribu rupiah, bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bakal didulang, sayangnya hingga saat ini peternak semut rang-rang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya karena minimnya peternak. Oleh karena itu potensi budidaya semut rang-rang masih terbuka lebar.

Peluang ini disampaikan oleh Sigit Prastowo, dosen Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Budidaya dan Potensi Usaha Ternak Semut Rang-Rang (Kroto) bagi petani di Desa Wonoasri, hari Minggu lalu (7/1). “Budidaya semut rang-rang tidak memerlukan modal besar, lokasi budidaya pun bisa di rumah, sementara pakan juga mudah sehingga cocok bagi usaha sampingan petani,” jelas Sigit Prastowo dihadapan 25 orang petani yang umumnya penggarap lahan reboisasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

Untuk diketahui pelatihan ini adalah salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh Universitas Jember dalam rangka  pelaksanaan program Pengelolaan Kawasan Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri Melalui Pengembangan Desain Demonstrasi Plot Dengan Prioritas Jenis Tanaman Yang memiliki Fungsi Penutupan Lahan Sepanjang Tahun yang mendapatkan pendanaan dari ICCTF, Bappenas, Kementerian LH dan Kehutanan, serta TNMB. Selain memberikan pelatihan budidaya semut rang-rang, para peneliti Kampus Tegalboto telah memberikan pelatihan pembuatan jamu, budidaya jamur dan kegiatan produktif lainnya. “Harapannya, para petani mendapatkan tambahan penghasilan, sehingga tidak lagi merambah TNMB. Bahkan jika ditekuni, budidaya semut rang-rang bisa mendatangkan untung cukup besar,” kata Wachju Subchan, koordinator program.

Selain mendapatkan materi dari kalangan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Pertanian, para petani Desa Wonoasri juga berkesempatan untuk melakukan praktek di bawah bimbingan peternak semut rang-rang asal Desa Jambesari Kecamatan Mumbulsari, Bapak Anang. “Selama ini saya kewalahan melayani permintaan kroto, bahkan sarang semut rang-rang yang belum waktunya dipanen pun dibeli, sebab saat ini boleh dikata di Jember tinggal saya yang terus berusaha di bidang budidaya semut rang-rang,” ujar pria yang akrab dipanggil Anang Kroto ini. “Selama masih banyak penggemar burung berkicau dan penyuka mancing, kroto tetap dibutuhkan,” imbuh peternak yang kini menuai hasil dari ketekunan merawat semut rang-rang dari tahun 2014 ini.

Sementara itu peluang menambah penghasilan melalui budidaya semut rang-rang disambut hangat oleh petani Desa Wonoasri, seperti yang disampaikan oleh Bapak Tego, Bapak Tamim, dan Bapak Sugianto yang ketiganya terpilih sebagai petani percontohan budi daya semut rang-rang. “Setelah memperhatikan dari penjelasan dan cara beternak semut rang-rang yang telah diberikan, kami rasa cukup mudah dilakukan dan tidak menyita waktu, dapat dikerjakan di sela-sela bertani,” ujar Bapak Tego. Pendapat Bapak Tego didukung oleh Luh Putu Suciati, salah seorang peneliti Universitas Jember. “Sebagai langkah awal kami membantu memberikan modal dan perlengkapan budidaya semut rang-rang bagi empat petani di empat kelompok tani, mereka kami harapkan jadi contoh sehingga akan diikuti oleh petani lainnya. Selama budidaya akan kami dampingi terus hingga berhasil,” pungkasnya. (iim)