Bikin Kopi Luwak Artifisial, Trio Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Sabet Gold Medal di Taiwan

thp_unej-620×279

Jember, 22 Desember 2016

THP2Binar kebanggaan jelas terpancar dari wajah Tri Angga Maulana, M. Ali Firdaus dan Bagas Rizky Aldiano saat diterima oleh rektor Universitas Jember, Moh. Hasan di ruang kerjanya hari Selasa sore lalu (21/12). Trio mahasiswa program studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian ini patut berbangga karena mendapatkan apresiasi langsung dari rektor selepas menyabet gold medal dalam ajang “Kaohsiung International Invention and Design Expo” yang diselenggarakan di kota Kaohsiung, Taiwan, pada 9 hingga 11 Desember 2016 lalu. Tidak hanya menyabet gold medal, duta kampus Tegalboto ini meraih tiga special award dari Kanada, Polandia, dan Macau atas kreasi mereka membuat kopi luwak artifisial.

Dalam pertemuan tersebut, selain memberikan apresiasi atas karya mereka, rektor Universitas Jember berjanji mendukung pengembangan kopi luwak artifisial yang mereka ciptakan. “Kopi luwak artifisial karya Angga, Ali dan Bagas ini memiliki prospek untuk dipasarkan sebagai produk unggulan, oleh karena itu Universitas Jember bersedia memberikan dukungan dana untuk penelitian lanjutan, atau produksi dan pemasaran,” jelas Moh. Hasan. Rektor berharap agar penemuan Trio mahasiswa THP ini dapat menjadi pemicu bagi mahasiswa Tegalboto lainnya untuk berkreasi.

            Ditemui selepas bertemu rektor, Angga menceritakan jika kopi luwak artifisial buatan mereka sebenarnya bukan yang pertama. “Namun yang membedakan kopi luwak artifisial kreasi kami dengan yang lain adalah pada kadar cita rasa dan aromanya. Dari tes cita rasa dan aroma yang dilakukan oleh Pusat Kopi dan Kakao Jember, kopi luwak artifisial kami mendapatkan nilai 85,25. Sementara nilai cita rasa dan aroma kopi luwak yang asli adalah 86, jadi kopi buatan kami sudah mirip dengan kopi luwak asli,” jelas Angga lagi. Bermodal hasil tes cita rasa dan aroma ini, Angga dan kawan-kawan memutuskan mengikuti Kaohsiung International Invention and Design Expo.

            Kaohsiung International Invention and Design Expo adalah kegiatan tahunan yang dimotori oleh World Invention Intellectual Property Association (WIIPA). Event ini bertujuan untuk mengangkat hasil-hasil temuan baru ke level internasional, meningkatkan kerjasama antara penemu, membantu paten temuan baru, serta mendorong kaum muda khususnya kalangan mahasiswa untuk aktif melakukan penelitian yang dapat menghasilkan penemuan baru.

Organisasi WIIPA sendiri kini beranggotakan 23 negara di dunia termasuk Indonesia. Tercatat 26 negara ikut ambil bagian dalam ajang Kaohsiung International Invention and Design Expo. Tahun ini Indonesia mengirimkan enam tim yang berasal dari Universitas Jember, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mercu Buana Jakarta (2 tim), dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (2 tim).  Kali ini ada tiga kategori yang dilombakan, yakni temuan baru di bidang pertanian, kesehatan dan kendaraan bermotor. Angga, Ali dan Bagas turun di kategori pertanian.

Anggota Trio THP lainnya, M. Ali Firdaus kemudian menceritakan asal mula bagaimana sampai mereka menemukan dan mengembangkan kopi luwak artifisial. “Proyek ini berawal dari fakta bahwa ada pro kontra terhadap produk kopi luwak. Penyayang hewan tidak setuju karena luwak dipaksa untuk makan kopi, ada juga yang meragukan kebersihan dan kehalalan kopi luwak. Di lain sisi harga kopi luwak sangat menjanjikan sehingga banyak yang mengusahakan,” kata mahasiswa asli Sidoarjo ini. Angga, Ali dan Bagas kemudian mulai meneliti kemungkinan membuat kopi luwak artifisial sambil berkonsultasi dengan dosen-dosennya. “Dari hasil penelitian, kami mencoba menemukan cara mengolah kopi hingga cita rasa dan aromanya bisa semirip mungkin dengan kopi luwak yang asli. Kuncinya bagaimana meniru kondisi lambung luwak saat mencerna kopi,” tambah Ali lagi.

Akhirnya setelah meneliti selama kurang lebih lima bulan, ketiganya menemukan formula bagaimana menciptakan kopi luwak artifisial. “Alhamdulillah kami menemukan formula bagaimana cara membuat kopi luwak artifisial. Resepnya tergantung pada tiga hal, yakni suhu saat menggoreng, pemberian enzim protease yang tepat, serta pengadukan yang pas. Semuanya kami tiru dari kondisi lambung luwak saat mencerna kopi,” kali ini Bagas yang menjelaskan. “Tapi mohon maaf, kami tidak bisa membuka resepnya karena akan kami patenkan dahulu,” tambah Bagas yang juga mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi.

Awalnya, temuan mereka bakal diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti, sayang karya mereka belum mampu masuk ke babak final. Tidak mau patah arang, ketiganya kemudian memutuskan untuk mengikuti ajang Kaohsiung International Invention and Design Expo. “Ternyata juri dan perwakilan negara anggota WIIPA mengapresiasi temuan kami, hingga diganjar gold medal dan special award dari tiga negara anggota WIIPA,” kata Bagas yang bersama dua koleganya menuliskan hasil temuannya dalam makalah berjudul “Kolutan (Kopi Luwak Buatan) An Artificial Civet Coffee”. Selain mempresentasikan makalah, mereka bertiga juga mempertontonkan video cara pembuatan kopi luwak artifisial serta membawa kopi bubuk Kolutan di booth Indonesia saat expo.

“Sebenarnya banyak pengunjung yang tertarik ingin minum kopi buatan kami, sayangnya kami tidak membawa alat untuk memasak kopi,” tambah Ali. Ke depan, ketiganya ingin melakukan penelitian mengenai kopi luwak artifisial agar hasilnya lebih sempurna. “Selain ingin membakukan SOP pembuatan Kolutan, kami ingin menjajaki pembuatan Kolutan dalam skala rumah tangga dan mencari pemasok kopi yang tepat,” jelas Angga yang bersama dua kawannya kesulitan mencari makanan halal hingga hampir setiap malam makan mie instan bekal dari Indonesia. (iim)

Leave us a Comment