Bahasa Indonesia Berpeluang Menjadi Bahasa Internasional Asia

fkip_unej-630x330px

Jember, 22 Maret 2017

Posisi bahasa Indonesia saat ini di wilayah ASEAN patut diperhitungkan. Karena dari 10 anggota ASEAN sedikitnya ada empat negara yang menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini kemudian yang menjadi dasar yang kuat dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional masyarakat ASEAN.

“Dari 500 juta lebih penduduk ASEAN, 300 juta diantarany menggunakan bahasa Indonesia. Ada empat negara Malaysia, Brunai sebagian masyarakat Thailand dan sebagian masyarakat Filipina telah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang harus dikuasai,” ujar Dekan FKIP Prof. Dr. Dafik, M Sc., Ph D. saat membuka acara Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra Dalam Kontek Global di gedung Soetardjo, (22/3).

Namun demikian Prof. Dafik mengatakan,  pendekatan keilmuan dan teknologi perlu juga dilakukan agar penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional Asia tidak hanya sekedar menjadi wacana. Menurutnya, pendekatan ini sangat diperlupan mengingat sedikitnya masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri.

“Dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia tidak lebih dari 15 persen dalam setahun yang suka bepergian ke luar negeri. Ini justeru akan semakin melemahkan persebaran bahasa Indonesia dimasyarakat ASEAN. Berbeda halnya dengan masyarakat Thailand dan Singapore. Mereka datang dan jalan-jalan ke Indonesia tidak hanya dalam hitungan tahun bahkan banyak yang menghahabiskan weekend di Bali,” imbuhnya.

Sementara itu Berthold Damshauser salah satu ahli sastra Indonesia dari Universitas Bonn-Jerman yang seharusnya hadir mengisi seminar berhalangan hadir. Namun Berthold tetap mengirimkan naskah makalah dan dibacakan oleh Mahwi Air tawar selaku asisten pribadi Berthold.

Dalam makalah itu Berthold menyayangkan perilaku masyarakat Indonesia yang justeru melemahkan posisi bahasa Indonsia itu sendiri. Perilaku para petinggi negara yang sering kali menggunakan ungkapan ataupun kutipan dalam bahasa Inggris.

“Perilaku menggunakan kutipan ataupun ungkapan dalam bahasa Inggris itu menjadi teladan yang buruk bagi masyarakat luas. Padahal banyak masiswa kami di Univeristas Bon justeru benar-benar belajar untuk bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar,” ujar Nahwi saat membacakan makalah Berthold.

Dalam makalahnya, Berthold juga mengaku prihatin dengan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan sosial media. Zaman sekarang dalam berkomunikasi di media sosial banyak diwarnai oleh berkurangnya norma kesopanan dalam berkomunikasi.

“Paling sedikit itulah kesan saya kalau melihat komunikasi dalam media yang disebut media sosial tetapi terlalu sering bersifat asosial. Sepertinya, itu juga dampak komunikasi tidak langsung dalam arti tidak bertemu muka dengan muka,” ujar Nahwi lagi.

Berthold berharap, masyarakat Indonesia bisa bersungguh-sungguh dalam mencintai, memiliki, dan membina atau mengembangkan bahasa san sastra Indonesia ke depan.

“Barangkali untuk sementara kita tidak perlu memikirkan ataupun mengharapkan daya saintg bahasa Indonesia secara global. lebih baik kita berupaya agar bahasa Indonesia tetap menjadi tuan di rumah sendiri. Kembangkan cinta masyarakat terhadap bahasa Indonesia dan minat baca generasi muda terhadap karya sastra Indonesia yang bermutu,” ujar Nahwi saat membacakan penutup makalah Berthold.

Leave us a Comment