Beton Dari Batok Kelapa Dan Sekam Padi, Antar Tim Sipil FT Universitas Jember Juara 2 di Universitas Negeri Malang

Jember, 5 Oktober 2016

Logawa1

Tiga serangkai Elvira Fidiana, Anggraini Sulistiyowati, dan Bellian Arix Arifin mahasiswa jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember berhasil meraih juara dua dalam ajang lomba beton nasional, The 1st Green Concrete Competition, yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Negeri Malang (1/10). Dalam kompetisi bertemakan Inovasi  Agregat Ringan Sebagai Material Penyusun Beton Ringan Struktural, Ekonomis dan Ramah Lingkungan, arek-arek Kampus Tegalboto  memanfaatkan limbah pertanian berupa batok kelapa dan abu sekam padi sebagai materi penyusun beton.

“Kami sengaja menggunakan campuran limbah pertanian dan perkebunan sebagai materi pembuat beton karena banyak terdapat di Jember. Di desa Jenggawah kami menemukan banyak sekali limbah berupa batok kelapa, sementara di desa Kertosari banyak pengusaha batubata yang menghasilkan limbah abu sekam padi,” tutur Elvira yang didampingi kedua rekannya saat ditemui di kampus Fakultas Teknik (5/10). Mahasiswi berjilbab ini kemudian menjelaskan, tempurung kelapa bisa dijadikan sebagai pengganti kerikil batu pecah dalam pembuatan beton. Sementara abu sekam padi bisa digunakan sebagai bahan campuran semen.

Dalam proses pembuatannya, batok kelapa dihancurkan hingga berukuran 10 dan 20 milimeter sebagai agregat kasar, sedangkan abu sekam padi berfungsi sebagai agregat halus. Pemakaian batok kelapa dalam pembuatan beton ini dimaksudkan untuk mengganti kerikil batu pecah, sementara pemakaian abu sekam padi mampu mengurangi pemakaian semen, sehingga ongkos produksinya lebih murah. “Walaupun menggunakan materi batok kelapa dan abu sekam padi, beton ini memiki kekuatan yang baik sehingga dapat digunakan sebagai kolom pada bangunan berlantai satu. Dan yang penting aplikasi pembuatannya mudah serta ramah lingkungan,” tambah Anggraini.

Tidak hanya sesuai dengan standar pembuatan yang ada, beton berbahan batok kelapa dan abu sekam padi karya mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember  juga murah. “Setelah kami hitung, beton karya kami bisa menekan biaya pembangunan rumah hingga 30 persen, jadi seandainya anggaran biaya membuat rumah adalah 100 juta rupiah maka kita bisa hemat sampai 30 juta,” jelas Bellian, satu-satunya cowok di tim.

Saat babak final digelar, ada tujuh tim yang diuji. Dan ternyata performa beton karya mahasiswa kampus Tegalboto tidak mengecewakan. Dalam uji tekan, beton karya tim Logawa Syajaah ini mampu menahan kuat tekan hingga 11 MPa. “Beton kami hanya kalah di uji tekan dari beton karya kawan-kawan dari ITS Surabaya yang menjadi juara pertama. Beton karya Tim ITS mampu menahan tekanan hingga 20 MPa,” ungkap Elvira. Sementara juara ketiga diraih oleh tuan rumah, Universitas Negeri Malang.

Elvira dan kawan-kawan berharap, beton karya mereka dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Jember, pasalnya materi penyusun beton sangat melimpah di Jember. Ditambah kemudahan dalam cara membuatnya. “Kami berencana menyosialisasikan beton karya kami kepada masyarakat, sembari memperbaiki kelemahan yang ada,” pungkas Elvira yang diiyakan kedua rekannya. (mun/iim).

Leave us a Comment