Belajar Kebijakan Pertanian Terintegrasi Dari Korea Selatan

KulUmLee-2-768×512

Jember, 2 November 2018

      Apakah hubungan antara merk magic jar Yong Ma, kimchi, K-Pop dan pertanian Korea Selatan ? Magic jar merk Yong Ma adalah salah satu produk penanak nasi yang populer di Indonesia, kimchi makanan khas Korea, sementara K-Pop adalah produk budaya populer Korea Selatan berupa lagu dan film yang digemari banyak orang, termasuk kalangan muda di Indonesia. Sekilas memang tidak ada hubungan langsung diantara diantaranya, tapi jika ditelisik lebih jauh ternyata ada satu hal yang menghubungkan kesemuanya, yakni kebijakan pertanian yang terintegrasi. Penjelasan ini disampaikan oleh Prof. Lee Won Young, dari Kyungpook National University (KNU) Korea Selatan saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Program Studi Magister Bioteknologi Universitas Jember di aula lantai 3 gedung Pascasarjana (2/11).

Menurut Prof. Lee Won Young, pemerintah Korea Selatan serius mengembangkan sektor pertanian, dibuktikan dengan membuat kebijakan pertanian yang terintegrasi. “Pemerintah Korea Selatan menetapkan daerah khusus dimana dalam satu wilayah terdapat lahan pertanian, pabrik pemrosesan hasil pertanian, beserta fasilitas pendukung yang dilengkapi fasilitas pemasaran. Jadi contohnya, kami tidak hanya memproduksi beras saja, tapi beras yang unik misalnya mengandung betakaroten dengan bioteknologi yang dikemas dengan baik. Tidak hanya mampu menghasilkan beras, kami juga membuat penanak nasinya juga, yang kemudian dipasarkan oleh bintang-bintang K-Pop. Mereka inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran produk Korea Selatan, termasuk mempopulerkan kimchi juga. Kini Korea Selatan memasuki tahapan pertanian yang dikenal sebagai era masyarakat industri pertanian yang keenam,” jelas pria yang sehari-harinya mengajar di  School of Food Science Biotechnology, KNU.

Namun buru-buru Prof. Lee Wo Young menambahkan, keberhasilan Korea Selatan mengembangkan pertanian hingga seperti saat ini melalui proses yang panjang. Dimulai pada dekade tahun 1960-an, kemudian pada dekade 1970-an muncul perusahaan swasta yang mulai terlibat dalam mekanisasi bidang pertanian, yang dilanjutkan dengan periode tahun 1990-an dengan modernisasi pertanian, serta dekade 2010-an yang mulai memasuki era internet of things (IoT) dalam pertanian. “Saya melihat Indonesia juga memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan pertanian, asal memiliki komitmen membuat kebijakan pertanian yang baik, apalagi didukung oleh sumber daya alam, dan ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah,” imbuhnya.

Penjelasan guru besar di bidang pemrosesan pangan ini memantik diskusi hangat, salah satunya pertanyaan dari Sony Sisbudi Harsono, dosen Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Sony menanyakan bagaimana pemerintah Korea Selatan mengedukasi para petaninya ? Menurut Prof. Lee Won Young, salah satu caranya adalah pemerintah Korea Selatan bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan bagi petaninya. “Seperti kami di KNU memiliki akademi petani yang memberikan banyak pelatihan, serta meneruskan berbagai informasi dan kebijakan yang diputuskan pemerintah Korea Selatan di bidang pertanian,” jawabnya.

Penjelasan Prof. Lee Won Young mendapatkan dukungan dari Prof. Tri Agus Siswoyo, Ketua Program Studi Magister Bioteknologi, Pascasarjana Universitas Jember. Menurutnya, Universitas Jember bakal memfasilitasi para petani di Besuki Raya untuk mendapatkan berbagai pelatihan melalui fasilitas Science Techno Park (STP) di Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember, yang kini masih dalam taraf pembangunan dengan bantuan dari Islamic Development Bank. Kegiatan kuliah umum bertema 6th Order Industry for Agriculture Society Which Related with Korea Policy ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para mahasiswa Program Studi Magister Bioteknologi Universitas Jember. (iim)