Bertarung Dengan 11 Ribu Pesaing, Nur Karim Berhasil Jadi Juara III Pertamina Olimpiade Sains 2016

Jember, 28 November 2016

Karim3Mahasiswa Kampus Tegalboto kembali menorehkan prestasi tingkat nasional dalam kancah kompetisi bidang ilmu-ilmu dasar. Kali ini Nur Karim, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), meraih juara III dalam Pertamina Olimpiade Sains 2016 untuk kategori teori Fisika. Dalam babak final yang diselenggarakan di kampus Universitas Indonesia (20-25/11), Nur Karim berhadapan dengan lima finalis lain yang berasal dari ITB Bandung, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Mataram dan Universitas Jambi. Pertamina Olimpiade Sains 2016, diikuti oleh 11 ribu peserta yang berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Sebelumnya, Mohammad Rosyadi Adnan, mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), juga berhasil meraih medali perunggu untuk cabang Biologi dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) 2016, yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di Jakarta, bulan Mei lalu. Untuk diketahui, di Indonesia ada dua ajang bergengsi kompetisi ilmu-ilmu dasar di tingkat perguruan tinggi, yakni ON MIPA yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti, dan Pertamina Olimpiade Sains, yang didukung oleh Pertamina. Pertamina Olimpiade Sains 2016 melombakan dua kategori besar, kategori teori untuk Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia, serta kategori proyek sains.

Namun perjalanan Nur Karim masuk ke babak final harus dilalui dengan penuh perjuangan. “Seleksi dimulai awal bulan Oktober dengan cara online. Peserta harus menjawab 20 soal yang sifatnya open book dalam waktu satu jam. Alhamdulillah saya terpilih sebagai yang terbaik, dan berhak maju ke babak final mewakili regional enam yang meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk kategori teori Fisika,” tutur Nur Karim. Ternyata mahasiswa Bidik Misi yang masuk ke Kampus Tegalboto di tahun 2012 ini sudah sering mengikuti kejuaraan serupa. “Saya juga ikut dalam ajang ON MIPA 2016 lalu, sayang belum beruntung,” tambahnya.

Dengan persiapan yang lebih matang, mahasiswa asal Jepara ini kemudian menuju Jakarta. Babak final dilaksanakan dalam dua tahap, yakni tahap menyelesaikan soal berbentuk essay yang diikuti oleh sebelas peserta,  dan babak presentasi. “Di babak essay, setiap peserta dituntut untuk menyelesaikan empat soal dalam jangka waktu dua jam. Soal-soal yang diberikan meliputi mekanika klasik, mekanika kuantum, termodinamika, dan elektrodinamika,” jelas Nur Karim. Dari sebelas peserta, tersisa enam peserta yang masuk ke babak presentasi, termasuk Nur Karim.

Di babak grand final, Nur Karim mempresentasikan karya tulis ilmiah berjudul “Gelombang Laut Sebagai Sumber Energi Alternatif”. Pihak Pertamina sebagai penyelenggara sengaja memilih tema yang berkaitan erat dengan energi yang merupakan bisnis utamanya. Kali ini enam peserta diberikan tiga tema yaitu mengenai arus laut, pasang surut laut, dan gelombang laut. “Dalam karya tulis yang saya buat, saya berusaha untuk memberikan solusi untuk sumber energi alternatif di masa depan, walau memang belum sempurna benar,” kata penghobi basket ini. Akhirnya Nur Karim berhasil menyabet juara ketiga, sementara juara satu dan dua diraih oleh utusan dari ITB Bandung.

Kesuksesan Nur Karim meraih juara III Pertamina Olimpiade Sains 2016, memberikan bukti nyata bahwa program Bidik Misi yang memberikan beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, berjalan dengan baik. “Saya berharap keberhasilan Nur Karim ini bakal diikuti oleh mahasiswa Bidik Misi lainnya. Buktikan bahwa mahasiswa Bidik Misi benar-benar mampu berprestasi,” harap Zulfikar, Wakil Rektor I Universitas Jember. Untuk diketahui, di tahun 2016 ini, Universitas Jember menerima 1000 mahasiswa melalui program Bidik Misi.

Di lain sisi, keberhasilan menjadi juara III dalam Pertamina Olimpiade Sains 2016 membuka masa depan yang lebih cerah bagi Nur Karim, pasalnya anak bungsu dari tujuh bersaudara putra almarhum Muhadi dan almarhumah Piati ini, mendapatkan tawaran bekerja di Pertamina selepas lulus nanti. “Saya masih berkonsentrasi menyelesaikan kuliah dulu, inginnya sih meneruskan studi ke jenjang strata dua karena saya bercita-cita menjadi dosen,” kata Nur Karim lagi. (iim)

Leave us a Comment